Tiga Destinasi Tujuan Tokoh PKI Melarikan Diri
JAKARTA - InewsPantura.id_ Tiga Destinasi menjadi tujuan para tokoh PKI melarikan diri. Dalam sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi partai politik komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Dalam perjalanannya, PKI telah melancarkan serangkaian pemberontakan. Pemberontakan yang paling terkenal adalah peristiwa G30S PKI yang menewaskan 6 jenderal dan 1 perwira TNI Angkatan Darat .
Aksi pemberontakan tersebut membuat sejumlah tokoh PKI menjadi buronan. Demi menghindari penangkapan dan gejolak politik, beberapa tokoh PKI memilih kabur keluar negeri.
Dirangkum dari berbagai sumber29/09/2022, Berikut Tiga Destinasi tujuan para tokoh PKI melarikan diri .
1. Filipina
Negara yang menjadi tempat pelarian dari tokoh PKI adalah Filipina. tokoh PKI yang pernah bersembunyi di Filipina adalah Tan Malaka. Tan Malaka hijrah ke Filipina. Di sana, dia bekerja sebagai koresponden surat kabar nasional El Debate. Pekerjaan itu Tan Malaka dapatkan karena bantuan dari pemimpin nasionalis Filipina, Mariano de los Santos dan Jose Abad Santos.
2. Uni Soviet
Uni Soviet adalah negara pertama yang menganut paham sosialisme Marxis. Sebagai negara komunis terbesar, Uni Soviet kerap dijadikan tempat bagi para tokoh PKI untuk berilmu dan memperdalam pengetahuannya mengenai konsep komunis. Muso dan Alimin adalah tokoh PKI yang pernah menginjakkan kakinya di Negara Tirai Besi tersebut. Sebelum kembali ke Indonesia, Muso diberi pendidikan Marxisme-Leninisme dan dilatih untuk menjadi agen komunis internasional di Uni Soviet. Sementara Alimin mengembara sebagai agen komintern.
3. China
Sejak diangkat menjadi Ketua PKI, hidup Tan Malaka selalu dimata-matai oleh Belanda. Karena dianggap berbahaya, Belanda mengasingkan Tan Malaka ke Belanda pada 1922. Dalam masa pengasingannya tersebut, Tan Malaka melalang buana ke berbagai negara untuk bersembunyi, termasuk China. Tan Malaka yang menjabat sebagai wakil Asia Tenggara dalam Kongres Komunis Internasional (komintern) ini sempat singgah di daerah Kanton selama beberapa waktu. Di sanalah dia menulis salah satu karya populernya, Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Buku berbahasa Belanda itu berisi bayang-bayang Tan Malaka tentang konsep negara Indonesia.
Editor : Hadi Widodo