Warga Menolak, Pekerja Bertahan: Polemik Tambang Pasir Batu Gandatapa Banyumas
BANYUMAS, iNewsPantura.id - Aksi penolakan tambang pasir dan batu di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, Sumbang, Banyumas oleh sebagian warga beberapa hari lalu, membuat puluhan penambang menyuarakan jeritan hati mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari sektor ini.
Rio Gondrong (45), seorang pekerja lepas tukang pecah batu mengaku jika keberadaan tambang di Gandatapa bukan sekadar urusan bisnis, melainkan urusan hidup sehari-hari.
Rio sangat terbantu dengan adanya lapangan pekerjaan yang terbuka lebar tanpa syarat yang rumit.
"Manfaatnya banyak sekali, terutama mengurangi pengangguran. Di sini siapa pun bisa masuk kerja. Kalau tidak ada tambang ini, saya harus luntang-lantung cari kerja ke sana-kemari," ujar Rio.
Rio membeberkan bahwa hasil keringatnya di tambang cukup menjanjikan untuk menghidupi keluarga. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang uang antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000.
Kondisi ini jauh lebih stabil dibandingkan pekerjaannya terdahulu yang tidak menentu.
Senada dengan Rio, Daseno,(35) pekerja lainnya, menyebutkan bahwa ekosistem tambang di wilayah tersebut setidaknya menghidupi 70 hingga 90 orang.
Para pekerja tidak hanya datang dari desa setempat, tetapi juga dari wilayah tetangga seperti Limpakuwus, Kotayasa, hingga Sikapat.
"Kalau ini ditutup, otomatis banyak pengangguran baru. Di sini ada tukang angkut, tukang 'keplak' batu, hingga sopir. Kami merasa terusik dengan aksi penolakan kemarin karena ini menyangkut mata pencaharian harian kami," tegas Daseno.
Meski pendapatan harian bersifat fluktuatif tergantung ramainya pembeli—terkadang hanya Rp 50 ribu hingga Rp 90 ribu di saat sepi—bagi Daseno, yang terpenting adalah adanya penghasilan rutin setiap
Sementara itu, Sunar (50) selaku pengelola dan penanggung jawab tambang, menegaskan bahwa operasional tambang tersebut dilakukan di atas landasan hukum yang kuat dengan perizinan yang lengkap.
Selain dampak ekonomi, ia mengklaim tambang memberikan kontribusi nyata bagi fasilitas publik.
"Warga sekitar banyak yang mendukung karena mereka merasakan manfaatnya. Selain menyerap tenaga kerja lokal, kami juga sering memberikan bantuan material seperti pasir secara cuma-cuma untuk pembangunan mushola atau masjid di lingkungan sini," jelas Sunar.
Ia berharap pihak-pihak yang menolak bisa melihat dari sisi kemanusiaan dan ekonomi kerakyatan yang telah berjalan.
Menurutnya, daerah tapak gunung seperti wilayah Gandatapa dan sekitarnya membutuhkan investasi yang mampu merangkul warga kelas bawah sebagai pekerja.
Hingga berita ini diturunkan, para pekerja berharap ada solusi yang berimbang agar aktivitas penambangan tetap berjalan demi kelangsungan hidup ratusan jiwa yang bergantung di sana.
Sementara itu Bupati Banyumas, Sadewo Trilastiono saat dikonfirmasi terkait perijinan tambang melalui pesan whatsapp menegaskan bahwa tambang tersebut sudah mempunyai izin.
"Sudah ada ijin, _wis tek laporna_ pak Gubernur, Mas. Ijin galian C kewenangan propinsi bukan kabupaten," jelas Sadewo.
Editor : Suryo Sukarno