get app
inews
Aa Text
Read Next : Makan Bergizi Gratis Menyapa Sekolah di Lereng Kendal

Perbaikan Tak Kunjung Datang, Warga Kumpulrejo Was-Was Tanggul Sungai Waridin Jebol Lagi

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:46 WIB
header img
Gotong royong warga perbaiki tanggul yang jebol secara gotong royong. eddie prayitno/iNews

KENDAL,iNewsPantura.id  – Warga Desa Kumpulrejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal masih dibayangi banjir akibat tanggul sungai Waridin yang jebol.

Penutup besi yang menahan tanggul yang jebol hingga kini belum juga mendapat perbaikan permanen. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai, lantaran ancaman banjir terus membayangi di tengah musim penghujan dengan potensi hujan ekstrem.

Belum adanya kepastian penanganan dari pemerintah membuat pihak desa bersama warga memilih bergerak sendiri. Dengan segala keterbatasan, mereka melakukan perbaikan darurat pada tanggul yang rusak agar kerusakan tidak semakin melebar dan membahayakan keselamatan permukiman.

Perbaikan sementara dilakukan dengan memasang rangka dan plat besi di bagian tanggul yang jebol. Struktur tersebut kemudian diperkuat menggunakan karung-karung berisi tanah urugan untuk menahan tekanan arus Sungai Waridin yang sewaktu-waktu bisa meningkat.

Kepala Desa Kumpulrejo, Edy Haryanto, mengatakan langkah tersebut terpaksa diambil karena hingga kini belum ada tindak lanjut konkret terkait perbaikan permanen.

“Kami sudah mengajukan ke BPBD Kendal, bahkan Bupati juga sudah meninjau langsung ke lokasi. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian kapan tanggul ini diperbaiki secara permanen,” tegas Edy.

Menurutnya, penanganan darurat ini dilakukan semata-mata demi keselamatan warga. Jika kerusakan dibiarkan, tanggul dikhawatirkan semakin parah dan memicu banjir sewaktu-waktu, terlebih saat debit sungai meningkat akibat hujan deras.

Saat ini, perbaikan darurat dilakukan sepanjang sekitar empat meter dengan tinggi kurang lebih dua meter.

“Di balik plat besi itu kami isi tanah urugan menggunakan karung untuk menahan tekanan air. Ini murni upaya darurat agar tanggul tidak jebol lagi,” jelasnya.

Edy menegaskan, kemampuan desa sangat terbatas untuk menangani kerusakan tanggul secara menyeluruh. Tanpa perbaikan permanen dari pihak berwenang, risiko tanggul kembali jebol tetap menghantui warga.

“Kalau ini dibiarkan terus, jelas warga kami yang jadi korban. Kami setiap hari was-was, apalagi kalau hujan deras turun,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan kewenangan yang kerap menjadi alasan lambannya penanganan. Sungai Waridin disebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga pemerintah desa maupun kabupaten tidak bisa bertindak maksimal.

“Katanya ini kewenangan provinsi. Tapi kami di bawah, warga kami yang setiap hari hidup dalam kekhawatiran,” tandas Edy.

Sementara itu, Kepala DPUPR Kabupaten Kendal, Sudaryanto, mengakui kondisi tanggul kritis tidak hanya terjadi di Desa Kumpulrejo. Titik rawan serupa juga ditemukan di Desa Sukomulyo.

“Kami sudah membahas persoalan ini bersama Tim TAPD. Rencananya perbaikan akan menggunakan dana tanggap bencana atau dana tak terduga (DTT), karena ini masuk kategori bencana,” kata Sudaryanto.

Meski demikian, hingga kini realisasi perbaikan permanen belum dilakukan. Warga Kumpulrejo masih harus bertahan dengan tanggul tambalan darurat, menunggu kehadiran negara sebelum air Sungai Waridin lebih dulu meluap dan masuk ke rumah-rumah mereka.

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut