Modal Puluhan Juta, Tengkulak Tembakau Kendal Berani Bertaruh Harga
KENDAL,iNewsPantura.id – Di tengah musim panen tembakau yang mulai menggeliat, ada cerita lain dari balik transaksi di tingkat petani. Para tengkulak harus berani memutar modal puluhan hingga ratusan juta rupiah, sekaligus siap menghadapi risiko ketika harga di gudang tidak sesuai perkiraan.
Salah satunya Zaenudin (54), tengkulak tembakau asal Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kendal. Selama sekitar tujuh hingga sepuluh tahun menekuni bisnis tersebut, ia mengaku harus pintar membaca pergerakan harga dan memilih gudang tujuan.
Bukan tanpa alasan. Harga yang ditawarkan setiap gudang bisa berbeda, sehingga tengkulak harus mencari tempat yang memberikan nilai pembelian terbaik.
“Kalau di sini harganya kurang tinggi, kita cari yang lebih tinggi. Harga gudang kan tidak sama. Kita mencari mana yang nyaman untuk bekerja,” ujar Zaenudin.
Peran tengkulak dalam rantai perdagangan tembakau juga membutuhkan jaringan dan kepercayaan. Hubungan baik dengan gudang membuat proses pengiriman hasil pembelian dari petani bisa berjalan lebih lancar.
“Kalau ada kepercayaan, kita mau menjual atau membawa tembakau tidak dipersulit. Semuanya saling percaya,” katanya.
Bisnis ini membutuhkan perputaran modal yang tidak sedikit. Zaenudin memperkirakan modal sekitar Rp50 juta hingga lebih dari Rp100 juta dibutuhkan agar pembelian tembakau dari petani bisa terus berjalan.
Jumlah tersebut bukan tanpa perhitungan. Dalam sekali pengiriman, tembakau yang dibawa bisa mencapai sekitar 18 keranjang.
“Kalau cuma Rp10 juta atau Rp20 juta, baru dapat beberapa keranjang. Satu kali pengiriman bisa sekitar 18 keranjang. Kalau sedikit-sedikit, ongkosnya justru lebih besar,” jelasnya.
Namun, semakin besar modal yang diputar, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung.
Tengkulak terkadang harus membeli tembakau dengan harga tinggi berdasarkan perkiraan harga yang akan diberikan gudang. Jika perkiraan meleset, keuntungan yang diharapkan bisa berubah menjadi kerugian.
“Musim ini memang sulit. Tengkulak sudah berspekulasi tinggi, tetapi ketika masuk gudang harganya tidak sampai. Kalau sudah masuk, biasanya tidak mungkin ditarik lagi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat tengkulak harus cermat menentukan harga beli di tingkat petani. Terlebih, harga tembakau di Kendal saat ini juga bergerak mengikuti kualitas dan jenis tembakau. Sejumlah laporan terbaru menyebut harga tembakau kualitas tertentu di tingkat petani telah mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram.
Setelah tembakau sampai di gudang, transaksi belum otomatis selesai. Tembakau terlebih dahulu diperiksa melalui pengambilan contoh yang kemudian dikirim ke pabrik.
Pembayaran baru dapat dicairkan setelah contoh tembakau mendapatkan persetujuan atau ACC dari pabrik. Proses tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar satu hari.
Artinya, uang yang sudah dikeluarkan tengkulak untuk membeli tembakau dari petani masih harus menunggu kepastian dari proses pemeriksaan tersebut.
Meski menghadapi risiko harga, Zaenudin mengaku masih bertahan karena selama bertahun-tahun menjalankan usaha tersebut, keuntungan yang diperoleh relatif lebih banyak dibandingkan kerugian.
“Kalau keberuntungannya bagus, dapat untung. Kalau tidak, ya rugi. Tapi selama ini lebih banyak untung, makanya masih bertahan,” tandasnya.
Ia berharap seluruh mata rantai perdagangan tembakau, mulai petani, tengkulak, gudang hingga pabrik, dapat menjaga keseimbangan harga.
Sebab, menurutnya, perdagangan tembakau tidak hanya bergantung pada hasil panen. Harga yang sehat menjadi penentu agar petani tetap mau menanam, tengkulak berani membeli, dan perdagangan tembakau terus berputar.
Editor : Eddie Prayitno