Tambang Galian Tanah Kembali Beroperasi di Lahan Baku Sawah, Tim MBLB Hentikan Aktivitas
JEPARA,iNewsPantura.id - Tambang tanah uruk di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, kembali beroperasi setelah sempat berhenti. Bukaan galian kini mencapai sekitar 4.000 meter persegi, dari sebelumnya 3.500 meter persegi.
Aktivitas tersebut berlangsung di Dukuh Telahab. Tim Terpadu Penataan Pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) Jepara kemudian kembali memeriksa lokasi, Rabu (23/9/2026).
Sekretaris Tim MPLB Akhmad Nafe’, mengatakan kegiatan galian diperkirakan kembali berlangsung sekitar dua hari. Saat tim berada di lokasi, tidak ditemukan aktivitas penggalian yang sedang berlangsung. “Bukaan yang sebelumnya sekitar 3.500 meter persegi, sekarang sekitar 4.000 meter persegi,” ujarnya.
Kewajiban pajak MBLB atas material yang telah digali, lanjut dia, juga belum dipenuhi. Kewajiban tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada penanggung jawab tambang.
Tim juga mencatat kondisi dinding galian yang tidak mengikuti kaidah penambangan yang baik. Dinding batas lokasi memiliki kemiringan 90 derajat dengan tinggi sekitar 4 sampai 8 meter. “Dinding batas lokasi memiliki kemiringan 90 derajat, dengan tinggi sekitar 4 sampai 8 meter,” kata Nafe’.
Sebagai langkah penindakan, tim memasang spanduk pemberitahuan penutupan di lokasi. Penanggung jawab tambang diminta memenuhi kewajiban pajak atas material yang telah digali, diangkut, dan dimuat.
Lokasi tersebut sebelumnya telah diperiksa tim pada 28 Juli 2026. Saat itu, tim juga tidak mendapati aktivitas penggalian, tetapi terdapat bekas galian sekitar 3.500 meter persegi.
Tim menyebut lokasi ini berada di kawasan tanaman pangan dan lahan baku sawah. Status itu mengacu pada Perda Jepara Nomor 4 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jepara 2023–2043.
Setelah kegiatan kembali diketahui, pemerintah desa dan aparat wilayah setempat melakukan penelusuran. Penjabat (Pj) Kades Kecapi, Zainal A., mengatakan pihaknya meminta kegiatan tersebut dihentikan.
Aktivitas pengangkutan material turut dikeluhkan warga dan para petani sekitar karena jalan rusak dan menimbulkan debu .
Menurut dia, warga ikut patungan membiayai pembangunan jalan tersebut. Ia mengatakan kendaraan pengangkut material melintasi jalan yang digunakan warga menuju lahan pertanian.
“Kami ikut patungan untuk jalan ini. Kok malah dirusak. Sempat berhenti, tapi sekarang ngeyel beroperasi lagi,” tandas Zaenal..
Di sekitar lokasi, area galian berbatasan dengan lahan pertanian. Singkong, jagung, kacang, dan pisang terlihat di sisi timur dan barat. Sisi selatan area galian berdekatan dengan saluran irigasi dan dinding rumah warga.
Editor: Eddie Prayitno