Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hari Jadi ke-78 DPRD Purworejo, Pasar Apresiasi Jadi Ruang Promosi UMKM dan Pelestarian Budaya
Advertisement . Scroll to see content

Suara PMI Menembus Batas Negara, Dosen Unsoed Angkat Advokasi Digital di NUS

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:23 WIB
  • author Saladin Ayyubi
Suara PMI Menembus Batas Negara, Dosen Unsoed Angkat Advokasi Digital di NUS
forum akademik internasional tentang pekerja migran Indonesia. dokumen

BANYUMAS,iNewsPantura.id – Media sosial kini menjadi ruang baru bagi pekerja migran perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak, menyuarakan ketidakadilan, dan membangun solidaritas lintas negara.

Fenomena tersebut diangkat Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si., dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dalam forum akademik internasional di Singapura.

Tyas mempresentasikan hasil penelitiannya mengenai advokasi digital pekerja migran perempuan Indonesia di Hong Kong dalam workshop internasional bertajuk Global Indonesians as a Shifting Diaspora yang diselenggarakan di National University of Singapore (NUS), 22–23 Oktober 2026.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perjuangan pekerja migran tidak hanya berlangsung di tempat mereka bekerja atau melalui jalur organisasi dan birokrasi. Media sosial juga membuka kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman, memperluas jangkauan informasi, serta mendorong perhatian publik terhadap persoalan yang dihadapi.

Salah satu sosok yang menjadi fokus penelitian Tyas adalah Yuni Andarwati, kreator konten asal Jember, Jawa Timur. Melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook, Yuni menyuarakan persoalan serta hak-hak pekerja migran kepada masyarakat luas.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana platform digital dapat digunakan lebih dari sekadar sarana komunikasi dan hiburan. Bagi pekerja migran, media sosial menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menghubungkan pengalaman individu dengan persoalan yang dialami komunitas di berbagai negara.

Jangkauan komunikasi itu tidak hanya terbatas di Hong Kong. Persoalan pekerja migran dari Malaysia, Kamboja, Taiwan, hingga daerah asal mereka di Indonesia turut menjadi bagian dari percakapan lintas negara.

Tyas menggunakan konsep transnational counterpublics untuk menjelaskan terbentuknya ruang publik alternatif lintas negara. Melalui ruang tersebut, kelompok yang selama ini kurang terwakili dapat membangun narasi sendiri, mengkritik ketimpangan, dan menyampaikan kepentingannya kepada publik.

Dengan demikian, pekerja migran tidak lagi semata-mata menjadi objek pembicaraan atau kebijakan. Mereka juga dapat mengambil peran aktif dalam menentukan isu, membangun pemahaman publik, dan memperjuangkan hak berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Dari penelitian itu, Tyas mengidentifikasi munculnya figur digital migrant advocate, yakni aktor advokasi yang memanfaatkan media digital untuk menghubungkan pengalaman pekerja migran, menyebarkan informasi, serta memperjuangkan hak-hak mereka.

“Selama ini pekerja migran perempuan sering diposisikan sebagai objek kebijakan. Lewat riset ini, saya ingin menunjukkan bahwa mereka adalah subjek yang aktif membentuk diaspora Indonesia, dan mereka berhak diakui sebagai bagian dari diaspora itu,” ujar Tyas.

Selama lebih dari dua dekade, Tyas menekuni penelitian, advokasi, dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia, terutama perempuan migran di Hong Kong dan Malaysia. Kajian yang digelutinya mencakup migrasi transnasional, gender, remitansi sosial, serta kebijakan perlindungan pekerja migran.

Pengalaman tersebut mendorongnya melihat migrasi tidak hanya sebagai perpindahan tenaga kerja antarnegara. Di dalamnya terdapat persoalan ketimpangan gender, relasi kuasa, akses terhadap perlindungan, hingga kebutuhan pekerja migran untuk diakui sebagai individu yang memiliki hak dan suara.

Perspektif tersebut juga berkaitan dengan pemberdayaan komunitas di daerah asal. Sebagai Pembina SERUNI, organisasi komunitas pekerja migran di Banyumas, Tyas memiliki keterkaitan dengan upaya menghubungkan persoalan migrasi global dengan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.

Bagi daerah asal pekerja migran, persoalan migrasi berhubungan erat dengan kehidupan keluarga, penghidupan, perubahan relasi sosial, serta kebutuhan terhadap informasi dan perlindungan yang memadai. Karena itu, pengakuan terhadap pekerja migran sebagai subjek aktif dinilai penting dalam pengembangan program pemberdayaan.

Penelitian Tyas menekankan bahwa kontribusi pekerja migran tidak semestinya hanya diukur dari remitansi atau uang yang dikirimkan kepada keluarga di tanah air. Pengetahuan, pengalaman, jaringan sosial, dan keterlibatan mereka dalam memperjuangkan hak juga menjadi bagian dari kontribusi terhadap Indonesia.

Keikutsertaan Tyas dalam workshop di NUS sekaligus membawa kajian sosial dari Unsoed ke forum akademik internasional. Ia terpilih melalui proses seleksi call for papers yang diselenggarakan Asia Research Institute NUS. Penyelenggara menanggung akomodasi bagi para pemakalah yang terpilih.

Dari Indonesia, enam akademisi berhasil lolos seleksi. Forum tersebut juga diikuti pemakalah dari sejumlah negara dan wilayah, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Prancis, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Workshop itu membahas perubahan diaspora Indonesia di tengah mobilitas manusia, perkembangan teknologi, dan terbentuknya jaringan sosial lintas batas negara. Dalam konteks tersebut, penelitian Tyas memperluas pemahaman bahwa diaspora tidak hanya berkaitan dengan keberadaan warga Indonesia di luar negeri, tetapi juga dengan kemampuan mereka membangun komunitas, mempertahankan hubungan dengan tanah air, dan memperjuangkan kepentingan bersama.

Tyas berharap partisipasinya dapat memperkuat jejaring akademik FISIP Unsoed serta mendorong dosen dan mahasiswa untuk membawa hasil penelitian ke forum internasional.

“Suara pekerja migran dari Banyumas layak didengar di forum global. Semoga ini juga menyemangati mahasiswa dan dosen kita untuk terus menyuarakan riset di forum internasional,” tambahnya.

Penelitian tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas bagi pekerja migran untuk menyampaikan pengalaman dan menentukan bagaimana kepentingan mereka dipahami. Di tengah perkembangan teknologi digital, tantangannya bukan hanya menyediakan akses komunikasi, tetapi juga memastikan suara yang muncul mendapat perhatian dan ditindaklanjuti.

Dari komunitas pekerja migran di daerah hingga forum akademik internasional, pengalaman perempuan migran Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tenaga kerja yang berpindah negara. Mereka juga bagian dari diaspora yang memiliki pengetahuan, aspirasi, dan peran dalam membentuk percakapan mengenai hak, keadilan, serta masa depan Indonesia.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut