Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Koperasi Desa di Banyumas Disiapkan Jadi Pemasok Bahan Baku Bioavtur
Advertisement . Scroll to see content

43 Napi Lapas Purwokerto Diwisuda Tahfidz Al Qur''an, Ada yang Hafal 5 Juz

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:03 WIB
  • author Saladin Ayyubi
43 Napi Lapas Purwokerto Diwisuda Tahfidz Al Qur''an, Ada yang Hafal 5 Juz
Napi Lapas purwokerto menjalani wisuda tahfidz Al Quran. dokumen

PURWOKERTO,iNewsPantura..id – Jeruji besi tak menghalangi seseorang untuk memperbaiki diri. Di balik tembok Lapas Kelas IIA Purwokerto, 43 warga binaan justru menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui hafalan Al-Qur’an.

Mereka diwisuda setelah mengikuti program tahfidz yang menjadi bagian dari pembinaan keagamaan di dalam lapas.

Suasana haru menyelimuti Masjid At-Taubah ketika nama para wisudawan dipanggil satu per satu. Dengan mengenakan seragam warga binaan, mereka melangkah ke depan untuk menerima kopiah putih dan sertifikat kelulusan.

Sebagian tak mampu menyembunyikan rasa haru atas pencapaian yang mungkin sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.

Wisuda tahfidz tersebut diselenggarakan bersama Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Al Munawar dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Bagi para warga binaan, kegiatan itu bukan sekadar seremoni, melainkan penanda perjalanan untuk memperbaiki diri melalui Al-Qur’an.

Kemampuan hafalan mereka beragam. Ada yang baru menghafal surat-surat pendek, ada yang telah mampu melafalkan Al-Fatihah dan bacaan tahiyat dengan tartil, bahkan terdapat warga binaan yang berhasil menyelesaikan hafalan hingga lima juz.

Hafalan tersebut dibangun melalui proses panjang. Di tengah keterbatasan ruang dan rutinitas kehidupan di balik jeruji, mereka menyisihkan waktu untuk mengulang ayat demi ayat, termasuk pada malam hari ketika penghuni blok lainnya telah beristirahat.

Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Al Munawar, Faidus Saad, mengatakan program tahfidz yang diberikan kepada warga binaan tidak semata-mata mengejar jumlah hafalan. Hal yang lebih penting adalah perubahan perilaku dan kualitas ibadah setelah mereka belajar Al-Qur’an.

“Program ini bukan soal siapa paling banyak hafalannya, tapi tentang siapa yang mau memperbaiki kualitas sholatnya, dan siapa yang mau hidupnya dibimbing Qur’an,” ungkapnya.

Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Winarso, mengaku bersyukur kegiatan wisuda tersebut dapat terlaksana. Menurutnya, momen itu menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan karena menunjukkan bahwa pembinaan kepribadian warga binaan terus berjalan.

“Alhamdulillah, wisuda bisa terlaksana. Ini merupakan momentum yang dinanti dan membahagiakan,” ujarnya.

Winarso menjelaskan, pembinaan di Lapas Purwokerto juga memberikan ruang bagi seluruh warga binaan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing.

Warga binaan Muslim mengikuti kegiatan keagamaan di Masjid At-Taubah, sedangkan warga binaan non-Muslim menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

Di tengah suasana penuh haru tersebut, Ketua Peradi SAI Purwokerto, H Djoko Susanto, mengingatkan bahwa lembaga pemasyarakatan harus menjadi tempat pembinaan dan pengayoman. Ia menegaskan tidak boleh ada kekerasan, penganiayaan maupun pemerasan terhadap warga binaan.

“Di lapas tidak boleh ada kekerasan, penganiayaan ataupun pemerasan. Asasnya adalah pengayoman,” tegas Djoko.

Sementara itu, Anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo yang turut menyerahkan kopiah kepada para wisudawan memberikan pesan agar mereka tidak kehilangan harapan dalam menjalani kehidupan.

Ia memahami bahwa berada di dalam lapas bukan keadaan yang mudah diterima. Namun, kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri tetap terbuka bagi siapa pun.

“Mungkin saat ini kalian merasa belum bisa menerima keadaan. Namun percayalah, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sia-sia ketika Allah menghendaki,” tuturnya.

Wisuda 43 warga binaan tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan aturan, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan pembentukan karakter.

Kopiah putih dan sertifikat yang mereka terima mungkin hanya menjadi simbol sederhana. Namun, bagi para wisudawan, pencapaian itu menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menentukan seluruh perjalanan hidup seseorang.

Jeruji besi memang masih membatasi kebebasan mereka. Namun melalui pembelajaran Al-Qur’an, tumbuh harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut