GUNUNGKIDUL, iNewsPantura.id – Berawal dari kesulitan mendapatkan bahan baku kanvas yang harganya kian mahal, seorang pelukis asal Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, justru berhasil menciptakan peluang ekonomi kreatif dengan memanfaatkan limbah kayu. Tak disangka, karya seni dengan media tak lazim tersebut kini diminati pasar nasional hingga mancanegara.
Dari tumpukan limbah kayu yang kerap dianggap tak berguna, lahir karya seni bernilai tinggi. Keterbatasan menjadi awal kreativitas Florentinus Sarjono, pelukis asal Wonosari, yang berhasil mengubah sisa potongan kayu menjadi media lukis unik dengan daya tarik hingga ke luar negeri.
Kesulitan memperoleh kanvas dengan harga terjangkau mendorong Florentinus mencari alternatif lain. Pilihannya jatuh pada limbah kayu sisa usaha mebel di sekitar tempat tinggalnya. Media yang awalnya dipandang sebelah mata itu justru membuka jalan baru dalam perjalanan seninya.
Hampir setiap hari, Florentinus Sarjono yang akrab disapa Jono menghabiskan waktu di ruang kerjanya di Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari. Dengan telaten, ia menggoreskan cat di atas permukaan kayu, mengikuti alur serat alami yang berbeda pada setiap potongan.
Ide melukis di atas limbah kayu mulai ia tekuni sejak 2019, saat harga kanvas terus merangkak naik. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Jono mengaku sempat berkali-kali gagal di awal percobaan. Karakter kayu yang memiliki pori dan serat berbeda membuat teknik melukis harus disesuaikan, bahkan jauh lebih rumit dibandingkan menggunakan kanvas biasa.
Tak hanya itu, proses pengeringan cat pada media kayu juga membutuhkan waktu lebih lama. Faktor cuaca menjadi penentu agar hasil lukisan benar-benar sempurna.
Meski demikian, kerja kerasnya kini terbayar. Beragam karya berhasil dihasilkan, mulai dari gambar hewan, tokoh terkenal, pejabat, hingga potret keluarga. Karya-karya tersebut tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga menarik perhatian pembeli dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, bahkan hingga Malaysia.
Untuk satu lukisan berukuran kecil, Jono mematok harga mulai dari Rp500 ribu.
Tingginya permintaan membuatnya kini tidak hanya mengandalkan limbah kayu, tetapi juga menyediakan kayu khusus demi menjaga kualitas media lukis.
“Untuk lukisan berukuran sedang, proses pengerjaannya biasanya memakan waktu sekitar dua hari, terutama agar cat bisa mengering sempurna saat cuaca panas.”
Inovasi yang dilakukan Florentinus Sarjono menjadi bukti bahwa kreativitas mampu mengubah limbah menjadi peluang. Dengan sentuhan seni, barang sisa tak hanya bernilai estetika, tetapi juga bernilai ekonomi, sekaligus menjadi inspirasi bagi pelaku ekonomi kreatif lainnya.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
