Rela Korbankan Mimpi demi Adik, Ahmad Kini Kembali Sekolah di Usia 26 Tahun

Didik Dono Hartono
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SKB Tahun Ajaran 2026/2027 di Aula Sentra Terpadu Kartini. Dokumen

TEMANGGUNG,iNewsPantura.id – Demi memastikan adiknya tetap bisa mengenyam pendidikan, Ahmad Eksa Nur Halim, 26, rela mengubur impiannya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Ia memilih bekerja untuk membantu keluarga agar adiknya bisa melanjutkan pendidikan. Setelah bertahun-tahun tertunda, kini Ahmad kembali bersekolah untuk mengejar cita-cita yang sempat ditinggalkan.

Kesempatan itu datang melalui program pendidikan kesetaraan yang difasilitasi Kementerian Sosial (Kemensos). Ahmad menjadi salah satu dari 36 peserta asal Kabupaten Temanggung yang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Tahun Ajaran 2026/2027 di Aula Sentra Terpadu Kartini, Temanggung, Sabtu (10/10/2026).

Keputusan Ahmad meninggalkan bangku sekolah bukan karena kehilangan keinginan untuk belajar. Saat hendak memasuki SMA, adiknya juga akan melanjutkan pendidikan ke SMP. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya harus mengambil keputusan sulit.

Ahmad akhirnya memilih bekerja agar orang tuanya tidak terbebani biaya pendidikan kedua anaknya sekaligus. Ia mengesampingkan keinginannya sendiri demi memastikan sang adik tetap bisa bersekolah.

“Dulu enggak lanjut SMA karena bareng sama adik saya masuk SMP, saya masuk SMA. Takut membebani orang tua, akhirnya saya yang mengalah untuk kerja membantu adik masuk sekolah,” ungkap Ahmad.

Bertahun-tahun menjalani kehidupan tanpa kesempatan melanjutkan pendidikan formal, keinginan untuk kembali belajar ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kini, ketika kesempatan itu terbuka, Ahmad bertekad memanfaatkannya untuk memperbaiki masa depan.

Dukungan sang istri turut menjadi penyemangat bagi Ahmad untuk kembali belajar. Ia mengaku mendapat dorongan agar tidak ragu melanjutkan pendidikan meski usianya sudah 26 tahun.

“Istri juga mendukung dan menyuruh saya sekolah lagi. Belajar itu tidak ada putusnya,” ujarnya.

Kisah Ahmad menjadi salah satu gambaran bahwa keterbatasan ekonomi masih dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk menuntaskan pendidikan. Melalui program pendidikan kesetaraan, kesempatan belajar kembali terbuka bagi mereka yang sempat putus sekolah atau belum memperoleh akses pendidikan yang memadai.

Kepala Sentra Terpadu Kartini di Temanggung, Nova Dwiyanto Suli, mengatakan program tersebut merupakan amanah Presiden RI Prabowo Subianto kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf.

Program ini dijalankan melalui sinergi Kemensos dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah, anak putus sekolah, serta calon siswa Sekolah Rakyat yang belum tertampung.

Dalam pelaksanaannya, Sentra Terpadu Kartini bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Temanggung.

Pembelajaran akademik diberikan oleh guru dari Disdikpora, sedangkan instruktur Sentra Terpadu Kartini memberikan pelatihan vokasional berupa keterampilan praktis yang dapat menunjang kehidupan dan pekerjaan peserta.

Sebanyak 36 peserta dari Kabupaten Temanggung mengikuti program tersebut. Kegiatan pembelajaran dijadwalkan berlangsung secara berkala setiap dua minggu, dengan dua kali kedatangan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk membantu peserta memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian.

Bagi Ahmad, kembali ke sekolah menjadi kesempatan untuk membuka lembaran baru. Jika dahulu ia memilih bekerja demi membantu adiknya mendapatkan pendidikan, kini ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang sempat dikorbankannya.

Pengalaman hidup tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ahmad dalam memperjuangkan masa depan. Di tengah tanggung jawab keluarga dan pekerjaan, ia kembali menempatkan pendidikan sebagai hal penting yang perlu diperjuangkan.

Melalui program pendidikan kesetaraan, Ahmad dan puluhan peserta lainnya diharapkan dapat menuntaskan pendidikan setara SMA sekaligus mengembangkan kemampuan untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Kisah Ahmad menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar tidak semestinya berhenti hanya karena keterbatasan ekonomi atau usia. Selama kesempatan masih terbuka, keinginan untuk memperbaiki masa depan dapat kembali diperjuangkan.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network