Sejumlah SPPG Pekalongan Berhenti Operasi, Ribuan Siswa Terdampak
PEKALONGAN, iNewsPantura.id - Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Pekalongan terpaksa menghentikan operasional sementara, Rabu (4/2/2026). Penghentian ini dipicu belum cairnya dana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Salah satu dapur yang terdampak adalah SPPG Kulu Raya di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Dapur yang dikelola Yayasan Cahaya Inspirasi Dunia tersebut mulai hari ini berhenti memasak dan mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah.
Padahal, dalam kondisi normal, satu dapur SPPG Kulu Raya melayani sekitar 3.290 porsi makanan setiap hari untuk 13 sekolah , posyandu dan penerima manfaat lainnya.
Ketua Yayasan Cahaya Inspirasi Dunia, Sutriyanto, mengatakan penghentian operasional dilakukan karena perubahan sistem pencairan dana dari BGN yang mengharuskan pengelola mengikuti skema baru.
“Mulai hari ini kami berhenti kegiatan untuk masak atau kirim MBG ke sekolah- sekolah. Karena proses pencairan dari BGN ada perubahan sistem, sehingga kami harus mengikuti,” ujar Sutriyanto saat ditemui di Kantor SPPG Kulu Raya, Rabu (4/2).
Ia menjelaskan, pada tahun sebelumnya yayasan masih bisa menalangi biaya operasional ketika terjadi keterlambatan pencairan. Namun, pada 2026, skema tersebut tidak lagi diperbolehkan.
“Kalau tahun 2025 lalu ada keterlambatan pencairan, biasanya yayasan yang nalangi. Saya sebagai kepala yayasan kadang nalangi. Tapi sekarang sudah tidak bisa. Apa adanya uang kas di dapur, ya itu yang dijalankan. Kalau habis, ya harus stop,” jelasnya.
Menurut Sutriyanto, perubahan skema anggaran juga memengaruhi lamanya proses pencairan. Jika sebelumnya dana dicairkan setiap dua minggu dengan proposal bulanan, kini pengajuan dilakukan sekaligus untuk satu tahun anggaran.
“Sekarang satu tahun langsung. Awal tahun kita ajukan untuk satu tahun 2026. Prosesnya memang butuh waktu,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut pihak sekolah penerima manfaat memahami kondisi tersebut. Dapur SPPG sendiri menerapkan sistem belanja bahan makanan harian, sehingga tidak ada stok tersisa saat operasional dihentikan. Namun, Rabu pagi sempat terjadi miskomunikasi pengiriman bahan.
“Ada tahu yang sudah terlanjur dikirim. Ya kita terima. Tahunya kita bagikan gratis ke warga sekitar,” ungkapnya.
Dari sisi keuangan, Sutriyanto menegaskan kondisi ini bukan kerugian besar, namun berdampak pada pemasukan yayasan dan kesejahteraan pekerja.
“Bukan rugi, tapi labanya berkurang. Uang sewa tidak masuk ke yayasan. Upah harian karyawan juga otomatis berhenti karena dapur tidak beroperasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, total terdapat tiga dapur SPPG di bawah pengelolaan yayasan, dan seluruhnya saat ini berhenti beroperasi. Kondisi serupa, menurutnya, juga dialami sejumlah SPPG di daerah lain.
“Ini bukan hanya di sini saja. Beberapa SPPG lain juga mengalami hal yang sama,” katanya.
Dampak penghentian sementara Program MBG juga dirasakan pihak sekolah. Kepala SD Negeri 01 Kulu, Lucia Prabawati, mengatakan pihak sekolah telah menerima pemberitahuan dari pengelola SPPG melalui grup pesan singkat.
“Informasinya kami terima sejak kemarin, lalu kami sampaikan ke orang tua siswa. Intinya MBG sementara berhenti menunggu info selanjutnya,” ujarnya.
Pihak sekolah pun mengimbau siswa untuk membawa bekal dari rumah dan tetap sarapan selama program MBG dihentikan sementara.
“Kami ingatkan anak-anak untuk sarapan dari rumah. Karena biasanya ada yang tidak sarapan dengan alasan nanti dapat MBG. Tadi pagi saya tanya, mereka sudah sarapan,” tuturnya.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan operasional dapur SPPG akan kembali berjalan, sembari menunggu pencairan dana dari Badan Gizi Nasional.
Editor : Suryo Sukarno