Sebulan Dikepung Banjir, Tirto Lumpuh: Ratusan Warga Masih Mengungsi, Bantuan Terus Mengalir
PEKALONGAN, iNewsPantura.id – Hampir satu bulan sudah banjir merendam Desa Mulyorejo dan Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Genangan tak kunjung tuntas surut, aktivitas ekonomi lumpuh, dan ratusan warga masih bertahan di pengungsian.
Sudah 27 hari air menggenangi permukiman. Meski berangsur surut, ketinggian air di sejumlah titik masih mencapai 60–70 sentimeter. Rumah-rumah warga belum sepenuhnya bisa ditempati, sementara sebagian besar pencari nafkah tak dapat bekerja karena lingkungan masih terendam.
Data terbaru mencatat sekitar 600 jiwa masih mengungsi. Mereka tersebar di tempat penampungan sementara, termasuk di Kopindo. Saat puncak banjir, jumlah pengungsi bahkan menembus lebih dari 2000 jiwa.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, bantuan kemanusiaan terus berdatangan. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pekalongan bersama Alfamart turun langsung menyalurkan bantuan di Posko Dapur Umum Desa Mulyorejo, Kamis (12/2/2026).
Bantuan berupa mie instan dan air mineral tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional 2026 sekaligus HUT PWI ke-80.
Ketua PWI Kabupaten Pekalongan, Triyono, menegaskan aksi sosial ini menjadi bentuk kepedulian insan pers terhadap warga yang terdampak musibah berkepanjangan.
“Kami bersama Alfamart menggelar bakti sosial untuk membantu warga korban banjir di Tirto, khususnya Desa Mulyorejo dan Tegaldowo. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban warga,” ujarnya.
Kepala Desa Mulyorejo, Zamroni, menyampaikan apresiasi atas kepedulian tersebut.
“Terima kasih kepada PWI dan Alfamart yang telah membantu warga kami. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat yang sudah hampir sebulan terdampak banjir,” katanya.
Perwakilan Alfamart, Corporate Communication Yudi Suranto, menyebut kolaborasi ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan di tengah situasi darurat.
“Kami berharap bantuan ini dapat membantu warga bertahan, sembari menunggu proses pemulihan berjalan maksimal,” ungkapnya.
Namun bagi warga, bantuan logistik saja belum cukup. Mereka mendesak adanya solusi permanen dari pemerintah daerah. Banjir yang nyaris rutin melanda Mulyorejo, Tegaldowo, hingga Karangjompo dinilai membutuhkan penanganan menyeluruh, bukan sekadar respons darurat tahunan.
“Kami ingin hidup normal tanpa rasa waswas setiap musim hujan datang,” tutur Sania salah satu warga.
Hingga kini, warga Tirto masih bertahan di tengah genangan yang perlahan surut—menunggu bukan hanya air yang menghilang, tetapi juga kepastian langkah nyata agar banjir tak lagi menjadi bencana berulang.
Editor : Suryo Sukarno