get app
inews
Aa Text
Read Next : Kolaborasi Pariwisata dan IKM Lokal Jadi Kunci Penguatan Ekonomi Jepara

Terancam Gagal Panen, Petani di Kendal Minta Distribusi Air Irigasi Segera Diperbaiki

Rabu, 29 Juli 2026 | 09:40 WIB
header img
Petani menunjukan kondisi tanah di sawahnya yang kering kekurangan air. Eddie prayitno/iNews

KENDAL,iNewsPantura.id – Ratusan hektare tanaman padi di Desa Jotang, Kelurahan Jetis, dan Desa Purwokerto, Kabupaten Kendal, terancam mengalami gagal panen (puso) akibat minimnya pasokan air irigasi pada musim kemarau tahun ini.

Kondisi tersebut membuat para petani khawatir karena tanaman padi yang saat ini memasuki fase pembentukan bulir mulai menunjukkan gejala kekeringan.

Tanaman padi yang berusia sekitar tiga bulan tampak menguning dan layu. Bahkan, sebagian lahan persawahan mulai mengering dan pecah-pecah karena tidak lagi mendapat pasokan air.

Apabila dalam waktu tiga pekan ke depan tidak ada aliran air yang masuk ke areal persawahan, petani khawatir tanaman padi akan mati dan menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Salah seorang petani Desa Jotang, Slamet, mengatakan persoalan yang dihadapi petani bukan disebabkan berkurangnya debit air sungai, melainkan distribusi air irigasi yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Menurutnya, pada musim tanam sebelumnya selalu diterapkan sistem pembagian giliran air sehingga seluruh areal persawahan memperoleh pasokan air secara merata. Namun, pada musim kemarau tahun ini air hampir tidak pernah mengalir ke sawah di wilayahnya.

"Kami berharap pembagian air segera diatur kembali. Kalau tidak ada air, tanaman yang sudah mulai berbuah bisa mati," ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Kastam, petani yang kini tengah menunggu tanaman padinya memasuki masa pembentukan bulir secara sempurna. Menurutnya, fase mabul atau mulai mengeluarkan bunga merupakan masa yang sangat menentukan keberhasilan panen sehingga membutuhkan pasokan air yang cukup.

"Kalau sampai satu bulan ke depan tidak mendapat giliran pengairan, petani bakal merugi semua karena saat ini padi sudah mulai layu. Saya berharap Dinas Pertanian maupun dinas yang menangani pengairan segera tanggap terhadap kondisi ini," katanya.

Untuk mempertahankan tanaman tetap hidup, sebagian petani terpaksa memanfaatkan sumur bor. Namun, cara tersebut bukan menjadi solusi yang ideal karena membutuhkan biaya operasional yang cukup besar.

Dalam satu kali pengairan satu hektare lahan, petani harus menghabiskan sekitar 20 liter bahan bakar Pertamax. Dengan harga sekitar Rp16 ribu per liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp320 ribu sehingga semakin membebani biaya produksi di tengah ancaman gagal panen.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kabupaten Kendal sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kendal, Haji Tardi, meminta pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan distribusi air irigasi.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, kerugian petani di tiga wilayah tersebut dapat mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan, apabila terjadi secara meluas di Kabupaten Kendal, kerugian diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah.

"Jika ini tidak segera tertangani, kerugian petani di tiga wilayah ini bisa mencapai ratusan juta rupiah. Apalagi kalau terjadi di seluruh Kabupaten Kendal, kerugiannya bisa mencapai miliaran rupiah. Petani akan makan apa kalau menanam padi sudah tidak bisa diandalkan," ungkapnya.

Tardi berharap pemerintah segera menyusun kembali jadwal distribusi air agar seluruh wilayah memperoleh pasokan secara adil. Ia juga menilai pengelolaan saluran irigasi tersier maupun sekunder perlu mendapat perhatian serius agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Saat ini, sebagian petani terpaksa bergotong royong membersihkan saluran irigasi secara swadaya agar air masih dapat mengalir menuju lahan pertanian mereka. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Kendal, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta instansi terkait segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih dapat dipertahankan.

Pasalnya, air menjadi penentu keberhasilan panen para petani. Tanpa pasokan air yang memadai dalam beberapa pekan ke depan, ancaman puso bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan yang harus dihadapi ratusan petani di Kabupaten Kendal.

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut