get app
inews
Aa Text
Read Next : Pemkab Bantu Biaya Pemulangan, Jenazah Korban Kecelakaan Dimakamkan Di Temanggung

Santri Diminta Isi Kemerdekaan dengan Ilmu, Akhlak, dan Pengabdian

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:53 WIB
header img
Upacara HUT RI yang diselenggarakan Ponpes APIK Kauman Kaliwungu di lapangan parkir Masjid Al Mutaqqin Kaliwungu. eddie prayitno/iNews

KENDAL,iNewsPantura.id – Kemerdekaan bagi kalangan santri tidak sekadar dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Lebih dari itu, kemerdekaan menjadi amanah untuk terus mengisi pembangunan bangsa melalui ilmu, akhlak, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu, Gus Aden Sanaya, mengatakan pesantren dan para ulama sejak dahulu memiliki bagian penting dalam perjalanan perjuangan bangsa. Karena itu, santri masa kini juga memiliki tanggung jawab untuk meneruskan semangat perjuangan tersebut sesuai tantangan zaman.

Menurutnya, jika dahulu para pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian dan pengorbanan, maka perjuangan santri saat ini dapat dilakukan dengan menuntut ilmu, mengembangkan pengetahuan, menjaga akhlak, membangun kemandirian ekonomi, serta mengabdi kepada masyarakat.

“Santri hari ini harus mampu menjadi generasi yang alim, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat. Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus diamalkan sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Gus Aden menekankan, tingginya ilmu dan kemampuan tidak boleh membuat seorang santri kehilangan sikap tawadhu’. Kemajuan intelektual harus berjalan seiring dengan penghormatan kepada guru, ulama, orang tua, dan sesama.

Sebab, menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh generasi yang pintar, tetapi juga oleh orang-orang yang memiliki integritas dan karakter kuat. Santri diharapkan tidak menjadi generasi yang unggul secara intelektual namun lemah secara moral.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Media sosial, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan menyebarkan kebaikan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber fitnah apabila tidak digunakan secara bijak. Begitu pula kecerdasan buatan yang dapat membantu pekerjaan manusia, namun bisa disalahgunakan jika tidak dibarengi etika.

Karena itu, santri tidak boleh anti terhadap perubahan, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati diri karena perubahan. Pegangan utama tetap ilmu, adab, tradisi keilmuan pesantren, dan nilai-nilai Islam.

Santri, lanjut Gus Aden, harus mampu menguasai kitab kuning sekaligus memahami perkembangan zaman. Mereka diharapkan tekun mengaji, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif dan produktif.

“Santri tidak boleh kehilangan arah karena perubahan. Kita harus mampu mengambil manfaat dari perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri,” tegasnya.

Ia menilai tradisi pesantren justru dapat menjadi fondasi dalam menghadapi masa depan. Kemajuan tidak harus dimaknai dengan meninggalkan tradisi, melainkan mengembangkan nilai-nilai baik yang telah diwariskan untuk menjawab tantangan baru.

Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu pun diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang untuk menempa karakter dan membentuk generasi yang memiliki kepedulian sosial.

Kemerdekaan, menurut Gus Aden, harus diisi dengan membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan, kebencian, perpecahan, serta perilaku yang dapat merusak masa depan bangsa.

Jika santri mampu tumbuh sebagai generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan peduli terhadap masyarakat, maka nilai perjuangan para pendahulu akan terus hidup. Dari pesantren, semangat kemerdekaan dapat diteruskan melalui karya, pengabdian, dan keteladanan di tengah masyarakat.

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut