Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Resmi Jadi Mahasiswa Unsoed, Rektor Titip Pesan Bangun Karakter, Bukan Sekadar IPK
Advertisement . Scroll to see content

Unsoed Dorong Desa Winduaji Jadi Sentra Agroindustri Jamur Tiram

Selasa, 08 September 2026 | 18:41 WIB
  • author Saladin Ayyubi
Unsoed Dorong Desa Winduaji Jadi Sentra Agroindustri Jamur Tiram
Agroindustri Jamur Tiram di Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. dokumen

BREBES,iNewsPantura.id — Potensi limbah serbuk kayu yang mencapai sekitar 30 ton per bulan di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, mulai diarahkan menjadi peluang ekonomi melalui pengembangan agroindustri jamur tiram.

Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengimplementasikan hasil riset untuk memperkuat usaha jamur tiram masyarakat Desa Winduaji.

Program tersebut dikemas melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Riset bertajuk “Penguatan Hulu-Hilir Agroindustri Jamur Tiram melalui Standardisasi Budidaya, Pembuatan Bibit, dan Diversifikasi Produk di Desa Winduaji.”

Kegiatan mulai dilaksanakan pada Juni 2026 dengan dukungan pendanaan Badan Layanan Umum (BLU) Unsoed melalui Skim PkM Berbasis Riset Tahun 2026.

Mitra program merupakan Kelompok Tani Jamur Agro Tani Mandiri di Dukuh Karangnangka, Desa Winduaji. Tim PkM Unsoed diketuai Prof. Dr. Sri Lestari, S.E., M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. dan Arif Rahman Hikam, S.Pd., M.Si.

Desa Winduaji dinilai memiliki modal alam yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi sentra agroindustri jamur. Selain kondisi lingkungan yang mendukung, ketersediaan limbah serbuk kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan media tanam.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu mendongkrak produksi kelompok tani. Selama ini mitra membudidayakan jamur tiram putih dan cokelat dengan produksi sekitar 2 hingga 10 kilogram per hari.

Produksi yang masih rendah dan fluktuatif menjadi salah satu persoalan yang hendak diatasi melalui program PkM tersebut.

Mitra juga masih bergantung pada pasokan bibit dari luar desa. Di sisi lain, belum adanya standar budidaya yang seragam membuat persoalan seperti kontaminasi dan kegagalan produksi masih menjadi tantangan.

Tak hanya pada sisi produksi, kelompok juga menghadapi kendala manajemen usaha serta keterbatasan dalam mengembangkan produk olahan jamur.

Tim PkM Unsoed kemudian menerapkan hasil penelitian melalui pelatihan dan pendampingan budidaya berbasis standar operasional prosedur (SOP).

Pendampingan dilakukan mulai dari penataan kumbung, pembuatan media tanam atau baglog, pengaturan suhu dan kelembapan, sanitasi, hingga pengendalian hama dan kontaminasi.

Tidak berhenti pada teknik budidaya, anggota kelompok juga mendapatkan pelatihan pembuatan bibit jamur secara mandiri, mulai dari bibit F0, F1 hingga F2.

Kemampuan memproduksi bibit sendiri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar desa sekaligus meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan usaha.

Penguatan juga dilakukan pada sisi hilir. Tim memberikan pendampingan mengenai penanganan pascapanen, diversifikasi produk olahan jamur, pencatatan keuangan, strategi pemasaran, serta penguatan pengelolaan usaha dan kelembagaan kelompok.

Ketua Tim PkM Unsoed, Prof. Dr. Sri Lestari, S.E., M.Si., berharap program tersebut mampu mendorong terbentuknya usaha jamur yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Kami berharap mitra mampu menerapkan SOP budidaya secara konsisten, memproduksi bibit sendiri, dan meningkatkan kestabilan produksi. Diversifikasi produk olahan juga diharapkan memberikan nilai tambah serta mendukung pengembangan Desa Winduaji sebagai desa wisata,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Jamur Agro Tani Mandiri, Dedi Riyadi, S.T., mengapresiasi dukungan Unsoed melalui program tersebut.

Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya menambah pengetahuan anggota kelompok, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memperluas pemasaran.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Jenderal Soedirman, khususnya LPPM Unsoed dan Tim PkM, atas dukungan pendanaan, pelatihan, pendampingan, serta penerapan teknologi kepada kelompok kami. Kami berharap program ini dapat meningkatkan keterampilan anggota, mengurangi kegagalan produksi, mewujudkan kemandirian bibit, dan memperluas pemasaran produk jamur,” ungkapnya.

Kepala Desa Winduaji, H. Abdurahman, juga menyambut positif program tersebut. Ia menilai penerapan hasil riset perguruan tinggi dapat memberikan dukungan nyata bagi pengembangan potensi ekonomi masyarakat desa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Jenderal Soedirman atas dukungan pendanaan BLU Unsoed Tahun 2026 melalui Skim PkM Berbasis Riset, khususnya kepada LPPM Unsoed dan Tim PkM yang telah memfasilitasi pelatihan, penerapan teknologi, serta pendampingan kepada Kelompok Tani Jamur Agro Tani Mandiri,” katanya.

Ia berharap pengembangan agroindustri jamur mampu meningkatkan kemandirian dan pendapatan petani sekaligus memperkuat sektor pangan dan pariwisata Desa Winduaji.

“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kemandirian dan pendapatan petani, memperkuat agroindustri jamur dari hulu hingga hilir, serta mendukung ketahanan pangan dan pengembangan Desa Winduaji sebagai desa wisata,” ungkap Abdurahman.

Program PkM Berbasis Riset tersebut menjadi bagian dari upaya Unsoed menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dengan penguatan teknologi, keterampilan, pengelolaan usaha dan diversifikasi produk, pengembangan jamur tiram di Winduaji diharapkan tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang pengembangan usaha masyarakat dari hulu hingga hilir.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut