UKSW Ubah Limbah Dapur Jadi Enzim untuk Restorasi Kopi, Bernilai Ekonomi
SALATIGA,iNewsPantura.id – Limbah makanan atau food waste yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru diolah menjadi sumber nilai ekonomi oleh Program Studi Teknologi Pangan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Melalui inovasi dekomposer, limbah organik rumah tangga seperti sisa makanan, buah, sayuran, daun, hingga empon-empon diolah menjadi produk bernilai guna. Inovasi tersebut dikembangkan dalam dua metode, yakni horizontal dekomposer contraflow dan vertical dekomposer.
Dosen Teknologi Pangan UKSW, Dhanang Puspita, mengatakan horizontal dekomposer contraflow digunakan untuk mengolah limbah dapur menjadi kompos, pupuk organik cair, sekaligus mendukung pemanenan maggot.
“Dekomposer ini dilengkapi pengaduk spiral sehingga bahan organik tetap homogen dan proses dekomposisi lebih optimal,” kata Dhanang.
Sementara itu, vertical dekomposer dikembangkan untuk menghasilkan enzim dari proses dekomposisi buah, daun, dan berbagai jenis rimpang atau empon-empon.
Menariknya, enzim tersebut kemudian dimanfaatkan untuk restorasi kopi, khususnya kopi berkualitas rendah atau mengalami kerusakan pascapanen.
Menurut Dhanang, enzim berfungsi memutus senyawa penyebab off flavor atau aroma kurang sedap pada kopi. Enzim juga mampu menembus biji kopi sehingga aroma dan cita rasa yang masih tersimpan dapat kembali muncul.
Hasilnya, kopi yang sebelumnya berkualitas rendah dapat menghasilkan karakter rasa dan aroma unik, mulai dari nanas, jeruk, stroberi, mangga hingga aroma herbal.
Inovasi tersebut bahkan telah dikembangkan menjadi kopi instan oleh mahasiswa Teknologi Pangan UKSW, Zakky. Produk tersebut dipasarkan sekitar Rp12.000 per kemasan, dengan biaya produksi sekitar Rp2.000.
Inovasi restorasi kopi ini juga telah dipresentasikan dan direncanakan dikembangkan bersama PT Rumeksa Mekaring Sabda, pengelola Hotel D’Emmerick Salatiga, yang memiliki lahan kopi lebih dari enam hektare.
Dhanang menilai inovasi tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular, karena limbah makanan tidak berhenti sebagai sampah, tetapi diputar kembali menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
“Food waste kalau dikelola dengan baik bisa menghasilkan manfaat baru, bahkan menjadi sumber pendapatan baru,” ujarnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi jawaban atas persoalan pengelolaan sampah organik rumah tangga, terutama di tengah kebijakan pembatasan pembuangan sampah organik ke tempat penampungan maupun tempat pemrosesan akhir.
Editor: Eddie Prayitno