Air PDAM di Banyumas Berubah Cokelat, Warga Mengeluh
BANYUMAS,iNewsPantura.id- Sejumlah pelanggan Perumdam Tirta Satria Kabupaten Banyumas mengeluhkan air yang mengalir dari jaringan distribusi berubah warna menjadi kecokelatan pada Sabtu 12 September 2026.
Perubahan warna air tersebut membuat sebagian pelanggan khawatir, terutama ketika air hendak digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum.
Salah seorang pelanggan, Djoko Susanto, mengaku kaget saat membuka keran dan mendapati air yang keluar tidak lagi tampak jernih seperti biasanya.
"Biasanya airnya jernih. Tetapi Sabtu ini ketika saya membuka keran untuk menampung air, ternyata warnanya kecokelatan," ujar Djoko.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat dirinya memilih berhati-hati dalam menggunakan air, khususnya untuk kebutuhan konsumsi. Ia berharap Perumdam Tirta Satria segera memberikan penjelasan mengenai penyebab perubahan warna air sekaligus memastikan kualitas air yang diterima pelanggan.
Djoko juga mengaku telah berupaya menyampaikan keluhan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas. Namun, hingga keluhan disampaikan, ia mengaku belum memperoleh tanggapan maupun solusi terkait persoalan tersebut.
"Sudah berusaha menyampaikan keluhan kepada pemerintah kabupaten, tetapi sampai sekarang belum ada yang bisa menanggapi masalah ini," katanya.
Ia berharap Perumdam Tirta Satria melakukan pengecekan terhadap jaringan distribusi maupun sumber air untuk mengetahui penyebab air berubah warna.
Pelanggan juga meminta informasi disampaikan secara terbuka apabila perubahan warna air berkaitan dengan perawatan jaringan, gangguan distribusi, perbaikan kebocoran, maupun proses teknis lainnya.
Direktur Teknis Perumdam Tirta Satria Kabupaten Banyumas, Wipi Supriyanto, S.T., M.I.Kom., menjelaskan bahwa kondisi air keruh salah satunya berkaitan dengan berkurangnya debit air selama musim kemarau.
Menurut Wipi, penurunan debit tersebut cukup signifikan sehingga Perumdam mengoperasikan pompa dari sumber cadangan berupa sumur dalam.
Pengoperasian sumber cadangan tersebut menyebabkan perubahan tekanan pada jaringan. Kondisi itu, kata dia, dapat membuat endapan yang sebelumnya berada di dalam pipa ikut terlepas dan terbawa aliran air hingga ke pelanggan.
"Penyebab keruh, musim kemarau menyebabkan debit berkurang signifikan. Kami berupaya menghidupkan pompa sumber cadangan yaitu sumur dalam, sehingga terjadi perubahan tekanan yang menyebabkan endapan dalam pipa ikut rontok dan terbawa sampai ke pelanggan," jelas Wipi.
Selain perubahan tekanan, Perumdam juga melakukan rekayasa distribusi untuk pemerataan aliran air kepada pelanggan.
Rekayasa tersebut dilakukan melalui pengaturan maupun penambahan valve pada jaringan. Dalam pelaksanaannya, petugas harus melakukan penggalian di sejumlah titik.
Wipi menjelaskan, proses pekerjaan tersebut juga berpotensi membawa material atau kotoran masuk dan terbawa ke dalam jaringan distribusi.
"Di samping itu ada rekayasa pemerataan dengan pengaturan atau penambahan valve yang harus digali. Proses penggalian ini juga ada kotoran yang terbawa ke jaringan," katanya.
Faktor lain yang disebut turut menyebabkan air keruh adalah pekerjaan perbaikan kebocoran pada jaringan.
Menurut Wipi, proses perbaikan kebocoran dengan metode penggalian terbuka dapat menyebabkan kondisi air di sekitar titik pekerjaan menjadi keruh. Material tersebut kemudian berpotensi terbawa masuk ke jaringan.
"Penyebab keruh lainnya adalah perbaikan bocoran. Dengan menggali secara terbuka tentu ada proses di mana pada titik tersebut keruh dan terbawa masuk jaringan," ujarnya.
Wipi menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan yang terdampak perubahan kondisi air tersebut.
Ia memastikan Perumdam Tirta Satria terus melakukan upaya perbaikan agar pelayanan kepada masyarakat kembali optimal.
"Mohon maaf kepada semua pelanggan yang terdampak. Kami terus berupaya untuk perbaikan, dan akan melakukan blow off ( pembuangan udara dinsaluran pipa ) kata Wipi.
Selain itu, Perumdam mengimbau pelanggan memiliki tandon air dengan kapasitas yang memadai sebagai salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan air di rumah, terutama selama kondisi kemarau dan ketika terjadi gangguan atau perubahan teknis pada jaringan distribusi.
"Dan kami mengimbau untuk mempunyai tandon air yang cukup," pungkasnya.
Editor: Eddie Prayitno