Dari Ladang Sarawak Menatap Dunia, Anak-Anak PMI Rawat Mimpi Lewat Pendidikan
SARAWAK, MALAYSIA, iNewsPantura.id — Jauh dari tanah kelahiran dan tumbuh di tengah kawasan perladangan Sarawak, Malaysia, anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Community Learning Center (CLC) Ladong, Simunjan, tetap menyimpan mimpi besar.
Bagi mereka, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berharap. Justru dari ruang belajar sederhana itulah, cita-cita untuk meraih masa depan terus dirawat.
Semangat itu terlihat saat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP Unsoed) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional di CLC Ladong, Simunjan, Sarawak, Malaysia, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut menyasar anak-anak PMI yang menempuh pendidikan mulai jenjang PAUD hingga SMP. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Pontianak, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Barat.
Di tengah keterbatasan kondisi dan persoalan dokumen kependudukan yang dialami sebagian keluarga, anak-anak tersebut tetap menunjukkan antusiasme mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
Salah satunya Muhammad Nanang Sopian, siswa kelas 8 CLC Ladong. Mengikuti kegiatan yang digelar FISIP Unsoed membuat semangatnya untuk mengejar cita-cita semakin tumbuh.
Nanang mengaku semakin termotivasi untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik, terutama demi membahagiakan kedua orang tuanya.
“Setelah mengikuti kegiatan ini saya jadi lebih semangat untuk meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua. Saya ingin menjadi atlet badminton,” ujar Nanang.
Cita-cita sederhana itu menjadi gambaran bahwa anak-anak CLC Ladong tidak hanya membutuhkan akses pendidikan, tetapi juga ruang untuk bermimpi dan mendapatkan keyakinan bahwa masa depan mereka terbuka luas.
Sementara Nabilah Nofalia Putri, kelas IX, asal NTB (Bima), yang bercita-cita menjadi dokter, mengungkapkan kerinduannya untuk kembali ke Indonesia. Dalam secarik kertas bertuliskan “Yang saya pikirkan”, Nabilah menulis sederhana namun penuh makna, “Saya ingin pulang ke Indonesia, saya ingin lebih baik dari sebelumnya.” Kalimat singkat tersebut menjadi gambaran harapan seorang anak untuk kembali ke tanah air sekaligus melanjutkan kehidupan dan pendidikan dengan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FISIP Unsoed, Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si., mengatakan kehadiran FISIP Unsoed di CLC Ladong merupakan bentuk kepedulian terhadap anak-anak PMI yang selama ini kerap luput dari perhatian.
“Anak-anak ini punya hak yang sama untuk bermimpi besar, meski hidup jauh dari kampung halaman dan dalam keterbatasan. Yang mereka butuhkan bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi pendampingan yang membuka wawasan bahwa dunia mereka bisa lebih luas,” katanya.
Tyas mengatakan FISIP Unsoed akan mengupayakan keberlanjutan program tersebut melalui KKN internasional. Selain itu, para orang tua juga didorong untuk memberikan motivasi agar anak-anak CLC memiliki keberanian melanjutkan pendidikan ke Indonesia.
Menurutnya, peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya jalur beasiswa seperti ADEM dan ADIK TKI.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FISIP Unsoed, Prof. Dr. Mite Setiansah, M.Si., menekankan pentingnya literasi digital bagi anak-anak PMI.
“Anak-anak di sini hidup di dunia digital yang sama dengan anak-anak di kota besar. Kalau mereka tidak dibekali kecakapan menjaga diri di ruang digital, mereka akan menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban kejahatan siber,” ujarnya.
Materi literasi digital kemudian disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami para siswa. Mereka diajak mengenali berbagai modus kejahatan siber sekaligus memahami pentingnya menjaga data pribadi ketika beraktivitas di dunia maya.
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed, Dr. Edi Santoso, M.Si., yang membawakan materi Etika Digital: Bijak dan Bertanggung Jawab di Dunia Maya, juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial.
“Kami ingin anak-anak ini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga memahami cara memilah mana informasi yang benar sebelum dibagikan,” katanya.
Tantangan pendidikan anak PMI di Sarawak sendiri masih cukup besar.
Koordinator Penghubung CLC Wilayah Sarawak, Muhammad Rosidin, mengungkapkan terdapat 62 Pusat Pembelajaran Komuniti (CLC) yang beroperasi di kawasan perladangan di Sarawak. Namun, baru 16 CLC yang telah terdaftar secara resmi dengan Kementerian Pendidikan Malaysia.
CLC menjadi salah satu akses penting bagi anak-anak pekerja migran Indonesia untuk memperoleh pendidikan dasar hingga menengah di tengah kondisi mereka yang tinggal di kawasan perkebunan.
Dalam PKM internasional tersebut, FISIP Unsoed mengangkat tiga tema utama, yakni “Menjadi Gen Z yang Cakap dan Aman Digital”, “Dari CLC Menaklukkan Dunia”, dan “Menjadi Jurnalis Media Baru”.
Selain literasi digital dan media, siswa juga mendapatkan motivasi untuk berani menentukan masa depan melalui tiga hal sederhana: rajin belajar, memilih lingkungan pertemanan yang positif, dan berani memiliki cita-cita besar.
Kisah sejumlah alumni CLC yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto turut ditampilkan sebagai inspirasi.
Di tempat yang jauh dari Indonesia itu, mimpi-mimpi kecil pun mulai menemukan jalannya.
Ada yang ingin menjadi atlet badminton seperti Nanang. Ada pula yang mungkin kelak menjadi guru, dokter, jurnalis, atau profesi lainnya.
Dari ladang-ladang Sarawak, anak-anak PMI sedang belajar menatap dunia. Dan melalui pendidikan, mereka sedang menulis sendiri jalan menuju masa depan—bukan sekadar untuk diri mereka, tetapi juga untuk membahagiakan orang tua dan membawa harapan pulang ke Tanah Air.
Editor: Suryo Sukarno