Cekcok Ayah dan Anak di Kudus Berujung Maut, Pria 34 Tahun Tewas Ditusuk
KUDUS,iNewsPantura.id – Perselisihan antara ayah dan anak di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berujung maut. Seorang pria berinisial FA (34) meninggal dunia setelah mengalami luka tusuk yang diduga dilakukan ayah kandungnya, T (70), menggunakan pisau dapur.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 23.30 WIB. FA sempat dilarikan ke RS Mardi Rahayu Kudus untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, nyawa korban tidak tertolong. FA dinyatakan meninggal dunia pada Jumat 25 september 2026 sekitar pukul 01.45 WIB setelah sempat menjalani perawatan.
Kapolsek Jati AKP Subkhan membenarkan peristiwa tersebut. Polisi masih mendalami rangkaian kejadian, termasuk pemicu perselisihan yang berujung penusukan.
“Ayahnya sudah jengah dengan perilaku anaknya yang sering mabuk dan memukulinya. Untuk lengkapnya masih kami lakukan pemeriksaan,” kata Subkhan, Jumat 25 september 2026.
Dari pemeriksaan awal, korban mengalami luka tusuk pada bagian dada. Setelah kejadian, korban langsung dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.
“Ada luka tusukan di bagian dada. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit. Setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit, korban meninggal,” ujarnya.
Polisi telah mengamankan T untuk menjalani pemeriksaan. Tim Inafis Polres Kudus juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan pisau yang diduga digunakan dalam kejadian tersebut.
Penyidik masih memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kronologi secara lengkap. Polisi juga menunggu hasil autopsi guna memastikan penyebab kematian korban.
“Ancaman hukumannya masih kami dalami dulu. Saat ini masih melakukan pemeriksaan. Sedangkan korban dinyatakan meninggal hari ini pukul 01.45 WIB,” kata Subkhan.
Kepala Desa Jati Kulon Hery Supriyanto mengatakan, perselisihan antara T dan FA bukan kali pertama terjadi. Keduanya diketahui tinggal dalam satu rumah dan beberapa kali terlibat pertengkaran.
Menurut Hery, FA kerap pulang larut malam dalam kondisi mabuk dan kemudian terjadi cekcok dengan ayahnya.
“Setiap pulang malam hari selalu cekcok dengan ayahnya. Alat pancing ayahnya juga pernah dibakar,” jelas Hery.
Hal serupa disampaikan Ketua RT setempat, Supardi. Ia mengatakan pertengkaran antara keduanya telah berlangsung cukup lama.
“Tidak hanya semalam. Setiap harinya memang sering ribut. Anaknya setiap pulang pasti mabuk dan ayahnya dipukuli,” kata Supardi.
FA diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Tiga saudaranya telah tinggal di tempat berbeda, sedangkan ibu FA disebut telah lama meninggal dunia.
Kakak pertama korban, Jami'ah, membenarkan bahwa hubungan FA dengan ayahnya memang kerap diwarnai perselisihan. Ia menyebut adiknya sering pulang dalam kondisi mabuk dan kemudian marah-marah di rumah.
“Sasarannya pasti pukul orang tua. Dia seperti itu dengan keluarga saja. Sama tetangga tidak,” ujar Jami'ah saat ditemui di lokasi.
Menurut Jami'ah, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Bahkan ketika ibu mereka masih hidup, FA disebut beberapa kali marah dan melakukan kekerasan terhadap ibunya.
Di sisi lain, kondisi T yang telah berusia 70 tahun disebut mengalami penurunan karena faktor usia. Supardi mengatakan, T bahkan pernah meninggalkan rumah dan tidak pulang selama beberapa hari.
“Bapaknya juga sudah linglung karena usianya sudah tua. Bahkan pernah hilang tidak pulang selama tiga hari pada bulan Agustus lalu,” ucap Supardi.
Hingga Jumat siang, garis polisi masih terpasang di rumah yang menjadi lokasi kejadian. Sejumlah warga terlihat berada di sekitar lokasi dan membicarakan peristiwa yang terjadi pada malam sebelumnya.
Polisi masih memeriksa T dan sejumlah saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh. Hasil autopsi juga akan menjadi bagian dari proses penyidikan sebelum polisi menentukan langkah hukum selanjutnya.
KUDUS,iNewsPantura.id – Perselisihan antara ayah dan anak di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berujung maut. Seorang pria berinisial FA (34) meninggal dunia setelah mengalami luka tusuk yang diduga dilakukan ayah kandungnya, T (70), menggunakan pisau dapur.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 23.30 WIB. FA sempat dilarikan ke RS Mardi Rahayu Kudus untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, nyawa korban tidak tertolong. FA dinyatakan meninggal dunia pada Jumat 25 september 2026 sekitar pukul 01.45 WIB setelah sempat menjalani perawatan.
Kapolsek Jati AKP Subkhan membenarkan peristiwa tersebut. Polisi masih mendalami rangkaian kejadian, termasuk pemicu perselisihan yang berujung penusukan.
“Ayahnya sudah jengah dengan perilaku anaknya yang sering mabuk dan memukulinya. Untuk lengkapnya masih kami lakukan pemeriksaan,” kata Subkhan, Jumat 25 september 2026.
Dari pemeriksaan awal, korban mengalami luka tusuk pada bagian dada. Setelah kejadian, korban langsung dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian dinyatakan meninggal dunia.
“Ada luka tusukan di bagian dada. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit. Setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit, korban meninggal,” ujarnya.
Polisi telah mengamankan T untuk menjalani pemeriksaan. Tim Inafis Polres Kudus juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan pisau yang diduga digunakan dalam kejadian tersebut.
Penyidik masih memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kronologi secara lengkap. Polisi juga menunggu hasil autopsi guna memastikan penyebab kematian korban.
“Ancaman hukumannya masih kami dalami dulu. Saat ini masih melakukan pemeriksaan. Sedangkan korban dinyatakan meninggal hari ini pukul 01.45 WIB,” kata Subkhan.
Kepala Desa Jati Kulon Hery Supriyanto mengatakan, perselisihan antara T dan FA bukan kali pertama terjadi. Keduanya diketahui tinggal dalam satu rumah dan beberapa kali terlibat pertengkaran.
Menurut Hery, FA kerap pulang larut malam dalam kondisi mabuk dan kemudian terjadi cekcok dengan ayahnya.
“Setiap pulang malam hari selalu cekcok dengan ayahnya. Alat pancing ayahnya juga pernah dibakar,” jelas Hery.
Hal serupa disampaikan Ketua RT setempat, Supardi. Ia mengatakan pertengkaran antara keduanya telah berlangsung cukup lama.
“Tidak hanya semalam. Setiap harinya memang sering ribut. Anaknya setiap pulang pasti mabuk dan ayahnya dipukuli,” kata Supardi.
FA diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Tiga saudaranya telah tinggal di tempat berbeda, sedangkan ibu FA disebut telah lama meninggal dunia.
Kakak pertama korban, Jami'ah, membenarkan bahwa hubungan FA dengan ayahnya memang kerap diwarnai perselisihan. Ia menyebut adiknya sering pulang dalam kondisi mabuk dan kemudian marah-marah di rumah.
“Sasarannya pasti pukul orang tua. Dia seperti itu dengan keluarga saja. Sama tetangga tidak,” ujar Jami'ah saat ditemui di lokasi.
Menurut Jami'ah, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Bahkan ketika ibu mereka masih hidup, FA disebut beberapa kali marah dan melakukan kekerasan terhadap ibunya.
Di sisi lain, kondisi T yang telah berusia 70 tahun disebut mengalami penurunan karena faktor usia. Supardi mengatakan, T bahkan pernah meninggalkan rumah dan tidak pulang selama beberapa hari.
“Bapaknya juga sudah linglung karena usianya sudah tua. Bahkan pernah hilang tidak pulang selama tiga hari pada bulan Agustus lalu,” ucap Supardi.
Hingga Jumat siang, garis polisi masih terpasang di rumah yang menjadi lokasi kejadian. Sejumlah warga terlihat berada di sekitar lokasi dan membicarakan peristiwa yang terjadi pada malam sebelumnya.
Polisi masih memeriksa T dan sejumlah saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh. Hasil autopsi juga akan menjadi bagian dari proses penyidikan sebelum polisi menentukan langkah hukum selanjutnya.
Editor: Eddie Prayitno