Ujungan, Tradisi Adu Rotan di Banjarnegara untuk Memohon Hujan dan Lestarikan Budaya Leluhur
BANJARNEGARA, iNewsPantura.id - Tradisi Ujungan kembali digelar masyarakat Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tradisi adu rotan ini menjadi ikhtiar masyarakat untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau panjang, sekaligus melestarikan budaya leluhur.
Dua petarung Ujungan saling berhadapan di tengah arena Lapangan Krida Manunggal, Desa Gumelem Wetan. Diiringi suara gamelan dan sorak-sorai penonton, keduanya terlebih dahulu menampilkan gerakan tari sebelum saling menyabetkan rotan ke bagian kaki.
Meski terlihat seperti pertarungan fisik, Ujungan bukan sekadar adu kekuatan. Tradisi yang dilakukan secara turun-temurun ini memiliki nilai budaya dan menjadi bagian dari ritual masyarakat setempat.
Tradisi tersebut diinisiasi pemerintah desa bersama tokoh adat. Para pendekar Ujungan yang terlibat tidak hanya berasal dari Gumelem Wetan, tetapi juga Gumelem Kulon dan sejumlah desa sekitar, termasuk dari wilayah Purbalingga dan Banyumas.
Tokoh adat Gumelem Wetan, Budi Sulistyo, mengatakan para peserta wajib menjunjung tinggi sportivitas. Jalannya pertarungan juga diawasi oleh landhang atau wasit yang memastikan seluruh aturan dipatuhi.
"Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam, selesai bertarung mereka berdamai, bersalaman dan berpelukan," ujar Budi.
Sejak 1980, aturan dalam tradisi Ujungan diperketat untuk menjaga keselamatan peserta. Sabetan rotan kini hanya diperbolehkan mengenai bagian paha ke bawah.
Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi. Secara historis, tradisi tersebut disebut tidak pernah menimbulkan cedera parah maupun korban jiwa.
Budi menjelaskan, ritual Ujungan biasanya digelar pada Jumat Kliwon. Jika hujan turun setelah pelaksanaan, tradisi tidak akan dilanjutkan pada pekan berikutnya.
"Ritual ini kita mulai pada hari ini, Jumat Kliwon. Kalau besok langsung turun hujan, Jumat depan sudah tidak ada lagi. Tapi kalau belum turun hujan, maka akan dilanjutkan pada hari Jumat berikutnya," katanya.
Didorong Jadi Warisan Budaya Tak Benda Pemerintah Kabupaten Banjarnegara turut mendukung pelestarian tradisi Ujungan.
Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan Ujungan merupakan aset budaya leluhur yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
"Tentunya kami harapkan ini diuri-uri terus agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang," ujar Hendro.
Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Pemkab Banjarnegara juga telah mengusulkan kesenian Ujungan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
"Pemkab Banjarnegara mendukung penuh. Tradisi Ujungan ini kita daftarkan sebagai WBTB," katanya.
Kepala Disparbud Banjarnegara, Tursiman, mengatakan tidak hanya Ujungan yang diusulkan menjadi WBTB. Ada tiga potensi budaya lokal lainnya yang turut diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan, yakni Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu.
"Kita sudah mengusulkan Ujungan, Batik Gumelem, Keramik Klampok dan Dawet Ayu untuk ditetapkan jadi WBTB. Harapannya dari potensi lokal ini akan ada multiplier effect menjadi daya tarik wisata dan menggerakan ekonomi masyarakat sekitar," ujar Tursiman.
Selain menjadi upaya melestarikan budaya leluhur, keberadaan Ujungan diharapkan dapat memperkuat potensi wisata budaya Banjarnegara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Editor: Suryo Sukarno