Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tak Lagi Monoton, Pembelajaran Digital Diterapkan di PMS Kendal
Advertisement . Scroll to see content

Tak Sekadar Mengaji, Dua Santri Temanggung Ini Terbitkan Buku Inspiratif

Senin, 19 Oktober 2026 | 16:20 WIB
  • author Didik Dono Hartono
Tak Sekadar Mengaji, Dua Santri Temanggung Ini Terbitkan Buku Inspiratif
Dua pelajar menunjukan buku karyanya. dokumen

TEMANGGUNG, iNewsPantura.id – Keterbatasan fasilitas dan waktu, tak menyurutkan langkah dua santri Pondok Pesantren Karang Santri, Desa Bandunggede, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, untuk melahirkan karya. Berbekal kepekaan terhadap persoalan di sekitar mereka, keduanya berhasil menerbitkan buku dengan pesan yang menyentuh kehidupan manusia dan kepedulian terhadap lingkungan.

Karya Muna Fatinabila, 20, dan Fellyn Maulina Ekasari, 15, tersebut diluncurkan dalam peringatan Bulan Bahasa di SMA Nur Lintang, Kompleks Pondok Pesantren Karang Santri, Bandunggede, Kedu, Temanggung, Senin 19 oktober 2026.

Mengusung tema “Bahasa Merawat Tradisi, Santri Menginspirasi Negeri”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para santri untuk menunjukkan bahwa bahasa dan tulisan bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga media untuk menyampaikan gagasan, menebarkan inspirasi, dan mengajak masyarakat melakukan perubahan.

Muna merupakan penulis buku Love Yourself Again, sedangkan Fellyn mengangkat kisah tentang sungai tercemar yang kembali bersih. Meski berbeda usia dan tema tulisan, keduanya memiliki semangat yang sama: menyampaikan pesan positif melalui karya.

Di tengah kesibukan menuntut ilmu agama di pesantren dan menjalani pendidikan formal, Muna dan Fellyn membuktikan bahwa dunia literasi bisa tumbuh dari mana saja. Bahkan, salah satu di antara mereka sempat menulis naskah dengan tangan sebelum akhirnya dipindahkan ke perangkat digital.

Muna memilih mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, yakni pentingnya mencintai dan menghargai diri sendiri.

Melalui buku Love Yourself Again, mahasiswa semester tiga Universitas Dharma AUB Surakarta itu ingin mengajak pembaca memahami bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti harus selalu terhindar dari rasa sakit, kegagalan, maupun kekecewaan.

Menurutnya, proses bertumbuh merupakan perjalanan yang tidak selalu mudah. Seseorang perlu belajar menghadapi masa sulit, menerima kekurangan, dan tetap menghargai dirinya ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi Muna, menulis bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan buku. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menuangkan pikiran dan emosi yang ingin disampaikan kepada orang lain.

Kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak duduk di kelas IX SMP. Perjalanan itu kemudian membawanya menerbitkan novel pertamanya, Rainda, pada 2023, ketika masih duduk di kelas XII SMA.

Kini, melalui buku keduanya, Muna kembali berupaya menyampaikan pesan bahwa setiap orang berhak menerima dirinya sendiri, termasuk ketika sedang berada dalam fase kehidupan yang sulit.

Berbeda dengan Muna, Fellyn Maulina Ekasari memilih mengangkat persoalan lingkungan. Pada usianya yang baru 15 tahun, ia telah menuangkan keprihatinannya terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan ke dalam sebuah cerita.

Gagasan itu muncul dari pengamatannya terhadap perilaku masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang terkadang menganggap membuang sampah sembarangan sebagai hal biasa, terutama ketika tidak ada teguran dari lingkungan sekitar.

Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan dampak serius. Sampah yang menumpuk berpotensi memicu banjir, mencemari sungai hingga laut, serta membahayakan satwa yang hidup di dalamnya.

Dari persoalan sederhana yang kerap dijumpai sehari-hari itulah Fellyn mengembangkan cerita tentang sungai yang semula tercemar, kemudian kembali bersih.

Melalui karyanya, ia ingin mengingatkan pembaca bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Kesadaran terhadap kebiasaan kecil justru dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan perubahan.

“Harapan saya, semua orang memiliki kesadaran terhadap hal kecil maupun hal besar. Karena terkadang hal-hal kecil bisa menimbulkan dampak yang besar,” ujarnya.

Di tengah kesibukan sekolah dan kegiatan pesantren, Fellyn berusaha tetap meluangkan waktu untuk menulis. Ia biasanya memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah atau malam hari, selama tidak mengganggu waktu istirahat.

Lahirnya dua buku tersebut tidak terlepas dari pendampingan pihak sekolah. Kepala SMA Nur Lintang, Isnani Hidayah Rahmawati, mengatakan pembinaan dilakukan melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan kegiatan ekstrakurikuler menulis.

Pendampingan itu bertujuan memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mewujudkan gagasan menjadi karya nyata.

Menurutnya, setiap anak memiliki bakat dan potensi yang berbeda. Karena itu, sekolah perlu memberikan kesempatan agar kemampuan tersebut dapat berkembang.

Penerbitan buku karya Muna dan Fellyn diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lain untuk berani mencoba, berkarya, dan menunjukkan potensi yang dimiliki.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung, Djoko Prasetyono. Ia menilai keberhasilan pelajar menerbitkan buku merupakan bentuk pembelajaran nyata, terlebih ketika proses kreatif tersebut dijalani dengan keterbatasan fasilitas.

Salah satu santri bahkan sempat menulis naskah menggunakan tangan sebelum memindahkannya ke perangkat digital. Hal itu menunjukkan bahwa keterbatasan sarana tidak harus menjadi penghalang untuk berkarya.

Pengasuh Pondok Pesantren Karang Santri, Muchamad Nurul Yaqin, turut mendukung kegiatan positif yang dilakukan para santri. Menurutnya, momentum Bulan Bahasa dapat dimanfaatkan untuk menggali bakat, kreativitas, dan kemampuan siswa melalui karya tulis.

Peluncuran buku karya Muna dan Fellyn dalam peringatan Bulan Bahasa menjadi salah satu wujud nyata upaya mendorong budaya literasi di lingkungan pesantren. Keduanya menunjukkan bahwa santri tidak hanya dapat mengembangkan ilmu agama, tetapi juga menghasilkan karya yang relevan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Ia berharap para santri semakin berani mengeksplorasi potensi diri dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Harapan kami santri bisa mengeksplorasi bakatnya, kemudian tulisan-tulisan mereka menjadi karya-karya seni yang luar biasa,” ujarnya

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut