MCK Adaptif Jadi Andalan Warga Pasirkratonkramat Saat Rob di Pekalongan
PEKALONGAN,iNewsPantura.id – Bagi sebagian warga Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, memiliki toilet pribadi masih menjadi kebutuhan yang sulit diwujudkan.
Keterbatasan ekonomi dan ancaman banjir rob yang berulang membuat mereka harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sanitasi sehari-hari.
Kini, keberadaan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) Komunal Adaptif menjadi penopang bagi warga yang belum memiliki jamban sendiri.
Fasilitas yang dibangun melalui dukungan Adaptation Fund dan Kemitraan itu telah dimanfaatkan warga selama tiga tahun terakhir, termasuk ketika banjir rob menggenangi kawasan permukiman.
Wastiah, 60, salah seorang penerima manfaat, mengaku setiap hari menggunakan fasilitas tersebut bersama tiga anaknya. Mulai dari mandi, mencuci, hingga buang air, semuanya dilakukan di MCK komunal karena rumahnya belum memiliki jamban.
“Iya, setiap hari ke sini, buat buang air besar, kencing, atau mandi. Soalnya rumahnya tidak punya jamban,” ujar Wastiah.
Sebelum fasilitas itu tersedia, Wastiah dan keluarganya terpaksa menggunakan sungai untuk memenuhi kebutuhan buang air. Kondisi sungai yang kotor dan menghitam membuat kebiasaan tersebut berisiko bagi kesehatan. Belum lagi ancaman terjatuh ke sungai, terutama ketika harus buang air pada malam hari.
Dalam kondisi terdesak, Wastiah bahkan terkadang menggunakan kantong plastik sebelum membuangnya ke sungai. Situasi tersebut menjadi gambaran keterbatasan akses sanitasi yang dialami sebagian warga di kawasan pesisir tersebut.
“Iya, takut jatuh ke kali, apalagi kalau malam-malam pas kebeletnya. Kadang buang air di kresek, terus baru dibuang ke sungai,” tuturnya.
Keterbatasan ekonomi membuat Wastiah belum mampu membangun jamban sendiri. Terlebih, ancaman rob yang berulang menimbulkan kekhawatiran fasilitas sanitasi di rumah akan kembali rusak.
“Iya, bukan enggak mau, tapi enggak punya uang,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Sri Yatun, 51. Ia sebenarnya pernah memiliki toilet di rumah. Namun, banjir rob yang berulang membuat fasilitas tersebut rusak dan belum dapat diperbaiki hingga sekarang.
Akibatnya, Sri harus mengandalkan MCK komunal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Iya, dulu punya, tapi karena kena rob terus-menerus, banjir terus, akhirnya rusak belum dibenerin. Jadi kalau mau mandi atau buang air besar ya di sini,” ungkapnya.
Ketua RT 04/RW 03, Faisal Aris, 30, mengatakan sekitar 20 dari total 30 rumah di wilayahnya memanfaatkan MCK komunal karena tidak memiliki WC pribadi.
Sebelum fasilitas itu dibangun, warga biasanya menggunakan sungai atau menumpang di rumah tetangga maupun kerabat yang memiliki toilet. Kehadiran MCK komunal membuat warga memiliki tempat yang lebih layak dan mudah dijangkau untuk memenuhi kebutuhan sanitasi.
Menurut Faisal, salah satu keunggulan fasilitas tersebut adalah desain bangunan yang menyesuaikan kondisi lingkungan rawan rob. Pondasi dibuat lebih tinggi sehingga toilet tetap bisa digunakan ketika banjir rob melanda kawasan permukiman.
“Sangat berguna, apalagi ketika banjir rob, toiletnya masih tetap bisa digunakan. Memang warga di sini rata-rata bukan orang mampu. Jadi banyak yang tidak punya WC di rumah,” jelasnya.
MCK komunal tersebut dilengkapi enam bilik WC. Ketersediaan air yang bersih dan lancar turut mendukung aktivitas mandi, mencuci, serta buang air warga setiap hari.
Agar fasilitas dapat terus digunakan, warga menerapkan iuran bulanan sebesar Rp 10.000 untuk setiap rumah. Dana tersebut dipakai untuk membayar kebutuhan air dan listrik serta membeli perlengkapan kebersihan.
Selain mengandalkan iuran, warga juga bergotong royong membersihkan dan merawat bangunan. Partisipasi bersama itu diperlukan agar fasilitas tetap bersih, nyaman, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Faisal mengatakan warga berupaya menjaga fasilitas tersebut karena keberadaannya telah membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang belum mampu menyediakan toilet sendiri.
“Kita rawat bareng-bareng karena kami sudah dibantu, dibangunkan. Kami hanya tinggal merawat supaya bersih dan awet,” ujarnya.
Keberadaan MCK Komunal Adaptif di Pasirkratonkramat memperlihatkan bahwa persoalan sanitasi di kawasan pesisir tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga kemampuan ekonomi warga dan daya tahan infrastruktur menghadapi bencana.
Bagi keluarga seperti Wastiah dan Sri, MCK komunal bukan sekadar bangunan dengan sejumlah bilik toilet. Fasilitas tersebut menjadi jalan keluar dari keterbatasan yang selama ini memaksa mereka bergantung pada sungai atau menumpang di rumah orang lain.
Di tengah ancaman banjir rob yang terus membayangi permukiman pesisir Pekalongan, penyediaan sanitasi yang layak dan adaptif menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mendukung kualitas hidup masyarakat.
Editor: Eddie Prayitno