Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dua Atlet Meninggal, Pelaksanaan Porprov Jateng 2026 Jadi Bahan Evaluasi
Advertisement . Scroll to see content

Penanganan Rob Pantura Tak Hanya Andalkan Giant Sea Wall, Perlu Proteksi hingga Relokasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:06 WIB
  • author Wisnu Wardhana
Penanganan Rob Pantura Tak Hanya Andalkan Giant Sea Wall, Perlu Proteksi hingga Relokasi
ilustrasi

SEMARANG,iNewsPantura.id – Penanganan banjir dan rob di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Tengah membutuhkan strategi yang lebih menyeluruh.

Pembangunan tanggul laut atau Giant Sea Wall dinilai tidak cukup jika dijadikan satu-satunya solusi, mengingat persoalan pesisir melibatkan berbagai faktor, mulai dari penurunan muka tanah, perubahan iklim, kerusakan lingkungan hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Arif Ganda Purnama dari Prosper Global Indonesia mengatakan, setiap wilayah pesisir memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan berbeda. Karena itu, kebijakan penanganan banjir dan rob tidak bisa disamaratakan untuk seluruh kawasan Pantura.

Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara di Semarang, Jumat (30/10/2026). Menurutnya, penanganan kawasan pesisir harus mempertimbangkan kondisi geografis, karakteristik lingkungan, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

"Penanganan harus disesuaikan dengan tipologi wilayah masing-masing. Tidak bisa seluruh kawasan pesisir diperlakukan dengan pendekatan yang sama," menjadi pokok pandangan dalam kajian tersebut.

Besarnya persoalan banjir dan rob terlihat dari dampak ekonomi yang ditimbulkan. Di wilayah Pekalongan, nilai kerugian akibat banjir dan rob berdasarkan kajian yang dipaparkan mencapai Rp31,1 triliun. Sementara jika dihitung sepanjang pesisir Pantura Jawa Tengah, potensi kerugian diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah.

Dampak tersebut terutama dirasakan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan perikanan tambak. Genangan yang berlangsung berulang dapat mengganggu aktivitas produksi, merusak lahan, serta menghambat kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.

Salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah penurunan muka tanah atau land subsidence. Kondisi ini menyebabkan elevasi daratan semakin rendah sehingga kawasan pesisir lebih mudah terendam air laut.

Data Pemerintah Kota Pekalongan yang disampaikan melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 17 Oktober 2026 mencatat, permukaan tanah di kawasan Stadion Hoegeng mengalami penurunan sekitar 33 sentimeter sejak Maret 2020 hingga Oktober 2026. Saat ini, laju penurunannya diperkirakan mencapai 5–6 sentimeter per tahun.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Physics: Conference Series pada 2026. Berdasarkan pengamatan satelit Sentinel-1 periode 2016–2024, penurunan tanah di sejumlah bagian Pekalongan Utara tercatat melebihi 50 milimeter atau 5 sentimeter per tahun.

Selain penurunan tanah, perubahan iklim dan kenaikan muka air laut juga menambah tekanan terhadap kawasan pesisir. Kombinasi persoalan tersebut membuat penanganan banjir dan rob membutuhkan intervensi yang tidak hanya mengandalkan pembangunan fisik.

Dalam kajian menggunakan model ACZM (Spatial Modeling Integrated Coastal Zone Management) di Pekalongan, Demak, dan Semarang, kawasan pesisir dipetakan ke dalam tiga zona adaptasi, yakni protect, accommodate, dan retreat.

Zona protect merupakan kawasan yang membutuhkan perlindungan fisik melalui pembangunan tanggul maupun infrastruktur pengaman pantai. Pendekatan ini diterapkan pada wilayah yang masih memungkinkan dilindungi dengan rekayasa teknis.

Selanjutnya, zona accommodate atau akomodasi diarahkan pada kawasan yang masyarakatnya masih dapat bertahan dengan melakukan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan, termasuk menghadapi potensi genangan.

Sementara zona retreat merupakan pendekatan relokasi bagi wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi yang dinilai terlalu berisiko untuk terus dihuni. Pada kawasan tertentu, pemindahan masyarakat ke lokasi yang lebih aman dinilai perlu dipertimbangkan.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tanggul laut bukan jawaban tunggal untuk seluruh persoalan pesisir. Penanganan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan memberikan manfaat jangka panjang.

Selain penurunan muka tanah, kondisi ekosistem mangrove juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Di Pekalongan, termasuk kawasan Pekalongan Mangrove Park, tingkat keberhasilan hidup tanaman mangrove dilaporkan hanya berkisar 10–15 persen.

Tingginya salinitas dan kuatnya terjangan air laut menjadi tantangan dalam upaya pemulihan ekosistem tersebut.

Padahal, mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga kawasan pesisir, mengurangi energi gelombang, serta mendukung keberlanjutan lingkungan. Karena itu, rehabilitasi mangrove perlu dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian jenis tanaman, kondisi tanah, dan tingkat salinitas di setiap lokasi.

Sementara itu, Prosper Global Indonesia tengah melanjutkan kajian yang mencakup wilayah Kota Semarang, Kabupaten Demak, hingga kawasan hulu seperti Rawapening.

Pemetaan tersebut meliputi kawasan Sayung, Genuk, hingga Bonang di Kabupaten Demak, dengan fokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon dan DAS Tuntang.

Kajian ditargetkan selesai pada akhir 2026 atau awal 2027. Hasilnya diharapkan memberikan gambaran lebih terperinci mengenai tingkat kerugian dan kerentanan wilayah, sekaligus menjadi salah satu dasar dalam menentukan strategi penanganan banjir dan rob di Pantura Jawa Tengah.

Dengan pendekatan yang menggabungkan perlindungan infrastruktur, adaptasi masyarakat, pemulihan lingkungan, hingga relokasi pada kawasan tertentu, penanganan pesisir diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir dan rob.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut