Antisipasi Bencana di Musim Hujan, Dorong Penguatan Kolaborasi Kesiapsiagaan Lintas Sektor
BANJARNEGARA, iNewsPantura.id – Menghadapi potensi ancaman bencana hidrometeorologi pada masa peralihan musim hujan, Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya kesiapsiagaan melindungi masyarakat sekaligus meminimalisasi risiko bencana di kawasan rawan longsor dan tanah bergerak.
Hal tersebut ditegaskan Bupati saat memimpin Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Banjarnegara, Rabu (4/11/2026).
Amalia menuturkan, wilayah Kabupaten Banjarnegara didominasi kawasan perbukitan sehingga sangat rentan terhadap potensi bencana longsor dan pergerakan tanah, terutama saat diguyur hujan deras usai kemarau panjang.
Ia menginstruksikan para camat dan jajaran Forkopimcam untuk bergerak cepat menindaklanjuti hasil rakor hingga level bawah. Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh elemen—termasuk TNI, Polri, relawan, dan masyarakat—menjadi kunci utama penanganan bencana secara teratur dan terstruktur.
"Saya mohon keantisipasiannya lebih ditingkatkan dan koordinasi dengan Forkopimcam juga harus ditingkatkan, karena tentunya kolaborasi ini adalah kunci untuk mewujudkan kesiapsiagaan. Harapannya kita sampai dengan kondisi siaga saja, tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi segala sesuatu harus kita siapkan," ujar Amalia.
Mengingat lebih dari 70 persen wilayah Banjarnegara masuk dalam zona rawan bencana, Amalia meminta masyarakat aktif berpartisipasi dan tidak ragu memberikan laporan cepat jika menemukan gejala awal potensi bahaya.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat juga ikut berpartisipasi untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Karena kita ketahui bersama, wilayah Banjarnegara lebih dari 70 persen rawan bencana, ini harus menjadi kewaspadaan bersama untuk kita melakukan mitigasi," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara, Aji Piluroso mengungkapkan, kendati curah hujan saat ini masih berkategori normal, ancaman bencana tetap tergolong tinggi. Bahkan di awal musim hujan ini, tercatat sudah terjadi 7 kejadian bencana di Banjarnegara.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD bersama pihak terkait terus memacu mitigasi berbasis masyarakat, mulai dari penutupan rekahan tanah, pembersihan saluran air, hingga penanaman pohon. BPBD juga berkoordinasi dengan DPUPR dan DPKLH untuk memangkas potensi pohon tumbang akibat angin kencang.
Aji mengimbau warga di lokasi rawan agar tanggap mengenali gejala alam dan siap melakukan evakuasi mandiri.
"Jangan sampai masyarakat menganggap remeh gejala awal seperti retakan tanah atau gunturan yang sering kali dianggap biasa sebelum akhirnya terjadi longsor. Kami berharap masyarakat tetap tenang namun senantiasa waspada. Ketika terjadi hujan lebat dengan intensitas dan durasi yang cukup lama, kami mengimbau agar warga segera melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih aman," kata Aji.
Berdasarkan analisis Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, wilayah Banjarnegara mulai memasuki musim hujan pada awal November 2026. Intensitas hujan diprediksi meningkat drastis pada Desember 2026 hingga Januari 2027, dengan puncak musim hujan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.
"Fenomena cuaca pada masa pancaroba ini bisa berpotensi memicu hujan lebat dengan durasi singkat yang sangat intensif, sehingga masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan antisipasi terhadap potensi bencana," tutur Hery.
Editor: Eddie Prayitno