SEMARANG, iNewsPantura.id – Laju inflasi Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen. Pada Desember 2025, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 0,50 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,72 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang pada periode yang sama tercatat sebesar 0,64 persen (mtm) dan 2,92 persen (yoy).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menyampaikan, tekanan inflasi pada Desember 2025 terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,38 persen (mtm). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah menjadi faktor utama pendorong inflasi.
Peningkatan harga cabai rawit dan daging ayam ras dipengaruhi oleh naiknya permintaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Sementara itu, cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang Desember 2025 turut menyebabkan penurunan produksi komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit dan bawang merah.
Selain kelompok pangan, inflasi juga disumbang oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil sebesar 0,08 persen (mtm). Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga emas perhiasan seiring tren kenaikan harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi pada Desember 2025.
Bank Indonesia mencatat, harga emas global meningkat sejalan dengan naiknya permintaan investor terhadap aset safe haven akibat ketegangan geopolitik global serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada awal 2026. Sepanjang 2025, emas perhiasan secara konsisten menjadi penyumbang inflasi, kecuali pada Mei 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi emas perhiasan mencapai 62,35 persen (yoy), lebih dari dua kali lipat inflasi pada tahun 2024 yang sebesar 30,26 persen (yoy).
Tekanan inflasi juga datang dari kelompok Transportasi dengan andil 0,02 persen (mtm), seiring kenaikan harga bensin, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara akibat pemberian diskon tiket penerbangan domestik kelas ekonomi sebesar 13–14 persen pada periode 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.
Secara spasial, seluruh kota dan kabupaten Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatat inflasi tahunan pada 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Semarang sebesar 2,84 persen (yoy), disusul Kota Tegal 2,83 persen, Cilacap dan Kota Surakarta masing-masing 2,79 persen, serta Kudus 2,68 persen. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Rembang sebesar 2,47 persen (yoy).
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya. Upaya tersebut difokuskan pada menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang guna memastikan inflasi Jawa Tengah tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
