KUDUS, iNewsPantura.id – Soft launching SPBU 150QU atau SPBU 44.593.05 Tanjungkarang di kawasan Proliman, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, digelar Kamis (12/2/2026). Di balik seremoni peluncuran di bawah manajemen baru, sorotan publik justru tertuju pada persoalan klasik: distribusi dan stabilitas pasokan BBM di Kota Kretek.
Acara tersebut dihadiri Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, kalangan pengusaha, serta perwakilan organisasi usaha energi. Manajemen memastikan infrastruktur dan sumber daya manusia siap beroperasi. Namun operasional penuh dan grand launching masih menunggu instruksi resmi dari PT Pertamina Patra Niaga wilayah Jawa Tengah.
Manajemen baru yang dipimpin Yusuf Setiawan menegaskan komitmennya pada peningkatan pelayanan dan standar operasional. Seluruh pekerja disebut telah mengikuti pelatihan sesuai standar SMPOP dan pedoman operasional Pertamina.
“Kami tidak hanya mengejar omzet, tetapi ingin memperbaiki kualitas layanan dan meningkatkan daya saing SPBU,” ujar Yusuf.
Distribusi Masih Jadi Tantangan
Meski ada tambahan titik layanan, persoalan distribusi BBM di Kudus dinilai belum sepenuhnya tuntas. Berdasarkan data resmi PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, jumlah SPBU di Kabupaten Kudus mencapai sekitar 20 unit. Namun dalam beberapa periode, angka SPBU aktif sempat bervariasi antara 15 hingga 19 unit akibat faktor distribusi, perawatan, hingga dampak banjir.
Digitalisasi pembelian BBM melalui aplikasi MyPertamina juga pernah memicu antrean panjang saat masa transisi penerapan.
Pengamat energi menilai, soft launching tanpa kepastian jadwal operasional penuh berpotensi memperpanjang ketidakpastian layanan bagi masyarakat. Apalagi mobilitas warga Kudus tergolong tinggi, dengan banyak rumah tangga memiliki lebih dari satu kendaraan roda dua maupun roda empat.
Selain ketersediaan, isu kualitas BBM dan pengawasan distribusi juga kerap menjadi perhatian. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, dilakukan uji kualitas BBM di SPBU tertentu untuk memastikan standar terpenuhi dan tidak merugikan konsumen.
Target Rest Area Terpadu
Manajemen SPBU 150QU juga menargetkan pengembangan fasilitas tambahan seperti rest area terpadu. Konsep ini diharapkan menjadikan SPBU bukan sekadar tempat pengisian bahan bakar, tetapi juga titik layanan terpadu bagi pengguna jalan.
Publik kini menunggu langkah konkret—bukan hanya pembaruan manajemen, tetapi juga jaminan distribusi BBM yang stabil, transparan, dan bebas polemik.
Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, perbaikan layanan SPBU di Kudus menjadi lebih dari sekadar urusan bisnis—melainkan soal kepercayaan dan kepastian bagi masyarakat.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
