KENDAL,iNewsPantura.id - Siang itu, suasana di Pendopo Tumenggung Bahurekso tak seperti biasanya. Jika pada hari-hari normal ruangan itu menjadi pusat rapat dan kegiatan pemerintahan, di bulan Ramadan lantunan ayat suci Al-Qur’an justru terdengar bergema pelan namun syahdu.
Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Usai menunaikan shalat Dhuhur, para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kendal duduk berjajar rapi. Di tangan mereka, mushaf Al-Qur’an terbuka. Satu per satu ayat dilafalkan dengan tartil, menciptakan suasana religius yang menenangkan.
Bulan suci menjadi momentum bagi para ASN untuk tidak hanya menuntaskan pekerjaan administratif, tetapi juga memperkuat spiritualitas. Tadarus Al-Qur’an ini digelar rutin selama 15 hari berturut-turut setiap Ramadan. Setiap harinya, mereka menargetkan membaca rata-rata satu juz. Di penghujung kegiatan, khataman dilakukan untuk menggenapkan 30 juz.
Bagi sebagian ASN, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi ruang jeda di tengah padatnya tanggung jawab pelayanan publik. Sebuah pengingat bahwa di balik jabatan dan tugas, ada nilai-nilai spiritual yang perlu terus dirawat.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kendal, Muh Arif Masrukhin, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pembinaan mental dan rohani aparatur.
“Kami berharap Ramadan ini benar-benar menjadi momentum memperkuat nilai spiritual ASN, sehingga berdampak pada etos kerja dan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Pembimbing tadarus, Muhammad Syakir, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Mutasyakirin, menekankan pentingnya konsistensi membaca dan memahami Al-Qur’an. Menurutnya, Ramadan adalah bulan terbaik untuk mempererat hubungan dengan kitab suci.
“Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan. Jika itu dilakukan, dampaknya bukan hanya pada pribadi, tetapi juga pada lingkungan kerja dan masyarakat,” tuturnya.
Tradisi tadarus ini telah berjalan beberapa tahun terakhir. Di tengah dinamika birokrasi yang kerap identik dengan formalitas, kegiatan ini menghadirkan nuansa berbeda—lebih hening, lebih reflektif.
Ramadan di Kendal pun tak hanya terasa di masjid dan mushala, tetapi juga di pendopo pemerintahan. Lantunan ayat suci yang mengalun setiap siang seakan menjadi penegas bahwa pelayanan publik yang baik berawal dari hati yang bersih dan nilai yang kuat.
Dan dari Pendopo Bahurekso, gema Al-Qur’an itu terus mengalir—menyentuh ruang kerja, sekaligus ruang batin para abdi negara.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
