KUDUS, iNewsPantura.id -- Ratusan buruh yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPC KSPSI) Kabupaten Kudus akan memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2026, Jum’at (1/5) mendatang, di kawasan Balai Jagong. Dalam momentum tersebut, buruh menegaskan penolakan keras terhadap rencana penambahan layer atau golongan baru dalam industri rokok.
Sekretaris DPC KSPSI Kudus, Muh Makmun mengatakan, aksi peringatan May Day di Kudus memang dikemas dalam kegiatan sosial. Namun, di balik itu, ada pesan kuat yang akan disampaikan kepada pemerintah terkait kebijakan yang dinilai mengancam keberlangsungan pekerja.
“Kita memang tidak turun ke jalan seperti di kota lain, tapi sikap kami dalam aksi nanti jelas. Kami menolak rencana penambahan layer rokok karena dampaknya sangat serius bagi pekerja,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kegiatan akan diawali dengan apel bersama dan dilanjutkan aksi bersih-bersih di kawasan Balai Jagong, yang melibatkan sekitar 500 buruh pabrik rokok dari 49 Pimpinan Unit Kerja (PUK) KSPSI di berbagai perusahaan di Kudus.
Menurut Makmun, rencana penambahan layer dinilai berpotensi menekan industri rokok kretek, terutama segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di Kudus.
“Penambahan layer ini bukan sekadar soal aturan, tapi soal nasib pekerja. Kalau industri ditekan dengan kebijakan baru, yang pertama kena imbas adalah buruh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi lonjakan rokok ilegal sebagai dampak lanjutan dari kebijakan tersebut.
“Kalau harga rokok legal makin tinggi karena perubahan layer, pasar tidak hilang—dia pindah. Dan itu berbahaya, karena rokok ilegal bisa makin marak,” katanya.
Tak hanya itu, KSPSI Kudus menilai kebijakan tersebut bisa mempersempit ruang gerak industri, terutama pelaku usaha kecil dan menengah di sektor tembakau.
“Jangan sampai kebijakan ini mematikan industri lokal. Kalau produksi turun, jam kerja dikurangi, ujungnya PHK. Ini yang kami tolak,” tegas Makmun.
Ia menekankan bahwa buruh menjadi pihak yang paling rentan terdampak jika kebijakan tersebut tetap dipaksakan.
“Buruh selalu jadi pihak pertama yang merasakan dampak. Karena itu kami minta rencana penambahan layer ini dikaji ulang. Kalau memang merugikan, lebih baik dibatalkan,” tandasnya.
Selain isu layer, buruh juga menyoroti rencana pembatasan kadar tar dan nikotin dalam rokok yang masih dalam tahap kajian. Mereka meminta pemerintah tidak hanya melihat aspek kesehatan, tetapi juga dampak ekonomi dan ketenagakerjaan.
Dalam peringatan May Day ini, KSPSI turut mendorong kepastian regulasi ketenagakerjaan, termasuk perbaikan Undang-Undang Cipta Kerja agar tetap memberikan perlindungan bagi pekerja.
Peringatan May Day 2026 yang digelar KSPSI mengusung tema “Mengawal Regulasi Ketenagakerjaan yang Adil bagi Semua” sesuai instruksi DPD KSPSI Jawa Tengah.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
