Maryati, 50 Tahun Berjualan Jamu, Keliling Pelanggannya Bupati

Saladin Ayyubi
Maryati saat berjualan jamu keliling di wilayah kota Purwokerto

BANYUMAS, iNewsPantura.id - Di tengah hiruk-pikuk kota yang semakin modern, masih ada sosok-sosok tangguh yang mempertahankan warisan leluhur dengan cara paling sederhana berjualan jamu keliling menggunakan sepeda. Maryati (69), salah satunya adalah seorang ibu paruh baya yang sudah menggeluti dunia jamu sejak tahun 1975 saat usianya masih 19 tahun.

Saat ditemui sedang berjualan, ia terlihat  penuh semangat dan menceritakan perjalanan hidupnya. "Tahun 1975 sudah jualan jamu mas, dulu berjalan kaki keliling," ujarnya mengingat ?masa lalu.

Ibu asli Solo ini mengembangkan usaha yang sebenarnya sudah dirintis oleh sang ibu. “Ibu saya yang jualan jamu di Surabaya, lalu saya yang menjualnya, itu tugas saya," tuturnya sambil melayani pelanggan.

Meski begitu, semangatnya untuk melanjutkan tradisi tak pernah pudar. Dari tangan ibunya, ia belajar meracik dan menjajakan jamu hingga kini tetap setia menjalani rutinitas yang sama.

Setiap hari, rutinitasnya dimulai sangat pagi. “Pukul 3 pagi saya sudah buat jamu untuk saya jual berkeliling mas” ceritanya. Proses pembuatan dilakukan dengan telaten sebelum akhirnya ia keliling mulai pukul 6 pagi hingga pukul 12 siang.

 Jamu-jamu tersebut dijajakan di jalan-jalan, depan-depan rumah, dan area sekitar Solo serta Semarang saat itu. "Satu liter jamu dijual dengan harga yang sangat terjangkau, sekitar Rp400 hingga Rp500," imbuhnya.

Bahan-bahan dan bumbu ia kembangkan sendiri sesuai resep turun-temurun. Jamu paling laris? “Kunyit asem nih, sama asem,” jawabnya tanpa ragu. Dua varian klasik yang memang sering dicari masyarakat untuk menjaga kesehatan dan stamina.

Usaha jamu ini bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga warisan. Maryati  menceritakan anak-anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa. Salah satu anaknya berusia 48 tahun, bekerja sebagai guru di daerah barat, ada pula yang menjadi pegawai negeri hingga bidan dan polisi. Meski anak-anaknya sudah sukses di jalur masing-masing, ibu ini tetap tegar menjalankan usaha jamu.

Di balik senyuman dan semangatnya, ada perjuangan yang tak ringan. Namun, Maryati tak pernah menyerah. Jamu tetap ia buat dan jual dengan tangan sendiri, tanpa mesin canggih atau pemasaran digital yang rumit.

Bagi banyak orang, jamu hanyalah minuman tradisional. Bagi ibu ini, jamu adalah hidup. Dari Surabaya hingga Solo dan Semarang kini di Purwokerto. Ia terus mengembangkan usaha yang dimulai ibunya puluhan tahun lalu. Di era serba instan sekarang, keteguhan seorang ibu menjajakan jamu keliling menjadi pengingat bahwa rezeki halal sering datang dari kerja keras dan kesabaran yang luar biasa.

Meski usia semakin bertambah, panggilan “Bu Jamu” masih ia jawab setiap pagi dengan langkah ringan dan harapan yang sama: membawa kesehatan alami untuk masyarakat sambil menghidupi keluarga.

Dan kebanggaan bagi dia, ia pernah mempunyai pelanggan seorang bupati Banyumas Kolonel (Inf.) Poedjadi Djaring Bandajoeda yang menjabat sebagai Bupati Banyumas ke-26 atau ke-27. Dalam beberapa catatan sejarah) pada periode 1971 hingga 1978.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network