TEMANGGUNG, iNewsPantura.id – Jelang datangnya musim panen raya tembakau, Kementerian Pertanian Republik Indonesia akan segera mengambil langkah strategis agar hasil panenan petani dapat terserap secara maksimal oleh industri. Salah satunya adalah dengan membuka ruang komunikasi terhadap berbagai pabrikan yang ada.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Abdul Roni Angkat, usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) ke-IV Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan Pelantikan DPN APTI periode 2026-2031 di Pendopo Pengayoman Temanggung, pada Minggu (26/7).
Secara teknis, pihaknya akan mengumpulkan sekaligus melayangkan surat resmi kepada pihak industri yang berperan sebagai off taker guna mendalami hilirisasi dalam konteks pola penyerapan tembakau dari tingkat petani.
“Yang jelas kami ingin petani tembakau dapat berjaya di rumah sendiri. Tembakau adalah plasma nutfah Nusantara yang harus terus kita lestarikan bersama,” bebernya.
Abdul juga berpesan agar petani yang tergabung dalam asosiasi untuk terus berjuang dalam konteks nyata. Baik bagaimana agar budidaya dapat berjalan maksimal, memberikan input yang baik saat legislasi, hingga membuktikan level petani tembakau memiliki konsepsi yang matang menuju arah petani tembakau berdaulat di negeri sendiri.
“Yang jelas petani tembakau harus memiliki konsepsi yang matang. Kalau masalah regulasi yang dirasa menghimpit, tugas kami adalah melakukan sinkronisasi lintas kementerian agar semuanya dapat berjalan dengan baik,” tandasnya.
Ketua Umum DPN APTI Periode 2026-2031, Agus Parmuji, menyebut bahwa saat ini petani tembakau tengah memperjuangkan kedaulatan di tengah beragam regulasi yang menghimpit dunia pertembakauan. Oleh karenanya, langkah awal yang akan ditempuh asosiasi adalah menjajaki koordinasi serta konsultasi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga tingkat pemerintah kabupaten.
“Saat ini petani tembakau berada dalam masa pesakitan. Selama 5 tahun terakhir, hasil panenan belum terserap secara maksimal. Hal ini karena munculnya berbagai himpitan regulasi yang akan terus kami perjuangkan agar musim panen tembakau bisa berjaya seperti dulu kala,” ujarnya.
Pihaknya juga mendorong pihak Kementerian Pertanian agar senantiasa memberikan perlindungan terhadap budidaya tanaman tembakau. Mengingat masalah pertembakauan tidak dapat berhenti hanya di tingkat petani maupun asosiasi. Akan tetapi oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan atas berbagai regulasi itu sendiri.
‘Kalau mau dimatikan ya matikan saja, kalau dilanjutkan ya bagaimana upaya-upaya agar pertembakauan dapat menjadi pondasi ekonomi, terutama di tingkat pedesaan. Kami juga mendorong adanya asosiasi kepala daerah penghasil tembakau sebagai jembatan komunikasi kepentingan masyarakat. Undanglah mereka untuk berdiskusi sebelum menyusun sebuah kebijakan karena merekalah yang paham betul problematika di arus bawah,” bebernya.
Tak hanya pemerintah pusat, akan tetapi pemerintah daerah yang masuk ke dalam kategori wilayah sentra pertembakauan juga terus mengambil berbagai langkah strategis agar hasil panenan petani dapat terserap maksimal oleh industri dengan harga yang baik.
“Kita akan selalu bersinergi dan berdiskusi dengan pihak Kementerian Pertanian. Industri butuh kepastian iklim dan regulasi guna memastikan proses penyerapan hasil panenan petani. Untuk musim panen tahun ini, beberapa pabrikan golongan satu dan dua sudah menyampaikan komitmen dalam masalah penyerapan, nanti awal bulan Agustus kelihatan. Tetapi untuk masalah harga perlu diskusi bersama terlebih dahulu,” urai Bupati Temanggung, Agus Setyawan.
Sementara itu, Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi Abdul Haq Zaini, mengklaim bahwa pertembakauan memiliki dampak kuat dalam mendongkrak perekonomian masyarakat maupun pembagunan daerah. Meski demikian, sampai sejauh ini masih banyak masalah pertembakauan yang harus diperjuangkan bersama untuk menemui titik temu.
“Petani, industri, dan pemerintah sebagai regulator harus bersinergi agar muncul formula dan solusi dalam menyikapi problematika yang ada,” pungkasnya.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
