YOGYAKARTA, iNewsPantura.id – Mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi ramah lingkungan di Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Selain memasang lampu penerangan jalan tenaga surya, mereka juga mengembangkan briket berbahan sabut kelapa untuk meningkatkan pemanfaatan limbah sekaligus menambah nilai ekonomi masyarakat.
Sebanyak 28 mahasiswa KKN memasang delapan unit lampu tenaga surya di Desa Wonosobo dan Desa Rejoagung. Masing-masing desa mendapat empat titik lampu yang dipasang di lokasi minim penerangan.
Mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektro Sekolah Vokasi UGM, M. Farkhan Fauzan, mengatakan pemasangan lampu dilakukan setelah tim menemukan masih banyak ruas jalan yang gelap sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan maupun gangguan keamanan.
"Kalau untuk total titik yang dipasang ada delapan, empat di Wonosobo dan empat di Rejoagung. Saat malam kondisinya benar-benar gelap, sehingga lampu ini diharapkan bisa meningkatkan keselamatan warga," ujarnya.
Lampu tenaga surya tersebut dilengkapi sensor gerak sehingga cahaya akan otomatis lebih terang ketika ada kendaraan atau pejalan kaki melintas. Dengan biaya pemasangan sekitar Rp200 ribu per titik, lampu mampu menyala optimal sekitar delapan jam setiap malam.
Selain program penerangan jalan, mahasiswa juga mengolah limbah sabut kelapa menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif pengganti arang.
Koordinator Mahasiswa KKN Wonosobo, Layla Oktavia, mengatakan selama ini sabut kelapa hanya dibuang oleh warga, padahal memiliki potensi ekonomi jika diolah menjadi briket.
"Dari warga mungkin serabut kelapanya cuma dibuang. Padahal bisa dimanfaatkan menjadi briket pengganti arang dan memiliki nilai ekonomis," katanya.
Briket dibuat dengan membakar sabut kelapa hingga menjadi arang, kemudian dihaluskan menjadi serbuk dan dicampur tepung kanji sebagai perekat sebelum dicetak. Selain sabut kelapa, bahan baku briket juga dapat berasal dari abu bambu maupun limbah biomassa lainnya.
Kepala Dusun Lembangrejo, Suyut Warsito, mengapresiasi program mahasiswa KKN UGM karena memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama melalui pemasangan lampu penerangan jalan.
Sementara itu, warga Dusun Lembangrejo, Semi Hartati (54), mengaku mendapat pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sabut kelapa menjadi briket yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga.
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Rustamaji, mengatakan pada periode KKN antarsemester tahun ini UGM menerjunkan 8.178 mahasiswa di 32 provinsi.
"Sebagian besar program mengangkat tema ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim," paparnya.
Ia juga mengapresiasi pemerintah daerah, pemerintah desa, dan seluruh mitra yang telah mendukung pelaksanaan KKN sehingga berbagai program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
