PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Fathan Subchi, mendorong Universitas Jenderal Soedirman untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian.
Hal ini dilakukan agar mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dalam kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang pemaparan capaian akademik, tetapi juga forum evaluasi mengenai efektivitas inovasi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan.
Di hadapan jajaran BPK RI, Rektor Unsoed, Akhmad Sodiq, mempresentasikan berbagai inovasi hasil riset yang telah dikembangkan kampus.
Inovasi tersebut meliputi pengembangan klaster peternakan sapi potong, Smart Green House berbasis Internet of Things (IoT) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem fertigasi otomatis, varietas Padi Inpari Unsoed 79 Agritan, Pearl Millet, pupuk dan pestisida hayati, bank sampah berbasis komunitas, hingga beragam teknologi tepat guna yang mendukung ketahanan pangan dan pengembangan sumber daya perdesaan.
Rektor Unsoed menegaskan bahwa fokus utama kampus saat ini adalah memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah atau prototipe, tetapi mampu diterapkan secara luas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Kami ingin hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu dihilirisasikan sehingga memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, ketahanan pangan, pengembangan ekonomi daerah, serta mendukung pembangunan nasional," ujar Prof. Akhmad Sodiq.
Menurutnya, keberhasilan inovasi tidak lagi ditentukan oleh banyaknya penelitian yang dihasilkan, melainkan dari tingkat adopsinya oleh masyarakat, dunia usaha, maupun pemerintah sehingga mampu menciptakan nilai ekonomi dan membuka lapangan kerja.
Anggota VI BPK RI, Fathan Subchi, mengapresiasi berbagai inovasi yang telah dikembangkan Unsoed. Namun, ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan hasil riset benar-benar menjadi solusi atas berbagai persoalan pembangunan.
Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat harus diperkuat agar proses hilirisasi berjalan lebih cepat. Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu memanfaatkan hasil penelitian perguruan tinggi sebagai landasan dalam menyusun kebijakan pembangunan berbasis potensi lokal.
"Potensi daerah akan menghasilkan nilai tambah apabila didukung inovasi yang aplikatif dan tata kelola yang baik," ujarnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif turut membahas penguatan tata kelola, kolaborasi lintas sektor, serta strategi percepatan hilirisasi hasil penelitian. Forum tersebut menegaskan bahwa di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan percepatan pembangunan daerah, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya inovasi yang dihasilkan, tetapi dari kemampuannya mengubah riset menjadi solusi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
