KENDAL,iNewsPantura.id – Bagi sebagian orang, musim panen tembakau identik dengan kesibukan petani memetik daun yang telah menguning. Namun di Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, musim panen juga menjadi berkah bagi para perajang tembakau.
Dari suara mesin yang meraung sejak sore hingga malam, tersimpan peluang usaha yang mampu menghasilkan ratusan ribu rupiah setiap hari.
Kesibukan itu terlihat di tempat perajangan milik Sajari. Bersama Karman dan Sudarmo, ia nyaris tak pernah sepi pesanan ketika panen tembakau tiba. Tumpukan daun tembakau yang baru dipetik silih berganti datang untuk dirajang sebelum memasuki proses penjemuran.
Mengandalkan satu unit mesin perajang, ketiganya mampu menyelesaikan empat hingga lima bakal keranjang tembakau kering hanya dalam waktu sekitar enam jam.
"Kami bertiga bekerja sesuai tugas masing-masing. Ada yang membuka ikatan daun, ada yang mengoperasikan mesin, dan ada yang mengurai hasil rajangan supaya tidak menggumpal," ujar Sajari, Kamis (13/8/2026).
Keberadaan mesin membuat pekerjaan jauh lebih ringan dibandingkan beberapa tahun lalu. Dulu, proses merajang dilakukan secara manual menggunakan alat tradisional sehingga membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk menyelesaikan satu keranjang.
Kini, pekerjaan yang dulunya menguras tenaga dapat diselesaikan lebih cepat dengan hasil rajangan yang lebih seragam.
Tak heran, jasa perajangan menjadi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan selama musim panen. Untuk setiap satu bakal keranjang tembakau kering, tarif yang dikenakan mencapai Rp150 ribu. Jika sehari mampu menyelesaikan lima keranjang, nilai jasa yang diperoleh mencapai Rp750 ribu.
Meski demikian, pendapatan tersebut bukan sepenuhnya menjadi keuntungan. Hasilnya harus dibagi untuk tiga pekerja dan sebagian disisihkan sebagai biaya perawatan mesin agar tetap siap digunakan selama musim panen berlangsung.
"Mesin menjadi modal utama kami. Jadi sebagian hasil pekerjaan memang harus disisihkan untuk biaya perawatan," kata Sajari.
Menurutnya, musim panen tembakau bukan hanya menggerakkan ekonomi petani, tetapi juga menghidupkan usaha-usaha pendukung seperti jasa perajangan, pengangkutan, hingga tenaga penjemuran. Rantai ekonomi itu membuat banyak warga memperoleh tambahan penghasilan setiap tahunnya.
Fenomena serupa kini juga terlihat di sejumlah sentra tembakau Kabupaten Kendal, seperti Kecamatan Ringinarum, Ngampel, dan Pegandon. Meningkatnya penggunaan mesin perajang membuat proses pengolahan hasil panen semakin efisien sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
Di balik hamparan daun tembakau yang siap dijemur, suara mesin perajang menjadi penanda bahwa musim panen tidak hanya menghadirkan hasil bagi petani, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga yang menggantungkan penghasilan dari jasa pengolahan tembakau
Editor : Eddie Prayitno
