Kupat Landan Banjarnegara, Ketupat Merah Warisan Leluhur yang Kini Terancam Punah

Nurdin Fauzi
Kupat landan khas Klampok, Banjarnegara, berwarna kemerahan karena dimasak dengan air abu pelepah kelapa. Kuliner ini dibuat secara tradisional. Foto : iNewsPantura.id/ Nurdin Fauzi

BANJARNEGARA, iNewsPantura.id - Sekilas bentuknya mirip ketupat biasa. Namun, kupat landan di Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, memiliki warna kemerahan dan cita rasa khas yang membuatnya berbeda.

Kuliner warisan leluhur ini masih dibuat dengan cara tradisional menggunakan tungku kayu bakar dan air abu dari pembakaran pelepah kelapa. Sayangnya, di tengah upaya pelestarian, pembuat kupat landan kini tinggal sekitar lima hingga enam orang dan mayoritas sudah lanjut usia.

Kepala Desa Klampok Agus Supriyono mengatakan, kupat landan memiliki tekstur pulen dan kenyal dengan rasa gurih. Proses pembuatannya yang cukup lama dan membutuhkan keterampilan khusus membuat regenerasi pembuat kupat landan menjadi tantangan tersendiri.

"Harapan kami, kupat landan ini makin dikenal masyarakat luas, menumbuhkan minat UMKM serta menginspirasi generasi muda untuk ikut melestarikan identitas lokal Desa Klampok," kata Agus.

 

Salah satu pembuat kupat landan yang masih bertahan adalah Mbah Repi (71), warga Dusun Purwasari. Keahlian membuat kupat landan diperolehnya secara turun-temurun dari keluarga.

Dalam sehari, Mbah Repi biasanya membuat sekitar 30 biji kupat landan sembari berjualan pecel. Namun, produksinya bisa meningkat tajam saat ada acara ngapati, mitoni, hajatan, Lebaran maupun festival.

Proses pembuatannya pun tidak instan. Beras yang telah dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa direbus menggunakan air yang telah dicampur dan disaring dengan abu hasil pembakaran pelepah kelapa.

Kupat kemudian dimasak di atas tungku tradisional menggunakan kayu bakar selama sekitar tiga jam hingga matang sempurna.

Campuran air abu tersebut menghasilkan warna kemerahan yang menjadi ciri khas kupat landan. Selain memberikan warna, proses tradisional ini membuat kupat dapat bertahan hingga beberapa hari.

"Warna merahnya berasal dari campuran air abu yang digunakan saat menanak kupat. Kupat ini juga masih enak dikonsumsi dan bisa bertahan sampai tiga sampai empat hari," jelas Mbah Repi.

Kupat landan tidak hanya menjadi makanan sehari-hari. Kuliner ini juga lekat dengan berbagai tradisi masyarakat Desa Klampok.

Pesanan biasanya meningkat saat masyarakat menggelar berbagai acara keluarga maupun tradisi tertentu. Momentum Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringin juga menjadi salah satu saat ketika kuliner tersebut banyak diperkenalkan kepada masyarakat.

Pemerintah Desa Klampok bersama masyarakat kini terus berupaya mengenalkan kupat landan kepada generasi muda. Festival tahunan digelar bukan sekadar sebagai ajang kuliner, tetapi juga untuk menjaga tradisi pembuatan makanan khas tersebut agar tidak terputus.

Agus berharap kupat landan nantinya tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga mampu menjadi penggerak UMKM sekaligus identitas budaya Desa Klampok.

"Karena dengan kita mempromosikan kupat landan ini diharapkan nanti ada generasi-generasi penerus yang bisa melanjutkan proses pembuatannya agar tidak punah. Kita juga sedang berupaya mendorong kupat landan menjadi warisan budaya tak benda," ujarnya.

Di tengah gempuran kuliner modern, kupat landan menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak hanya soal rasa. Di balik warna merah dan proses pembuatannya yang panjang, tersimpan tradisi yang kini berpacu dengan waktu agar tidak hilang ditelan zaman.

Editor : Suryo Sukarno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network