MBG Buka Pasar Susu Peternak Lokal Semarang, Produksi Capai 24 Ribu Cup Sehari

Lurisa Lulu
Anak-anak menikmati susu segar dari peternak lokal. dokumen

UNGARAN,iNewsPantura.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menyasar pemenuhan gizi siswa. Program tersebut juga mulai membuka pasar baru bagi hasil produksi peternak sapi perah lokal di Kabupaten Semarang.

Susu segar dari peternak di kawasan Getasan kini diolah menjadi susu pasteurisasi oleh Rumah Susu Indonesia di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan. Produk tersebut kemudian dipasok untuk melengkapi menu MBG di sejumlah sekolah.

Pimpinan Rumah Susu Indonesia, Riyadi, mengatakan bahan baku susu diperoleh melalui kerja sama dengan koperasi di wilayah Getasan yang membina kelompok tani dan peternak sapi perah.

“Ini sesuai arahan dari Kepala BGN Pak Sudaryono, dalam rangka membantu peternak dalam hal susu. Untuk MBG juga diarahkan menggunakan susu segar yang minimal 80 persen kandungan susunya,” kata Riyadi.

Ia memastikan susu yang diproduksi Rumah Susu Indonesia menggunakan 100 persen susu murni. Getasan sendiri merupakan salah satu sentra produksi susu sapi perah di Kabupaten Semarang.

Saat ini, produk susu tersebut telah dipasok ke enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dari sisi produksi, Rumah Susu Indonesia memiliki kapasitas hingga 24.000 cup susu per hari apabila seluruh mesin beroperasi maksimal. Untuk memenuhi kapasitas tersebut, dibutuhkan sekitar tiga ton susu segar sebagai bahan baku setiap hari.

Pemanfaatan susu lokal dalam menu MBG juga mendapat respons positif dari sekolah. Kepala TK Harapan Desa Semowo, Eli Sulistiani, mengatakan para siswanya telah mengonsumsi susu produksi Rumah Susu Indonesia selama sekitar empat bulan.

Menurut Eli, susu tersebut disukai siswa karena rasanya segar dan kadar gulanya relatif rendah.

“Alhamdulillah, susu dari Rumah Susu Indonesia Kadirejo ini sangat disukai anak-anak. Rasanya juga enak, berkualitas bagus dan kadar gulanya rendah,” ujarnya.

Susu diberikan kepada siswa empat kali dalam sepekan. Bahkan, siswa kerap menanyakan ketika jadwal pemberian susu ditiadakan.

“Setiap Rabu tidak dapat, anak-anak sangat minta. ‘Bu, susunya mana?’ seperti itu,” kata Eli.

Hal serupa dirasakan siswa SD Negeri Kadirejo 03. Kepala sekolah Rokhaniah mengatakan susu tersebut mulai diberikan kepada siswa sejak awal tahun ajaran baru, 13 Juli 2026.

“Kalau menurut saya pribadi, lebih enak susu yang ini. Rasanya segar dan tidak terlalu enek,” katanya.

Menurutnya, kehadiran susu produksi daerah dalam program MBG tidak hanya memberikan tambahan asupan bagi siswa, tetapi juga ikut mendukung produk dan peternak lokal.

Di balik meningkatnya penggunaan susu pasteurisasi untuk MBG, Riyadi menyebut edukasi kepada masyarakat masih diperlukan. Hal itu penting agar masyarakat memahami karakteristik dan cara penyimpanan produk susu pasteurisasi.

Ia menjelaskan, susu pasteurisasi diproses pada suhu sekitar 72 derajat Celsius. Dengan penyimpanan dalam kondisi dingin, produk tersebut dapat bertahan sekitar tujuh hari.

Karena memiliki masa simpan terbatas, distribusi susu ke sekolah harus menyesuaikan jadwal pemberian MBG.

“Di sekolah itu biasanya sudah ada jadwal. Misalkan TK pukul 09.00 saat istirahat pertama, kemudian kalau SMA biasanya saat istirahat kedua,” jelasnya.

Masuknya susu produksi Rumah Susu Indonesia dalam menu MBG membuat rantai pemenuhan gizi siswa sekaligus terhubung dengan produksi peternak sapi perah lokal.

Susu segar yang dihasilkan peternak Getasan tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi diolah menjadi produk siap konsumsi dan kemudian disalurkan kembali ke sekolah-sekolah melalui program pemerintah.

UNGARAN,iNewsPantura.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menyasar pemenuhan gizi siswa. Program tersebut juga mulai membuka pasar baru bagi hasil produksi peternak sapi perah lokal di Kabupaten Semarang.

Susu segar dari peternak di kawasan Getasan kini diolah menjadi susu pasteurisasi oleh Rumah Susu Indonesia di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan. Produk tersebut kemudian dipasok untuk melengkapi menu MBG di sejumlah sekolah.

Pimpinan Rumah Susu Indonesia, Riyadi, mengatakan bahan baku susu diperoleh melalui kerja sama dengan koperasi di wilayah Getasan yang membina kelompok tani dan peternak sapi perah.

“Ini sesuai arahan dari Kepala BGN Pak Sudaryono, dalam rangka membantu peternak dalam hal susu. Untuk MBG juga diarahkan menggunakan susu segar yang minimal 80 persen kandungan susunya,” kata Riyadi.

Ia memastikan susu yang diproduksi Rumah Susu Indonesia menggunakan 100 persen susu murni. Getasan sendiri merupakan salah satu sentra produksi susu sapi perah di Kabupaten Semarang.

Saat ini, produk susu tersebut telah dipasok ke enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dari sisi produksi, Rumah Susu Indonesia memiliki kapasitas hingga 24.000 cup susu per hari apabila seluruh mesin beroperasi maksimal. Untuk memenuhi kapasitas tersebut, dibutuhkan sekitar tiga ton susu segar sebagai bahan baku setiap hari.

Pemanfaatan susu lokal dalam menu MBG juga mendapat respons positif dari sekolah. Kepala TK Harapan Desa Semowo, Eli Sulistiani, mengatakan para siswanya telah mengonsumsi susu produksi Rumah Susu Indonesia selama sekitar empat bulan.

Menurut Eli, susu tersebut disukai siswa karena rasanya segar dan kadar gulanya relatif rendah.

“Alhamdulillah, susu dari Rumah Susu Indonesia Kadirejo ini sangat disukai anak-anak. Rasanya juga enak, berkualitas bagus dan kadar gulanya rendah,” ujarnya.

Susu diberikan kepada siswa empat kali dalam sepekan. Bahkan, siswa kerap menanyakan ketika jadwal pemberian susu ditiadakan.

“Setiap Rabu tidak dapat, anak-anak sangat minta. ‘Bu, susunya mana?’ seperti itu,” kata Eli.

Hal serupa dirasakan siswa SD Negeri Kadirejo 03. Kepala sekolah Rokhaniah mengatakan susu tersebut mulai diberikan kepada siswa sejak awal tahun ajaran baru, 13 Juli 2026.

“Kalau menurut saya pribadi, lebih enak susu yang ini. Rasanya segar dan tidak terlalu enek,” katanya.

Menurutnya, kehadiran susu produksi daerah dalam program MBG tidak hanya memberikan tambahan asupan bagi siswa, tetapi juga ikut mendukung produk dan peternak lokal.

Di balik meningkatnya penggunaan susu pasteurisasi untuk MBG, Riyadi menyebut edukasi kepada masyarakat masih diperlukan. Hal itu penting agar masyarakat memahami karakteristik dan cara penyimpanan produk susu pasteurisasi.

Ia menjelaskan, susu pasteurisasi diproses pada suhu sekitar 72 derajat Celsius. Dengan penyimpanan dalam kondisi dingin, produk tersebut dapat bertahan sekitar tujuh hari.

Karena memiliki masa simpan terbatas, distribusi susu ke sekolah harus menyesuaikan jadwal pemberian MBG.

“Di sekolah itu biasanya sudah ada jadwal. Misalkan TK pukul 09.00 saat istirahat pertama, kemudian kalau SMA biasanya saat istirahat kedua,” jelasnya.

Masuknya susu produksi Rumah Susu Indonesia dalam menu MBG membuat rantai pemenuhan gizi siswa sekaligus terhubung dengan produksi peternak sapi perah lokal.

Susu segar yang dihasilkan peternak Getasan tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi diolah menjadi produk siap konsumsi dan kemudian disalurkan kembali ke sekolah-sekolah melalui program pemerintah.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network