Emak Petani Cabai Merah Gen Z ini Sukses Kembangkan 15 Ribu Tanaman dan Jaga Stabilitas Harga
BANYUMAS, iNewsPantura.id – Di lahan pertanian yang berada di Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, hamparan tanaman cabai merah tampak tumbuh subur. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat sosok petani muda perempuan, Rose Nur Cahyati, seorang ibu single parent dari generasi Z yang berhasil mengembangkan usaha budidaya cabai merah varietas Bostavi secara mandiri.
Rose mengelola lahan seluas 300 ubin dengan sistem sewa lahan dan menanam sekitar 15 ribu pohon cabai merah Bostavi. Saat ini, hasil panennya dipasarkan dengan harga sekitar Rp45 ribu per kilogram, mengikuti harga pasar yang relatif baik bagi petani.
Menurut Rose, varietas cabai merah Bostavi dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya produktivitas tinggi, buah berukuran seragam, warna merah cerah dan mengkilap, daya simpan yang cukup baik, serta ketahanan yang relatif kuat terhadap beberapa serangan penyakit tanaman. Kualitas buah yang baik juga membuat cabai jenis ini diminati pedagang maupun konsumen.
"Cabai Bostavi memiliki hasil yang cukup bagus. Dengan perawatan yang optimal, produktivitasnya tinggi dan kualitas buahnya juga disukai pasar," ujar Rose.
Dalam satu siklus produksi, tanaman cabai yang dibudidayakan Rose mampu menghasilkan panen berkali-kali. Pada fase bunga pertama, tanaman menghasilkan hingga 21 kali panen, sedangkan pada fase bunga kedua mencapai 15 kali panen. Pola panen berkelanjutan tersebut memungkinkan pasokan cabai tetap tersedia di pasar dalam waktu yang lebih panjang.
Keberhasilan Rose menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih memiliki peluang besar bagi generasi muda. Di tengah semakin berkurangnya jumlah petani usia produktif, kehadiran petani milenial dan Gen Z dinilai menjadi harapan baru bagi keberlanjutan sektor pertanian nasional.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam, Bapperida Banyumas, Ciptaning Dasyandani mengatakan regenerasi petani menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan pangan dan produktivitas pertanian di masa depan.
"Regenerasi petani harus terus didorong. Saat ini sektor pertanian membutuhkan lebih banyak petani muda dari kalangan milenial maupun Gen Z. Mereka membawa semangat baru, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pertanian," katanya.
Menurut Ciptaning, meningkatnya produksi cabai dari petani muda seperti Rose juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Cabai merupakan salah satu komoditas strategis yang kerap memengaruhi laju inflasi karena fluktuasi harganya cukup tinggi.
"Ketika produksi cabai lokal meningkat dan pasokan pasar terjaga, gejolak harga dapat ditekan. Kondisi ini membantu upaya pengendalian inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat," tambahnya.
Keberhasilan Rose Nur Cahyati di Kelurahan Pabuaran tidak hanya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian, tetapi juga menunjukkan bahwa sektor pertanian mampu menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi daerah dan ketahanan pangan masyarakat.
Editor: Eddie Prayitno