Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Koperasi Merah Putih Kendal Terkendala Lahan dan Pasokan
Advertisement . Scroll to see content

Sedekah Tanpa Henti, Sedekaholic Community Kendal Bertahan 11 Tahun Berbagi Nasi untuk Kaum Duafa

Jum'at, 05 Juni 2026 | 10:16 WIB
  • author Eddhie Prayitno
Sedekah Tanpa Henti, Sedekaholic Community Kendal Bertahan 11 Tahun Berbagi Nasi untuk Kaum Duafa
Relawan Sedekaholic Community Kendal saat berbagi nasi bungkus di jalanan Kota Kendal, eddie prayitno/iNews

KENDAL, iNewsPantura.id – Berawal dari tongkrongan sederhana sejumlah anak muda di Kecamatan Kaliwungu pada pertengahan tahun 2015, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada berbagi makanan kepada masyarakat kurang mampu kini telah memasuki tahun ke-11.

Komunitas yang dikenal dengan nama Sedekaholic Community Kendal itu hingga kini masih konsisten membagikan nasi bungkus setiap hari Jumat kepada para pekerja jalanan, tuna wisma, hingga masyarakat yang membutuhkan.

Pada masa awal berdirinya, para pendiri komunitas hanya mampu membagikan sekitar 50 bungkus nasi setiap pekan. Sasaran mereka adalah para tukang becak, penyapu jalan, pekerja informal, hingga tuna wisma yang sudah beraktivitas sejak dini hari dan sering kali belum sempat menikmati sarapan.

Berbeda dengan kegiatan sosial pada umumnya yang terpusat di satu lokasi, relawan Sedekaholic Community memilih berkeliling menyusuri jalan-jalan di Kaliwungu untuk mencari langsung penerima manfaat.

Mereka mendatangi para pekerja jalanan yang sedang beraktivitas hingga tuna wisma yang beristirahat di emperan toko.

Salah satu pendiri Sedekaholic Community, Eddie Prayitno, mengatakan bahwa kelompoknya juga tidak membeda-bedakan penerima bantuan, termasuk orang dengan gangguan kejiwaan yang ditemui di jalan.

“Kita juga memberikan nasi bungkus ini kepada orang gila yang ditemui di jalanan. Meski banyak tantangannya, kadang nasi dilempar atau dimarahi, namun kami hanya ingin berbagi kepada mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Keunikan lain dari komunitas ini adalah sumber pendanaannya. Sejak awal berdiri, kegiatan berbagi tidak dilakukan melalui penggalangan dana terbuka. Para relawan memilih mengumpulkan dana secara swadaya melalui patungan rutin setiap pekan.

Setiap Rabu malam, para relawan berkumpul untuk menyisihkan sebagian rezekinya. Dana yang terkumpul kemudian digunakan membeli nasi bungkus dari warung-warung kecil di sekitar mereka.

“Tidak pernah buka donasi untuk membeli nasi. Kita patungan sendiri dan uangnya dibelikan nasi di warung kecil. Sekaligus membantu pedagang kecil,” kata Eddie.

Konsistensi kegiatan yang rutin diunggah melalui media sosial ternyata menarik perhatian masyarakat. Setelah berjalan sekitar enam bulan, semakin banyak warga yang tergerak untuk ikut bergabung dan membentuk pos-pos berbagi di sejumlah wilayah lain.

Dari yang semula hanya bergerak di Kaliwungu, kegiatan Sedekaholic Community kemudian berkembang ke Kota Kendal, Weleri, Boja, Patebon hingga Gemuh. Meski demikian, komunitas ini tetap mempertahankan konsep sederhana tanpa struktur organisasi formal maupun status yayasan.

Menurut Eddie, Sedekaholic Community sejak awal memang dibangun sebagai gerakan sosial berbasis keikhlasan, bukan organisasi yang berorientasi pada legalitas kelembagaan.

Selama lebih dari satu dekade berjalan, pasang surut relawan menjadi hal yang lumrah. Sebagian relawan memilih berhenti karena kesibukan masing-masing, sementara yang lain tetap bertahan meneruskan kegiatan berbagi.

“Ada pasang surutnya dan kita tidak memaksa mereka yang tidak lagi berbagi,” ungkapnya.

Meski tidak membuka donasi secara khusus, komunitas ini tetap menerima titipan sedekah dari masyarakat yang ingin ikut berbagi. Kepercayaan publik tumbuh seiring transparansi kegiatan yang rutin dipublikasikan melalui media sosial.

Tidak hanya membagikan nasi bungkus, Sedekaholic Community juga aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial lainnya. Di antaranya bazar pakaian layak pakai, donor darah, pemberian bingkisan kepada guru ngaji dan penjaga makam, sedekah perlengkapan ibadah, hingga pembagian Al-Qur'an.

Komunitas ini juga pernah mengadakan program kacamata gratis bagi siswa sekolah dasar, pemasangan listrik gratis untuk warga kurang mampu, pemberian pakaian baru Lebaran bagi anak yatim piatu, serta program goes to school untuk mengenalkan budaya bersedekah kepada pelajar di Kendal, Cepiring dan Weleri.

“Alhamdulillah selama 11 tahun sudah berjalan ini, tidak pernah libur di hari Jumat kecuali Hari Raya Idul Fitri. Selama Ramadan kegiatan berbagi nasi bungkus kita alihkan dengan buka puasa bersama anak yatim dan pembagian takjil,” tuturnya.

Dalam perjalanannya, Sedekaholic Community juga pernah berkolaborasi dengan gerakan Nasi Jumat (Sijum), menggelar aksi memborong dagangan pedagang kaki lima untuk dibagikan kepada jamaah salat Subuh di Masjid Agung Kendal, hingga menempatkan gerobak sedekah di Masjid Bugangin guna menyediakan makanan bagi jamaah salat Jumat.

Saat ini, kegiatan berbagi nasi bungkus masih aktif dijalankan melalui Pos Kaliwungu, Pos Kota Kendal, Pos Patebon dan Pos Gemuh. Tidak ada target jumlah tertentu yang harus dibagikan. Semua disesuaikan dengan kemampuan relawan di masing-masing wilayah.

Purwanto, relawan Pos Kota Kendal, mengaku awalnya hanya diajak mengikuti kegiatan berbagi di Kaliwungu. Namun pengalaman tersebut membuatnya terdorong membentuk kelompok serupa di Kota Kendal yang hingga kini masih berjalan.

“Awalnya saya diajak untuk ikut berbagi di Kaliwungu, kemudian berani untuk membagikan sendiri di Kota Kendal dan hingga kini masih berjalan,” katanya.

Keberlangsungan Sedekaholic Community selama lebih dari satu dekade tidak lepas dari semangat para relawan yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari ASN, pensiunan, wiraswasta hingga ibu rumah tangga. Dengan sukarela mereka meluangkan waktu, tenaga dan materi untuk memastikan kegiatan berbagi setiap Jumat tetap terlaksana.

Di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan, Sedekaholic Community membuktikan bahwa gerakan kecil yang dimulai dari niat sederhana dapat terus tumbuh dan memberi manfaat bagi sesama. Selama 11 tahun, semangat berbagi itu tetap menyala, menghadirkan harapan melalui sebungkus nasi bagi mereka yang membutuhkan.

 

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut