Mahasiswa dari 4 Negara Belajar Kewirausahaan Inklusif, Bahas Bisnis yang Berdampak Sosial
YOGYAKARTA,iNewsPantura.id – Sebanyak 62 mahasiswa dari Indonesia dan empat negara mengikuti Global Summer Week (GSW) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada 13–24 Juli 2026.
Program internasional ini mengangkat tema “Inclusivity and Innovation in Sustainable Entrepreneurship”, yang menyoroti peran dunia usaha dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi, antara lain University of Canterbury (Selandia Baru), Universiti Brunei Darussalam (Brunei Darussalam), University of Glasgow (Inggris Raya), WU Vienna (Austria), serta sejumlah perguruan tinggi Indonesia seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Mulawarman, Politeknik Negeri Malang, Universitas Negeri Surabaya, dan UGM.
Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA., mengatakan Global Summer Week yang awalnya merupakan kolaborasi dengan WU Vienna kini berkembang menjadi forum pembelajaran internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik dan budaya.
“Tahun ini GSW diikuti 62 peserta, terdiri atas 13 peserta internasional dari Austria, Brunei Darussalam, Selandia Baru, dan Britania Raya, serta 49 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya, Senin (13/7).
Menurut Didi, isu inklusivitas menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan GSW 2026. Selama hampir dua pekan, peserta akan mempelajari berbagai topik yang berkaitan dengan kewirausahaan sosial, pembiayaan berdampak, teknologi asistif, ekonomi yang ramah bagi semua kelompok masyarakat, hingga pengelolaan keberagaman di lingkungan kerja global.
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Peserta juga diajak mengunjungi sejumlah usaha di Yogyakarta yang telah menerapkan praktik bisnis inklusif untuk melihat secara langsung bagaimana konsep keberlanjutan dan pemberdayaan sosial dijalankan dalam dunia usaha.
“Harapannya peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga membangun jejaring internasional dan membawa pulang gagasan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Didi.
Ketua GSW 2026, Dr. Annisa Hayatun Nazmi Burhan, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk mendorong generasi muda menjadi agen perubahan melalui pendekatan bisnis dan kewirausahaan.
Menurutnya, tantangan global seperti kesenjangan sosial, akses ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan solusi yang inovatif dan melibatkan banyak pihak.
“GSW 2026 merefleksikan semangat generasi muda sebagai pemikir, pembangun, dan agen perubahan yang merespons tantangan global melalui perspektif bisnis dan kewirausahaan,” ujarnya.
Selain mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara, program ini juga menjadi ruang pertukaran pengalaman antarbidang ilmu. Salah satu peserta dari ITS, Ghevira, mengaku tertarik mengikuti GSW karena ingin memperluas wawasan sekaligus memahami dunia bisnis yang selama ini tidak menjadi fokus studinya.
“Saya senang sekali bisa mengikuti program ini karena dapat bertemu teman-teman baru, baik dari UGM maupun peserta internasional. Pengalaman seperti ini tentu sangat berharga untuk memperluas relasi dan wawasan saya,” katanya.
Ia berharap berbagai materi yang disampaikan dapat memberikan pemahaman baru mengenai strategi bisnis dan kewirausahaan yang mampu menjawab tantangan sosial di masyarakat.
Program ini juga menarik perhatian akademisi dari luar negeri. Dua observer dari University of Lublin, Polandia, turut hadir untuk mengamati pelaksanaan kegiatan sekaligus mempelajari budaya Indonesia.
Salah satunya, Mateusz Rozwalka, mengatakan keikutsertaannya didorong keinginan untuk memahami bagaimana nilai inklusivitas dan keberlanjutan diterapkan dalam pendidikan tinggi di Indonesia.
“Kami ingin memahami sebanyak mungkin tentang budaya di sini. Budaya Eropa dan Asia sangat berbeda sehingga kami ingin melihat perbedaannya sekaligus mempelajari bagaimana nilai inklusivitas dan keberlanjutan diterapkan dalam program ini,” ujarnya.
Selama 11 hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti kuliah, diskusi, lokakarya, serta pendampingan penyusunan proyek bisnis. Setiap kelompok peserta ditantang mengembangkan gagasan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang nyata.
Di akhir program, ide-ide tersebut akan dipresentasikan dalam bentuk e-poster dan disusun menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) dengan pendampingan para akademisi dan praktisi.
Melalui Global Summer Week 2026, FEB UGM berupaya memperkuat kolaborasi internasional sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu mengembangkan bisnis yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global.
Editor : Eddie Prayitno