get app
inews
Aa Text
Read Next : Menteri PKP Maruarar Sirait Kunjungi KITB, Cek Fasilitas Rusun Berfungsi Dengan Baik

80 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Mbah Suwiyah Akhirnya Dapat Bedah Rumah dari Pemerintah

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:41 WIB
header img
Menteri PKP Maruarar Sirait dan Bupati Batang M. Faiz Kurniawan meninjau rumah Mbah Suwiyah di Desa Bakalan yang akan dibedah melalui Program BSPS 2026. Foto : iNewsPantura.id/ Suryo S

BATANG, iNewsPantura.id – Di usia yang telah menginjak 80 tahun, Suwiyah atau yang akrab disapa Mbah Suwiyah akhirnya bisa tersenyum lega. Warga Desa Bakalan, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, itu tak pernah menyangka rumah sederhana yang selama puluhan tahun ditempatinya kini akan dibangun menjadi rumah yang layak huni.

Kamis (30/7/2026), rumah berdinding sederhana yang berdiri di tengah permukiman Desa Bakalan itu didatangi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama Bupati Batang M. Faiz Kurniawan. Bagi Mbah Suwiyah, kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan pejabat, tetapi menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya.

Selama ini, Mbah Suwiyah tinggal bersama cucunya, Muriah (39), anak dari putra keduanya. Sementara enam anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing.

Kondisi rumah yang ditempatinya jauh dari kata layak. Lantainya masih berupa tanah, belum memiliki kamar mandi, aliran listrik masih menyalur dari rumah tetangga, dan peralatan dapur yang dimiliki sangat minim. Dinding kamar dari anyaman bambu telah rapuh, membuat rumah terasa kurang aman ketika hujan maupun angin kencang.
Hasil verifikasi Kementerian PKP juga menunjukkan rumah tersebut belum memiliki pondasi, sloof, kolom, maupun ring balok. Pencahayaan dan sirkulasi udara belum memenuhi standar rumah sehat sehingga dinilai sudah layak menerima bantuan pemerintah.

Melihat langsung kondisi rumah itu, Menteri PKP Maruarar Sirait memastikan bantuan diberikan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

"Saya sudah melihat langsung kondisi rumah Ibu Suwiyah bersama Pak Bupati dan Kepala Balai Jawa Tengah. Memang benar rumah ini tidak layak huni. Tidak ada pondasi sehingga memang sudah seharusnya mendapat bantuan. Ini tepat sasaran," ujar Maruarar.

Menurut Menteri yang akrab disapa Ara itu, kisah Mbah Suwiyah menjadi bukti masih ada masyarakat yang selama puluhan tahun belum pernah merasakan bantuan perbaikan rumah dari pemerintah.

"Bayangkan, selama 80 tahun Ibu Suwiyah belum pernah mendapatkan bantuan negara untuk memperbaiki rumahnya. Semoga Program Bedah Rumah dari Presiden Prabowo benar-benar bermanfaat bagi Ibu dan keluarga," katanya.

Melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), Mbah Suwiyah menerima bantuan sebesar Rp20 juta ditambah dukungan swadaya masyarakat sebesar Rp2,5 juta. Berdasarkan papan informasi proyek di lokasi, pembangunan rumah dijadwalkan dimulai pada 17 Agustus hingga 17 Oktober 2026 dengan fokus memperkuat struktur bangunan, memperbaiki lantai, dinding, atap, serta menambah ventilasi agar rumah menjadi lebih sehat dan nyaman.

Tak hanya itu, kepedulian juga datang langsung dari Menteri PKP dan Bupati Batang. Maruarar Sirait menyumbangkan dana pribadi sebesar Rp10 juta, sementara Bupati Batang M. Faiz Kurniawan turut memberikan bantuan pribadi sebesar Rp5 juta. Tambahan bantuan tersebut akan digunakan untuk menyempurnakan pembangunan rumah sehingga hasilnya lebih baik dan benar-benar layak dihuni.

Mbah Suwiyah tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Selama puluhan tahun ia hanya bisa pasrah menjalani hidup di rumah yang serba terbatas. Kini, di usia senjanya, ia akhirnya memiliki harapan untuk menikmati tempat tinggal yang lebih aman.

"Saya senang sekali dan bersyukur mendapat bantuan ini. Saya tidak pernah menyangka di usia 80 tahun masih bisa memiliki rumah yang lebih baik. Terima kasih kepada pemerintah, Pak Menteri, Pak Bupati, dan semua yang sudah membantu saya. Semoga Allah membalas semua kebaikannya," tutur Mbah Suwiyah dengan mata berkaca-kaca.
Selama proses pembangunan berlangsung, Mbah Suwiyah akan tinggal sementara di rumah anaknya yang berada tepat di samping rumah lama.

Selain mengunjungi rumah Mbah Suwiyah, Menteri Ara juga meninjau rumah Tresno, seorang buruh dengan penghasilan tidak menentu yang selama 35 tahun belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah.
"Inilah namanya negara hadir. Bantuan harus diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan," tegasnya.

Menteri Ara juga mengingatkan agar pelaksanaan Program BSPS berlangsung secara transparan dan bebas dari praktik pungutan liar.

"Tidak ada pungutan dalam bentuk apa pun. Kalau ada yang meminta uang dengan alasan apa pun, foto, rekam videonya, lalu laporkan. Viralkan jika perlu. Kita harus menjaga uang negara dan tidak boleh ada korupsi," tegasnya.

Pada Tahun Anggaran 2026, Provinsi Jawa Tengah memperoleh alokasi 34.712 unit BSPS, meningkat sekitar 460 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 7.532 unit. Dari jumlah tersebut, 27.288 unit dialokasikan untuk kawasan perdesaan, 2.768 unit untuk kawasan pesisir, dan 2.998 unit untuk wilayah perkotaan. Sementara Kabupaten Batang memperoleh alokasi 825 unit yang tersebar di 14 kecamatan dan 48 desa.

Program BSPS menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kualitas rumah masyarakat berpenghasilan rendah agar memenuhi standar keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan. Bagi Mbah Suwiyah, bantuan itu bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rapuh, tetapi juga mengembalikan harapan bahwa di penghujung usianya, ia masih bisa menikmati hidup di rumah yang kokoh, aman, dan bermartabat.

Editor : Suryo Sukarno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut