get app
inews
Aa Text
Read Next : Bukan Sekadar Tukar Jajanan, Tradisi Weh-Wehan Jadi Perekat Warga Kaliwungu Kendal

Tak Sekadar Jajanan, Ayam Hidup Ramaikan Weh-Wehan di Kaliwungu Kendal

Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:03 WIB
header img
Warga Pandean Lamper membagikan ayam hidup dalam tradisi ketuin. Eddie prayitno/iNews

KENDAL,iNewsPantura.id – Suasana tradisi weh-wehan di Kampung Pandean Lempersari, Desa Krajan Kulon, Kecamatan Kaliwungu, Kendal berlangsung semarak. Bukan hanya jajanan dan makanan yang menjadi barang tukaran, puluhan ayam hidup ikut meramaikan tradisi yang digelar warga setiap tahun tersebut.

Ayam hidup itu disiapkan keluarga Anggota DPRD Kabupaten Kendal Nurul Mujib untuk dibagikan kepada warga dan tetangga. Selain ayam, warga juga mendapatkan berbagai jajanan serta sayuran.

Tradisi weh-wehan sendiri menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu. Warga membawa makanan dari rumah untuk kemudian ditukar dengan makanan milik warga lainnya.

Nurul Mujib mengatakan, kebiasaan tersebut telah berlangsung setiap tahun di Kampung Pandean. Menurut dia, jenis barang yang dibagikan tidak harus berupa makanan tertentu, selama memiliki semangat berbagi dan kebersamaan.

"Yang dibagikan ada jajanan, sayuran dan ayam hidup. Ayam yang kami bagikan ada puluhan," ujarnya.

Pembagian ayam hidup ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak dan remaja yang mengikuti weh-wehan terlihat antusias ketika memperoleh ayam dari hasil pertukaran.

Quin, 17, salah satu remaja Kampung Pandean, mengaku gembira mendapatkan ayam hidup. Ayam tersebut diperolehnya setelah menukarkan ketan yang dibawa dari rumah.

"Ayamnya ayam hidup. Senang banget. Tadi nukar dengan ketan. Iya, ini tradisi setiap tahun," kata Quin.

agi generasi muda seperti Quin, weh-wehan tidak hanya menghadirkan makanan yang bisa dibawa pulang. Tradisi tersebut juga menjadi pengalaman tahunan yang mempertemukan anak-anak, remaja dan warga dalam suasana penuh kegembiraan.

Nurul Mujib berharap tradisi tersebut terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman. Dia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar weh-wehan tidak berhenti hanya sebagai cerita dari generasi sebelumnya.

"Ini tradisi setiap tahun. Kami berharap weh-wehan tetap dijaga dan terus dilestarikan," katanya.

Warga pun memanfaatkan momentum tersebut untuk saling berkunjung. Mereka membawa jajanan, sayuran maupun makanan lain dari rumah untuk ditukar secara sukarela.

Tidak ada aturan khusus mengenai jenis makanan yang harus dibawa. Nilai utama yang dijaga adalah saling berbagi rezeki sekaligus mempererat silaturahmi.

Tradisi sederhana tersebut membuat suasana Kampung Pandean menjadi lebih hidup. Ayam-ayam yang dibawa pulang warga menjadi warna berbeda dalam weh-wehan tahun ini, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan makna kebersamaannya.

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut