get app
inews
Aa Text
Read Next : Adu Banteng Motor di Weleri, Dua Kecelakaan Dini Hari Tewaskan Dua Orang

Santri Camp jadi Wadah Penguatan Karakter Santri Laju Madrasah Budaya Kaliwungu

Sabtu, 03 Januari 2026 | 18:13 WIB
header img
Santri Madrasah Budaya Pungkuran belajar membuat pizza. Eddie prayitno/iNews

KENDAL, iNewsPantura.id – Puluhan anak-anak warga sekitar Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mengikuti Program Santri Camp yang diselenggarakan Madrasah Budaya Pungkuran.

Kegiatan ini secara khusus diperuntukkan bagi santri laju, yakni santri yang menempuh pendidikan pesantren tanpa harus menetap atau menginap.

Selama ini, santri laju hanya datang ke pesantren untuk mengaji dan belajar ilmu agama, kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Namun melalui program Santri Camp yang berlangsung selama tiga hari, para santri diajak merasakan kehidupan santri secara lebih utuh, layaknya santri pondok pesantren yang menetap.

Program Santri Camp dirancang sebagai sarana penguatan karakter dan peningkatan kapasitas diri santri. Tidak hanya fokus pada pembelajaran keagamaan, kegiatan ini juga membekali santri dengan keterampilan hidup, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama.

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah pelatihan memasak, yakni belajar membuat pizza. Didampingi seorang juru masak pizza, para santri tampak antusias mengikuti setiap proses pembuatan, mulai dari menyiapkan adonan, menggunakan tungku pemanas, hingga menata aneka toping sesuai selera.

Bawang bombay, saus pedas manis, sosis, dan bakso menjadi bahan yang dibawa langsung oleh para santri dari rumah.

Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran, Abdul Muis, mengatakan Santri Camp merupakan bagian dari upaya pesantren dalam membentuk santri yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri dan kreatif.

“Santri Camp ini diharapkan dapat memberikan keterampilan dan bekal kepada santri laju agar mereka memiliki karakter, kepribadian, serta kepercayaan diri yang kuat,” ujar Abdul Muis yang akrab disapa Gus Muis.

Menurutnya, kegiatan memasak dipilih sebagai media pembelajaran karakter, di mana santri belajar berkreasi, mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya.

Sementara itu, juru masak pizza Arfi Cahya Fetrianto menjelaskan bahwa seluruh bahan pizza merupakan bawaan santri sendiri. Santri pun diberikan kebebasan untuk menentukan toping sesuai keinginan masing-masing.

“Dengan cara ini, santri dilatih untuk berani menentukan pilihan dan diharapkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Arfi.

Selain pelatihan keterampilan, Santri Camp juga tetap menekankan penguatan ilmu agama. Para santri laju mendapatkan pembelajaran mengaji kitab kuning, tahfidz tematik, fikih ibadah, hingga fikih kontemporer.

Madrasah Budaya Pungkuran juga menyediakan berbagai program pengembangan minat dan bakat, seperti madrasah musik, seni lukis, seni teater, jurnalistik digital, public speaking, serta bahasa Inggris.

Konsep santri laju atau santri kalong sendiri merupakan gagasan pendidikan pesantren yang lebih inklusif.

Dalam bahasa Kaliwungu, “laju” atau “nglaju” berarti pulang atau kembali ke rumah. Konsep ini menegaskan bahwa untuk menjadi santri, anak tidak harus tinggal di pondok.

Melalui program Santri Camp, Madrasah Budaya Pungkuran ingin menegaskan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan agama, adalah hak setiap anak. Karena itu, pesantren diharapkan mampu “menjemput bola” dan hadir secara ramah di tengah masyarakat.

Dengan Santri Camp ini, para santri laju diharapkan tidak hanya mengisi liburan dengan kegiatan positif, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang religius, kreatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

 

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut