get app
inews
Aa Text
Read Next : Tertidur Siang, Warga Purworejo Kaget Dengar Ledakan, Rumah Mendadak Dilalap Api

Inflasi Purwokerto-Cilacap Kembali Naik, Harga Ayam dan Cabai Jadi Biang Kerok

Rabu, 02 September 2026 | 20:41 WIB
header img
Foto : AI ilustrasi suasana pasar tradisional

PURWOKERTO ,iNewsPantura.id – Inflasi di wilayah Banyumas Raya kembali menunjukkan tekanan. Setelah sempat mengalami deflasi pada Juli 2026, harga-harga di Purwokerto dan Cilacap justru kembali meningkat sepanjang Agustus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mencatat inflasi sebesar 0,39 persen secara bulanan (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,15 persen (yoy). Angka ini meningkat cukup signifikan dibanding Juli 2026 yang masih mengalami deflasi 0,05 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,66 persen (yoy).

Kondisi serupa terjadi di Cilacap. Inflasi Agustus tercatat 0,50 persen (mtm) dan secara tahunan mencapai 3,08 persen (yoy). Padahal pada Juli, Cilacap masih mengalami deflasi 0,06 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,44 persen (yoy).

Kenaikan tersebut membuat pengendalian harga di Banyumas Raya kembali mendapat perhatian. Pasalnya, inflasi tahunan di kedua daerah kini berada di atas titik tengah sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen, meski masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan dan komoditas yang sensitif terhadap perubahan permintaan maupun pasokan.

Salah satu penyumbang utama adalah daging ayam ras. Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan pada momentum Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi.

Tekanan harga juga terjadi dari sisi produksi. Meningkatnya biaya produksi peternak akibat kenaikan harga pakan dan day-old chick (DOC) turut memberikan tekanan terhadap harga daging ayam di tingkat konsumen.

“Tekanan inflasi juga bersumber dari komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, buncis, dan kacang panjang, seiring penurunan produksi di beberapa daerah sentra produksi,” demikian disampaikan Aswin Gantina dalam keterangan tertulis Bank Indonesia Purwokerto, Rabu (2/9/2026).

Tak hanya pangan. Emas perhiasan juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi, sejalan dengan meningkatnya permintaan domestik dan tingginya harga emas global.

Namun, tekanan inflasi tersebut masih tertahan oleh turunnya sejumlah komoditas, antara lain bawang merah, bawang putih, bensin, dan telur ayam ras.

PANGAN MASIH MENJADI TITIK RAWAN

Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, sumber tekanan terbesar di Banyumas Raya masih berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.

Di Purwokerto, kelompok tersebut mengalami inflasi 1,12 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,33 persen.

Sementara kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 0,35 persen dengan andil 0,02 persen. Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga juga naik 0,29 persen, dengan andil 0,02 persen.

Di Cilacap, tekanan kelompok pangan bahkan lebih tinggi. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami inflasi 1,32 persen (mtm) dengan andil mencapai 0,42 persen.

Tekanan berikutnya berasal dari kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga yang mengalami inflasi 0,47 persen, serta kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan sebesar 0,28 persen. Masing-masing memberikan andil 0,02 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi Banyumas Raya masih berada dalam koridor sasaran nasional, harga pangan tetap menjadi titik rawan yang perlu diantisipasi. Perubahan produksi di sentra pangan maupun lonjakan permintaan dalam momentum tertentu dapat dengan cepat mendorong harga di tingkat konsumen.

BI DAN PEMDA PERKUAT OPERASI PENGENDALIAN

Aswin Gantina menegaskan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.
Sepanjang Agustus 2026, berbagai program dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di sejumlah wilayah, antara lain Desa Mandirancan, Banjarsari, Langgongsari, Gandatapa, dan Kutaliman.

Selain menjaga keterjangkauan harga, pemerintah juga melakukan pendampingan kepada petani cabai untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan.

Langkah lainnya dilakukan melalui Toko Tani mingguan yang diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi pangan. Koordinasi juga dilakukan secara rutin dengan pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani.

Di sisi komunikasi, TPID memperkuat penyampaian informasi kepada masyarakat melalui media massa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ekspektasi masyarakat sekaligus memastikan publik mengetahui berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

BUKAN SEKADAR MENAHAN HARGA

Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran nasional.

Namun, kenaikan inflasi Agustus menjadi pengingat bahwa menjaga inflasi bukan hanya persoalan menggelar pasar murah ketika harga mulai melonjak.

Produksi pangan, biaya produksi petani dan peternak, rantai distribusi, hingga ketergantungan pada pasokan dari daerah sentra harus menjadi perhatian sejak awal.

Sebab, selama pasokan pangan masih rentan terhadap gangguan produksi dan permintaan musiman, ancaman kenaikan harga akan selalu datang kembali.

Bagi masyarakat, angka inflasi mungkin hanya terlihat sebagai persentase. Tetapi di pasar, angka tersebut diterjemahkan menjadi harga ayam yang lebih mahal, cabai yang semakin pedas di kantong, dan biaya kebutuhan rumah tangga yang ikut meningkat.

Karena itu, tantangan TPID Banyumas Raya ke depan bukan sekadar memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran, tetapi juga memastikan stabilitas harga benar-benar terasa di tingkat masyarakat.

 

Editor : Suryo Sukarno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut