Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sawah Kekurangan Air, DPRD Purworejo Dorong Bendung Bener segera Dimanfaatkan
Advertisement . Scroll to see content

Gobak Sodor hingga Meong-meongan, 38 Permainan Tradisional Ramaikan Edu Expo Al Irsyad

Senin, 07 September 2026 | 06:59 WIB
  • author Saladin Ayyubi
Gobak Sodor hingga Meong-meongan, 38 Permainan Tradisional Ramaikan Edu Expo Al Irsyad
Anak-anak mencoba berbagai permainan tradisional Nusantara dalam Festival Permainan Tradisional 2026 yang digelar dalam rangka Milad ke-112 Al Irsyad Purwokerto. Foto : iNewsPantura.id/ Saladdin A

PURWOKERTO ,iNewsPantura.id — Anak-anak zaman sekarang mungkin lebih akrab dengan gawai dan permainan digital. Namun, suasana berbeda terasa di Sport Center SMP & SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Minggu (6/9/2026). 

Sebanyak 38 permainan tradisional dari berbagai penjuru Nusantara dihadirkan dalam Festival Permainan Tradisional 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto Education Expo (Edu Expo) #3, sekaligus memeriahkan Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah.

Mengusung tema “Melestarikan Budaya, Merajut Kebersamaan”, festival tersebut tidak sekadar menjadi arena bermain. Anak-anak, orang tua, guru, keluarga besar Al Irsyad hingga masyarakat umum diajak mengenal sekaligus memainkan langsung berbagai permainan warisan budaya Indonesia.

Permainan yang dihadirkan cukup beragam, mulai dari Meuen Galah dari Aceh, Margala dari Sumatera Utara, Jamuran dari Jawa Tengah, Gobak Sodor dari Jawa Timur, Meong-meongan dari Bali, hingga permainan tradisional dari wilayah Papua.

Konsep festival dibuat interaktif. Pengunjung mendapatkan “Kartu Misi” yang berisi tantangan untuk mencoba sejumlah permainan tradisional. Mereka yang berhasil menyelesaikan misi berkesempatan memperoleh hadiah.

Koordinator Festival Permainan Tradisional, Basuki Dwi Sulistyo, S.Pd, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat agar anak-anak tidak hanya mendengar cerita mengenai permainan tradisional, tetapi merasakan langsung pengalaman bermain bersama.
Menurutnya, permainan tradisional memiliki nilai pendidikan yang sangat kuat karena mengajarkan anak mengenai kerja sama, sportivitas, keberanian, ketangkasan serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain. 

“Anak-anak bukan hanya diajak bermain, tetapi juga belajar tentang kebersamaan, kerja sama, sportivitas dan karakter melalui permainan tradisional,” kata Basuki, yang juga Wakil Kepala Sekolah SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto.

Ia menambahkan, festival menjadi upaya untuk mempertemukan kembali generasi muda dengan permainan yang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Dewan Syuro PP Al Irsyad Al Islamiyyah, Syarif Ba'asyir, menilai pelestarian budaya merupakan bagian penting dari pendidikan generasi muda.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membangun kemampuan akademik. Anak juga perlu mendapatkan pengalaman sosial dan budaya agar tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter serta memahami lingkungan dan akar budayanya.

“Permainan tradisional mengajarkan anak untuk berinteraksi, bekerja sama dan menghargai orang lain. Nilai-nilai seperti itu sangat penting dalam membentuk karakter,” ujarnya.

Pendidikan Tak Hanya Soal Akademik
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, ST, yang hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut, mengapresiasi penyelenggaraan festival permainan tradisional.

Menurut Widodo, pelestarian permainan tradisional memiliki nilai strategis karena menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya kepada anak-anak melalui pengalaman yang menyenangkan.
Ia menilai permainan tradisional juga dapat menjadi media pembelajaran di luar ruang kelas.

“Anak-anak belajar banyak hal melalui permainan. Ada kerja sama, kedisiplinan, sportivitas, aktivitas fisik dan interaksi sosial. Ini menjadi bagian dari pendidikan karakter,” ujar Widodo.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kadindik Banyumas bersama tamu undangan juga dijadwalkan meninjau langsung sejumlah arena permainan tradisional.

Festival ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan dapat dikemas secara kreatif dengan menggabungkan unsur budaya, aktivitas fisik, rekreasi dan pembentukan karakter.

Ketua Panitia Edu Expo dan Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto 2026 sekaligus Kabid Humas Pendidikan PC Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Imalia Din Indriasih, S.Sos, mengatakan Festival Permainan Tradisional menjadi salah satu agenda yang sengaja dirancang untuk melibatkan berbagai unsur masyarakat.

“Kami ingin festival ini menjadi ruang bersama. Tidak hanya untuk peserta didik, tetapi juga guru, orang tua, keluarga besar Al Irsyad dan masyarakat umum,” kata Imalia.

Ia berharap kehadiran 38 permainan tradisional tersebut dapat membangkitkan kembali ketertarikan generasi muda terhadap permainan warisan Nusantara.

Menurutnya, permainan tradisional mempunyai keunggulan karena anak-anak dapat bergerak aktif sekaligus berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya.

Dari Permainan Menjadi Pendidikan Karakter
Sekretaris Umum PC Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Al Irsyad Al Islamiyyah Jawa Tengah, Drs. Supardan, M.M, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Al Irsyad dalam menghadirkan pendidikan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.

“Pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik. Ada karakter, kesehatan, kemampuan bersosialisasi, budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang juga harus dibangun,” ungkap Supardan.

Ia menilai permainan tradisional mempunyai filosofi yang kuat karena hampir seluruh permainan membutuhkan interaksi dan keterlibatan orang lain.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, menurutnya, ruang bermain bersama secara langsung justru semakin penting. 

Festival Permainan Tradisional 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian ceremonial Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Agenda pembukaan berlangsung pukul 08.00–09.00 WIB, dilanjutkan peninjauan festival oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas bersama para tamu undangan serta press conference.

Melalui kegiatan tersebut, Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto ingin menunjukkan bahwa permainan tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Di balik permainan yang tampak sederhana, tersimpan nilai pendidikan tentang kebersamaan, gotong royong, keberanian, sportivitas, ketangkasan dan penghargaan terhadap orang lain.

Festival ini akhirnya menjadi pesan sederhana namun penting: ketika dunia anak semakin dipenuhi layar digital, sesekali mereka perlu kembali berlari di tanah lapang, tertawa bersama teman, dan belajar bahwa permainan terbaik kadang tidak membutuhkan baterai maupun jaringan internet.

Karena melestarikan permainan tradisional bukan hanya menjaga cara bermain masa lalu, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang akan dibawa anak-anak menuju masa depan.

 

Editor: Suryo Sukarno

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut