Peneliti Unsoed Purwokerto Belajar Deteksi Mikroplastik Laut di Cina
BANYUMAS, iNewsPantura.id– Sampah plastik di laut tak selalu tampak mengapung di permukaan. Sebagian telah berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil atau mikroplastik yang dapat masuk dan terakumulasi dalam organisme laut.
Persoalan tersebut mendorong Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memperkuat kemampuan riset untuk mendeteksi sekaligus memahami dampak mikroplastik. Salah satunya melalui keikutsertaan peneliti Unsoed dalam pelatihan internasional di Qingdao, Cina.
Peneliti Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Unsoed, Dr. Dyahruri Sanjayasari, M.Si., mengikuti Training Course on Marine Microplastic Analysis and Bio-Indicator yang berlangsung pada 14–18 September 2026.
Pelatihan tersebut digelar The First Institute of Oceanography (FIO), Ministry of Natural Resources (MNR) Cina. Kegiatan mempertemukan sedikitnya 10 peneliti dan ahli kelautan dari Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Bangladesh, Thailand, Filipina, dan Cina.
Selama lima hari, peserta tidak hanya mendapat materi teori. Mereka juga berlatih secara langsung proses ekstraksi, identifikasi, hingga analisis mikroplastik dari sampel biota laut.
Dua teknologi analisis menjadi bagian penting dalam pelatihan, yakni micro-Fourier Transform Infrared Spectroscopy (micro-FTIR) dan micro-Raman. Keduanya digunakan untuk membantu mengidentifikasi partikel mikroplastik secara lebih terukur.
Riset juga tidak berhenti pada keberadaan partikel plastik. Peserta mempelajari keterkaitan mikroplastik dengan biota laut, termasuk kekerangan yang dapat digunakan sebagai bio-indicator.
Melalui bio-indicator, keberadaan mikroplastik dalam organisme dapat dipelajari untuk melihat pola akumulasi sekaligus membantu memahami potensi dampaknya terhadap ekosistem laut.
Kepala Pusat Riset Biodiversitas dan Maritim Unsoed, Dr.rer.nat. Riyanti, M.Biotech., mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kapasitas peneliti.
Keikutsertaan Unsoed dalam pelatihan ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kapasitas peneliti dalam menganalisis mikroplastik. Pengetahuan dan metode yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian di Indonesia serta membuka peluang kolaborasi riset dengan institusi internasional,” katanya.
Sementara itu, Dyahruri mengatakan pengalaman di Qingdao memberinya pemahaman langsung mengenai metode analisis mikroplastik yang lebih terstandar.
“Pelatihan ini memberikan pengalaman dan wawasan mengenai metode analisis mikroplastik yang lebih terstandar, termasuk penggunaan instrumen untuk identifikasi mikroplastik dan pemanfaatan biota sebagai bio-indikator. Pengetahuan tersebut akan menjadi bekal penting untuk pengembangan penelitian mikroplastik di Unsoed,” ujarnya.
Bagi Unsoed, hasil pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan individu peneliti. Pengetahuan yang diperoleh ditargetkan dapat diterapkan dalam pengembangan penelitian mikroplastik di Indonesia.
Selain itu, jejaring yang terbentuk dengan peneliti dari berbagai negara membuka peluang kerja sama untuk menghasilkan data yang dapat dibandingkan secara regional maupun global.
Langkah tersebut dinilai penting karena persoalan mikroplastik tidak mengenal batas wilayah. Ketika partikel plastik berukuran sangat kecil masuk ke laut dan berpotensi terakumulasi dalam organisme, kemampuan mendeteksi serta memahami jejaknya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut Indonesia.
Editor: Eddie Prayitno