Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Anak Muda Diajak Melihat Pertanian dari Sudut Pandang Baru
PURWOREJO,iNewsPantura.id — Regenerasi petani menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan komunitas pertanian yang digelar di Pendopo Khasnu, Desa Sambeng, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Sabtu malam (26/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai kondisi pertanian sekaligus membahas tantangan keberlanjutan profesi petani di tengah semakin berkurangnya minat generasi muda untuk meneruskan pekerjaan orang tua.
Sejumlah peserta menilai, keinginan anak muda untuk bekerja di sektor lain serta anggapan bahwa bertani kurang menjanjikan menjadi tantangan dalam regenerasi petani.
Kegiatan diawali tausiah Ustaz Ali yang mengaitkan kehidupan petani dengan hubungan manusia terhadap bumi. Menurutnya, petani memiliki peran penting karena tetap menanam dan merawat lahan meski hasil yang diperoleh tidak selalu sesuai harapan.
"Orang yang paling cinta terhadap bumi adalah petani. Menanam terus-menerus, baik ada hasil maupun tidak, tetap menanam."
Pesan tersebut kemudian menjadi pengantar diskusi mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan pertanian dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Moderator Muhammad Musyafa mengatakan, perubahan zaman turut mengubah cara pandang terhadap profesi petani. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang dahulu berharap anak-anaknya memiliki pekerjaan di luar sektor pertanian.
Namun, perkembangan teknologi dinilai membuka ruang baru bagi generasi muda untuk terlibat dalam pertanian. Pembicara dari Dwi Hore Farm mencontohkan pemanfaatan media sosial untuk edukasi pertanian, membangun jejaring petani, sekaligus membantu mengenalkan dan memasarkan produk.
Menurutnya, bertani tidak harus dimaknai sebatas aktivitas di sawah. Anak muda dapat terlibat melalui edukasi digital, pengolahan hasil pertanian, pemasaran hingga pengembangan produk.
Pengalaman serupa disampaikan Gusbi, cucu petani yang kini menekuni komoditas kopi. Ia berbagi mengenai budidaya kopi sekaligus pentingnya memahami kualitas, pengolahan, dan kebutuhan pasar agar komoditas pertanian memiliki nilai tambah.
Sementara itu, Anton, warga Bener, Purworejo, memilih kembali ke pertanian setelah sebelumnya bekerja di sebuah pabrik di Jakarta. Selama merantau, ia mengaku banyak mencari pengetahuan yang kemudian diterapkan ketika kembali ke kampung halaman.
Ia kini mencoba mengembangkan berbagai komoditas. Ketika tanaman padi mengalami kegagalan akibat serangan tikus, Anton mencoba beralih menanam bawang merah.
Kisah lain datang dari Latif Nurhidayatulloh yang mengembangkan potensi melinjo menjadi emping. Menurutnya, pohon melinjo di sejumlah wilayah mulai banyak ditebangi, padahal buahnya masih memiliki potensi ekonomi.
Latif tidak hanya melihat melinjo sebagai bahan baku, tetapi juga peluang untuk menghasilkan produk olahan dengan pasar yang lebih luas. Ia bahkan memiliki rencana membawa emping melinjo Purworejo menembus pasar internasional.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani tidak selalu berarti anak muda harus menjalani profesi petani secara konvensional. Keterlibatan generasi muda dapat dilakukan melalui budidaya, teknologi, pengolahan hasil, pemasaran, hingga pengembangan pasar.
Pertemuan komunitas pertanian itu pun menegaskan bahwa keberlanjutan sektor pertanian membutuhkan keterlibatan generasi berikutnya. Yang diwariskan bukan hanya lahan, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan mengembangkan potensi pertanian sesuai perubahan zaman.
Editor: Eddie Prayitno