Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Piala Sri Murtono Bukan Sekadar Lomba, Ada Misi Regenerasi Teater
Advertisement . Scroll to see content

Pesta Panen Pasar Gili Purwosari Kendal Hidupkan Tradisi Jual Beli Pakai Gabah

Minggu, 27 September 2026 | 19:41 WIB
  • author Eddhie Prayitno
Pesta Panen Pasar Gili Purwosari Kendal Hidupkan Tradisi Jual Beli Pakai Gabah
Permainan tradisional kitiran ikut meramaikan Pesta Panen Pasar Gili 2026. dokumen

KENDAL, iNewsPanntura.id - Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, kembali menggelar Pesta Panen Pasar Gili 2026. Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, pesta rakyat tersebut tidak sekadar menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang mulai hilang.

Salah satu tradisi yang diangkat adalah loning atau irup, yakni aktivitas jual beli dengan menggunakan gabah sebagai alat transaksi.

Ketua Panitia Pesta Panen 2026, Any Ismafarida, mengatakan kegiatan tersebut rutin digelar setiap selesai panen musim kemarau, biasanya pada September atau Oktober.

“Biasanya kami gelar September atau Oktober setelah petani menyelesaikan panen raya. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kelima sejak tradisi ini diadakan setelah pandemi Covid-19,” kata Any, Minggu 27 september 2026.

Konsep Pesta Panen Pasar Gili juga lahir dari kondisi Desa Purwosari yang tidak memiliki lapangan cukup luas untuk menggelar kegiatan masyarakat.

Sebagai gantinya, jalan desa sepanjang sekitar 500 meter yang membelah kawasan persawahan disulap menjadi arena pesta rakyat.

Jalan tersebut sebelumnya memang telah digunakan sebagai lokasi pasar UMKM setiap Minggu pagi. Karena berada di tengah area persawahan dan menyerupai jalan gili, lokasi itu kemudian dikenal sebagai Pasar Gili.

“Karena setiap Minggu pagi jalan sepanjang 500 meter ini juga dijadikan pasar UMKM, maka jalan ini akhirnya disebut sebagai Pasar Gili,” jelas Any.

Pesta Panen Pasar Gili 2026 semakin meriah dengan berbagai perlombaan yang melibatkan warga dari berbagai kelompok usia. Mulai dari karaoke, layang-layang, kitiran, memancing, gogoh iwak hingga lomba mewarnai untuk anak-anak.

Di antara berbagai kegiatan tersebut, lomba kitiran menjadi salah satu yang paling khas.

Permainan tradisional yang dahulu mudah ditemui di pinggir sawah itu kini semakin jarang dimainkan. Karena itu, panitia sengaja mengangkatnya kembali sebagai bagian dari Pesta Panen.

“Yang unik itu lomba kitiran. Sekarang sudah jarang orang memasang kitiran di pinggir sawah atau jalan. Makanya ini kami angkat kembali agar tradisi ini juga hidup kembali, dan kami padu dengan lomba layang-layang untuk memberikan ruang kreativitas kepada anak-anak,” ujarnya.

Any mengatakan berbagai kegiatan tersebut sengaja dipertahankan dari tahun ke tahun. Pesta Panen diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang pertemuan antara tradisi, hiburan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pasar Gili juga memberikan dampak bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Para pedagang mengaku memperoleh omzet lebih besar ketika pasar digelar dibandingkan hari-hari biasa.

“Apalagi pada momen Pesta Panen seperti ini, keuntungan mereka bisa naik beberapa kali lipat. Makanya mereka selalu meminta agar momen tahunan ini selalu digelar,” katanya.

Kepala Desa Purwosari Akhmad Nur Wakhid mengatakan, aktivitas Pasar Gili setiap pekan melibatkan sekitar 70 hingga 80 UMKM. Sebagian besar merupakan usaha rumahan milik warga, termasuk kelompok usaha yang dikelola ibu-ibu.

Menurutnya, keberadaan Pasar Gili mampu menggerakkan ekonomi warga secara rutin, bukan hanya ketika Pesta Panen berlangsung.

“Jadi tidak hanya pada saat Pesta Panen saja, pasar ini terus berjalan rutin setiap pekan, tepatnya setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.00 sampai 08.00,” kata Wakhid.

Dari sisi pertanian, Wakhid menyebut hasil panen masyarakat tahun ini cukup baik meski petani menghadapi musim kemarau yang panjang.

Produktivitas panen disebut masih berada pada level standar. Namun, kondisi tersebut sedikit tertolong oleh harga gabah yang mengalami kenaikan.

Jika sebelumnya harga gabah berada di kisaran Rp700 ribu per kuintal, pada musim panen kali ini harganya telah menembus lebih dari Rp800 ribu per kuintal.

“Produksinya standar, tetapi harganya naik cukup tinggi. Sekarang lebih dari Rp800 ribu,” ujarnya.

Kenaikan harga gabah tersebut turut menambah semarak Pesta Panen Pasar Gili. Bagi masyarakat Purwosari, kegiatan tahunan itu kini bukan hanya menjadi momentum untuk mensyukuri hasil bumi, tetapi sekaligus cara menjaga tradisi dan membuka ruang ekonomi bagi warga.

“Kami berharap pesta rakyat ini tidak hanya menjadi bentuk syukur atas hasil bumi, tetapi sekaligus menjadi upaya menjaga warisan budaya dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat desa kami,” kata Wakhid.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut