Aksi Tolak PLTP Gunung Ungaran, 200 Banner Dipasang dari Cangkiran hingga Medini
KENDAL,iNewsPantura.id – Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran kembali menguat. Aksi yang semula hanya diikuti puluhan orang berkembang menjadi lebih dari 100 peserta saat massa tiba di kawasan Medini, Minggu (4/10/2026).
Aksi tersebut digelar Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo Korwil Kendal. Para peserta melakukan konvoi dari Cangkiran menuju Pos II Desa Margosari hingga lereng Gunung Ungaran di Medini.
Sepanjang jalur tersebut, sekitar 200 banner penolakan dipasang. Banner menjadi penanda sikap massa yang menolak rencana pengeboran Gunung Ungaran untuk kepentingan proyek geothermal.
Koordinator Wilayah Kendal Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo, Sri Joko Triyono, mengatakan pemasangan ratusan banner merupakan cara untuk menyampaikan pesan penolakan secara terbuka kepada masyarakat.
“Kami memasang sekitar 200 banner dari Cangkiran sampai Medini. Isinya penolakan terhadap proyek geothermal Gunung Ungaran, sekaligus dampak negatif yang kami khawatirkan,” ujarnya.
Menurut Joko, penolakan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap keberlangsungan kawasan Gunung Ungaran yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Gunung Ungaran, kata dia, memiliki sumber air dan kawasan pertanian yang menopang kehidupan warga di lereng gunung. Hasil pertanian dari kawasan tersebut juga dipasarkan hingga sejumlah daerah, mulai dari Bandungan, Sumowono, Boja, Limbangan, Kaliwungu hingga Kota Semarang.
“Gunung kita sudah cukup memberikan sumber kehidupan untuk warga di lereng Gunung Ungaran. Pasar-pasar di sekitarnya juga banyak dihidupi dari sumber pertanian gunung ini,” katanya.
Untuk memperkuat pesan tersebut, peserta aksi membawa gunungan sayur dalam perjalanan menuju Medini. Gunungan itu menjadi simbol ketergantungan masyarakat terhadap hasil bumi Gunung Ungaran.
Setibanya di Medini, massa menggelar doa bersama dan tumpengan. Mereka juga menyampaikan orasi mengenai kekhawatiran terhadap rencana pengeboran untuk pengembangan geothermal.
Joko juga mempertanyakan urgensi pembangunan pembangkit panas bumi di kawasan tersebut. Menurutnya, kondisi kelistrikan di Pulau Jawa perlu menjadi pertimbangan sebelum melakukan pengeboran kawasan Gunung Ungaran.
“Di Jawa ini kan sudah surplus listrik. Kenapa harus mengotak-atik Gunung Ungaran?” ujarnya.
Aliansi juga mengusulkan kawasan Bendung Bodri di Kecamatan Singorojo sebagai salah satu alternatif pengembangan energi. Menurut Joko, kawasan tersebut dapat dikaji untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air sekaligus mendukung pengendalian banjir Sungai Bodri.
“Kami menganggap ini proyek yang terlalu dipaksakan,” tegasnya.
Aksi yang dimulai dengan sekitar 36 sukarelawan itu kemudian berkembang. Jumlah peserta disebut meningkat menjadi lebih dari 100 orang ketika rombongan sampai di Medini.
Joko menegaskan, aksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penolakan tidak hanya berkaitan dengan proyek energi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat di sekitar Gunung Ungaran.
“Sebab, selama ini mereka semua menggantungkan kehidupan pada kawasan Gunung Ungaran yang telah memberikan sumber kehidupan bagi mereka dan masyarakat lain di wilayah bawah, seperti Kendal, Ungaran, dan Kota Semarang,” tandasnya.
Editor: Eddie Prayitno