Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Gita Bahana Spensa Bidik Juara Lagi, Bupati Purworejo Beri Dukungan
Advertisement . Scroll to see content

Dari Depresi Menjadi Karya, Penyintas Kesehatan Mental Temukan Jalan untuk Bangkit

Senin, 02 November 2026 | 10:47 WIB
  • author Saladin Ayyubi
Dari Depresi Menjadi Karya, Penyintas Kesehatan Mental Temukan Jalan untuk Bangkit
Penyitas kesehatan mental menunjukan karyanya. dokumen

BANYUMAS,iNewsPantura.id – Pengalaman menghadapi depresi dan berbagai persoalan kesehatan mental tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan seseorang.

Dengan pendampingan, proses pemulihan, serta keberanian mengekspresikan diri, para penyintas tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Hal itu tergambar dari perjalanan Ribka ImaRi. Pengalaman menghadapi berbagai gangguan kesehatan mental justru menjadi sumber inspirasi baginya untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menjadi ruang ekspresi pribadi, tetapi juga diharapkan mampu menguatkan orang lain.

Hingga kini, Ribka mengaku telah menerbitkan sekitar 52 buku. Sebagian besar merupakan buku antologi yang mengangkat kisah nyata atau based on true story, termasuk perjalanan hidupnya sebagai penyintas depresi dan persoalan kesehatan mental.

"Saya pernah mengalami depresi, bipolar, borderline personality disorder, OCD, dan hampir delapan gangguan kesehatan mental yang pernah saya jalani. Namun, sekarang saya sudah hampir pulih," ungkap Ribka.

Bagi Ribka, menulis menjadi salah satu cara untuk memahami diri sendiri sekaligus mengolah pengalaman sulit menjadi sesuatu yang memiliki makna. Pengalaman sebagai penyintas tidak harus terus disembunyikan karena rasa malu atau stigma masyarakat. Sebaliknya, kisah tersebut dapat disampaikan melalui karya untuk memberikan semangat kepada orang lain yang menghadapi persoalan serupa.

Perjalanan Ribka juga berkembang dari proses pemulihan pribadi menjadi kepedulian terhadap sesama. Sejak 2018, dia mulai aktif mendampingi orang-orang yang mengalami persoalan kesehatan mental. Dari aktivitas tersebut, Ribka mengaku telah mendampingi hampir 800 klien.

Dia juga dipercaya menjadi mentor bagi para mentor penyintas depresi di berbagai daerah, mulai dari Sabang hingga Merauke, bahkan menjangkau komunitas di luar negeri.

Pengalaman melewati masa sulit membuat Ribka memahami bahwa setiap orang memiliki persoalan dan proses pemulihan yang berbeda. Karena itu, dia ingin mendorong para penyintas agar tidak kehilangan harapan untuk kembali menjalani kehidupan, mengembangkan potensi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Kisah serupa juga ditunjukkan Assalova. Penyintas depresi tersebut menemukan ruang untuk mengekspresikan perasaan melalui musik. Sedikitnya 25 lagu ciptaannya telah dirilis dan dapat dinikmati melalui platform Spotify. Sementara lebih dari 50 lagu lainnya masih menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya.

"Musik bisa menjadi media bagi kita untuk mengekspresikan diri. Ini juga menjadi wadah untuk menyalurkan apa yang kita rasakan dan alami," kata Assalova.

Assalova mengaku mengalami depresi ketika mengerjakan tesis. Namun, dia berhasil melewati masa sulit tersebut. Salah satu hal yang membantunya adalah belajar mengelola ekspektasi dan mengenali kebutuhan diri sendiri.

Kini, Assalova telah kembali menjalani aktivitas secara normal. Bahkan, dia bekerja sebagai dosen kesenian di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto.

Kisah Ribka dan Assalova bukan satu-satunya gambaran keberhasilan pemulihan. Sejumlah penyintas lain yang mendapatkan pendampingan di RSUD Banyumas juga telah pulih dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka bahkan mampu berkarya serta menjalani kehidupan secara mandiri.

Pengalaman para penyintas tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian serius. Stigma dan rasa malu dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk bercerita maupun mencari bantuan. Padahal, dukungan dari lingkungan dan pendampingan yang tepat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Menjadi penyintas bukan berarti kehilangan masa depan. Pengalaman sulit dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kemudian diolah menjadi kekuatan untuk berkarya dan membantu orang lain.

Dari buku hingga musik, Ribka dan Assalova membuktikan bahwa ekspresi kreatif dapat menjadi salah satu jalan untuk menyampaikan pengalaman dan menemukan makna baru. Mereka bukan hanya kembali menata kehidupan, tetapi juga menghadirkan karya yang dapat menjadi pengingat bahwa harapan untuk bangkit selalu terbuka.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut