Belajar dari Bencana Januari, Unsoed Pasang Alarm Peringatan Dini di Desa Serang
PURBALINGGA,iNewsPantura.id – Trauma bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, pada Januari 2026 menjadi perhatian serius Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Unsoed memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir di desa tersebut.
Perangkat dipasang ini diharapkan menjadi sistem pengaman bagi warga, terutama ketika hujan deras berpotensi memicu banjir bandang maupun tanah longsor. Dengan adanya peringatan lebih awal, masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah penyelamatan sebelum bencana terjadi.
Pemasangan EWS bukan sekadar menghadirkan teknologi di wilayah rawan bencana. Unsoed juga ingin membangun kesiapsiagaan masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Village Tangguh Bencana yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed melalui skema Smart Village.
Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., mengatakan, pemasangan perangkat tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan terhadap masyarakat Desa Serang setelah bencana awal tahun lalu.
Saat masa tanggap darurat, Unsoed telah memberikan bantuan berupa pelayanan kesehatan, logistik hingga kebutuhan sanitasi. Kini, pendampingan dilanjutkan dengan menghadirkan teknologi dan pengetahuan akademik untuk memperkuat upaya mitigasi.
"Kami mencoba memberikan kontribusi dari sisi akademisi maupun teknologi, tidak hanya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga untuk mitigasi," ujarnya.
EWS tersebut bekerja dengan memantau curah hujan sebagai salah satu indikator potensi banjir dan tanah longsor. Ketika hasil pengukuran mencapai ambang batas yang telah ditentukan, sistem akan mengaktifkan alarm sebagai peringatan kepada masyarakat sekitar.
Untuk menjaga keberlangsungan operasional, perangkat juga dilengkapi panel surya. Sumber energi alternatif ini disiapkan agar alat tetap dapat berfungsi ketika terjadi gangguan pasokan listrik dari PLN.
Perangkat dipasang di Dusun III atau Kaliurip, Desa Serang. Lokasi tersebut merupakan pusat aktivitas komunitas Pemuda Tangguh Bencana sekaligus dipilih dengan mempertimbangkan riwayat dampak bencana serta kemudahan pemantauan dan pengamanan alat.
Pemasangan dipimpin Dyah Susanti bersama Dr. Zaroh Irayani, S.Si., M.Si., dari Divisi Kajian Ilmiah dan dua mahasiswa Unsoed. Kegiatan itu juga melibatkan masyarakat, mulai dari ketua RT, kelompok tani hingga komunitas Pemuda Tangguh Bencana. Bahkan, warga telah menyiapkan dudukan instalasi sebelum tim kampus datang.
Saat ini, perangkat masih menjalani uji coba selama satu minggu untuk memastikan sistem bekerja optimal sesuai kondisi lapangan. Pengujian juga mencakup jangkauan suara alarm, terutama ketika hujan deras disertai petir.
Setelah masa uji coba, Unsoed akan melakukan evaluasi bersama masyarakat. Anggota Pemuda Tangguh Bencana dan perangkat desa selanjutnya mendapat pelatihan mengenai mekanisme kerja alat, prosedur penggunaan serta koordinasi ketika alarm berbunyi.
Pengelolaan perangkat nantinya direncanakan diserahkan kepada pemerintah desa. Meski demikian, Unsoed tetap membuka kesempatan untuk melakukan pendampingan dan pemantauan secara berkala.
Dyah berharap keberadaan sistem peringatan dini tersebut dapat meningkatkan rasa aman masyarakat sekaligus mengurangi kepanikan ketika muncul potensi bencana.
"Harapannya, dengan adanya alat ini nantinya warga tidak terlalu panik, tetapi tetap bersiaga," tuturnya.
Ia menegaskan, keberadaan teknologi tidak bisa menggantikan kesiapsiagaan masyarakat. Warga tetap perlu memahami tanda-tanda alam, mengetahui prosedur penyelamatan diri serta menyiapkan jalur evakuasi yang aman.
Selain itu, upaya mitigasi juga harus dibarengi dengan menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan hulu dan lereng. Perlindungan pohon-pohon besar serta penanaman tanaman konservasi dan tanaman produktif dinilai penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Melalui program Smart Village Tangguh Bencana, Unsoed berharap Desa Serang tidak hanya memiliki perangkat peringatan dini, tetapi juga masyarakat yang lebih siap menghadapi ancaman bencana. Pengalaman banjir bandang dan tanah longsor pada awal tahun menjadi pelajaran penting bahwa pencegahan dan kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum bencana kembali terjadi.
Editor: Eddie Prayitno