Manfaatkan Sisa Makanan MBG, MTsN Kabupaten Semarang Budidayakan Maggot hingga Produksi Energi Alter
SEMARANG – MTsN Kabupaten Semarang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi sumber manfaat ekonomi dan energi melalui berbagai inovasi berbasis lingkungan.
Madrasah berasrama ini memanfaatkan sisa makanan dari dapur asrama dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk budidaya maggot, sekaligus mengolah limbah lain menjadi biogas, bioetanol, dan biofuel.
Program tersebut merupakan implementasi konsep Ecotheology yang mengintegrasikan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan, sejalan dengan program Asta Cita
Kementerian Agama.
Budidaya maggot bermula dari penelitian siswa untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Kini, inovasi tersebut berkembang menjadi unit produksi mandiri yang mampu mengolah sampah organik setiap hari.
Sisa makanan dari dapur asrama dan MBG dimanfaatkan sebagai pakan larva Black Soldier Fly (BSF). Hasilnya, MTsN Kabupaten Semarang rutin memproduksi maggot basah untuk pakan ternak dan perikanan serta maggot kering yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Tak hanya itu, madrasah juga mengolah sampah plastik melalui proses pirolisis menjadi bahan bakar alternatif. Sementara limbah tinja dari asrama dimanfaatkan menjadi biogas yang digunakan untuk kebutuhan dapur pesantren.
Minyak jelantah sisa penggorengan juga tidak terbuang percuma. Melalui proses pengolahan sederhana, limbah tersebut diubah menjadi biofuel yang dapat dimanfaatkan kembali.
Kepala MTsN Kabupaten Semarang, Muh Muslimin, mengatakan seluruh program tersebut bertujuan membentuk karakter siswa agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
"Kami ingin siswa memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Status Madrasah Adiwiyata bukan sekadar penghargaan, tetapi budaya hidup yang harus dijalankan setiap hari," ujarnya saat peluncuran Podcast MTsN Semarang.
Menurut Muslimin, podcast yang baru diluncurkan itu menjadi sarana syiar digital untuk menyebarluaskan praktik baik pengelolaan lingkungan kepada sekolah dan madrasah lainnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, H. Ta'yinul Birri Bagus Nugroho, mengapresiasi inovasi yang dilakukan MTsN Kabupaten Semarang.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi contoh nyata implementasi Ecotheology yang mengintegrasikan kesalehan ritual dengan kepedulian sosial dan lingkungan.
"MTsN Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi persoalan lingkungan. Ini adalah wujud nyata Asta Cita Kementerian Agama," katanya.
Inovasi pengelolaan sampah terpadu yang dijalankan MTsN Semarang diharapkan dapat menjadi model bagi sekolah dan madrasah lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, mandiri energi, dan bernilai ekonomi.
Editor : Suryo Sukarno
