KENDAL,iNewsPantura.id – Tradisi Merti Desa kembali digelar masyarakat Desa Magersari sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan. Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan ini berlangsung meriah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh desa, pemuda, hingga anak-anak.
Puncak peringatan Merti Desa yang bertepatan dengan Khaul ke-42 Mbah Wali Hasan Abu Hamid dilaksanakan di kawasan makam tokoh tersebut, Jumat (10/7/2026). Acara diisi dengan pengajian yang menghadirkan KH Dr Sabilal Rosyad M.Si dari Pekalongan serta penyaluran santunan kepada 24 anak yatim piatu.
Kepala Desa Magersari, Muhyidin, mengatakan Merti Desa merupakan tradisi turun-temurun yang terus dijaga masyarakat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus ikhtiar memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga.
"Setiap tahun kegiatan ini kami laksanakan sebagai ungkapan syukur atas nikmat dan keberkahan yang diberikan kepada masyarakat Desa Magersari. Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarwarga," ujarnya.
Sebelum puncak acara, masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan berupa majelis zikir dan selawat bersama Al Khidmah. Selanjutnya digelar kirab budaya yang dimulai dari Masjid Al Muttaqin, mengelilingi sejumlah ruas desa, kemudian berakhir di Makam Mbah Wali Hasan Abu Hamid untuk doa bersama.
Dalam kirab tersebut, warga membawa berbagai hasil bumi, aneka makanan, minuman, dan tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Setelah doa bersama, seluruh hidangan dinikmati secara bersama-sama sebagai wujud kebersamaan dan semangat berbagi.
Kirab budaya juga menampilkan beragam kesenian tradisional yang diikuti masyarakat lintas generasi. Barisan kirab dipimpin para tokoh masyarakat, kepala desa, serta tokoh Punokawan. Di bagian paling depan, seorang tokoh membawa sapu sambil menyapu jalan yang dilalui rombongan.
Menurut Muhyidin, prosesi tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam, yakni sebagai simbol membersihkan desa dari berbagai mara bahaya, musibah, maupun hal-hal buruk agar kehidupan masyarakat senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan.
"Harapan kami melalui Merti Desa dan Khaul Mbah Wali Hasan Abu Hamid ke-42 ini, Desa Magersari semakin maju, masyarakat semakin sejahtera, serta semangat gotong royong dan persatuan terus terjaga," katanya.
Sejumlah warga mengaku bangga tradisi Merti Desa masih terus dilestarikan. Selain menjadi warisan budaya leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat. Tradisi makan bersama setelah doa menjadi simbol kuatnya rasa kekeluargaan yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan warga Desa Magersari.
Melalui pelestarian Merti Desa, masyarakat Magersari tidak hanya menjaga tradisi warisan leluhur, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah desa kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
